
Pertempuran hari kedua dalam perang Bharatayuda yang terjadi hari ini, menyisakan duka mendalam pada diri Prabu Daryudana. Bagaimana tidak, wadyabala Kurawa harus tercerai berai. Banyak diantara mereka yang harus meregang nyawa. Tidak sedikit dari mereka yang menderita luka baik ringan maupun berat. Terlebih lagi, diantara mereka bahkan banyak yang kehilangan semangat bertanding.
Jika saja hari itu tidak terhalang oleh datangnya malam, mungkin Kurawa sudah tidak berdaya oleh amukan para satriya Pandawa.
Ditengah kekalutan hatinya, Daryudana mengumpulkan para senapati dan pujangga perang Kurawa untuk membahas kekalahan mereka hari ini.
Pada saat itu, Sang Maharesi Bisma juga sudah berada di tengah tengah mereka. Disamping warangka nata Hastina Patih Harya Sangkuni, Prabu Salya, Resi Karpa dan Beghawan Druna.
Di dalam pesagrahan Bulupitu yang merupakan markas dari para kurawa, sekaligus tempat beristirahat dan mempersiapkan strategi perang malam hari ini, Daryudana masih menunjukkan kemurkaan di wajahnya.
Yang paling membuatnya kesal adalah keteledoran dan keraguan eyangnya, Sang Maharesi Bisma. Dia menilai orang tua itu dalam membantu Kurawa hanya setengah hati. Dan karena sikapnya tersebut, para wadyabala Kurawa menjadi korban. Mereka harus membayar mahal dengan menelan pil pahit, kekalahan telak di pertarungannya hari ini……..
Daryudana menghela nafas berat…….
“Para sesepuh sekalian, maafkan saya jika hari ini didepan para sesepuh sekalian saya terpaksa harus marah. Kurawa hari ini mengalamai kekalahan yang sangat telak. Kemenangan yang kemarin sudah didepan mata, ternyata hanya manis di awal. Bahkan hari ini, Kurawa seperti tidak punya senapati” kata Daryudana sambil menahan marah yang teramat sangat.
“Maafkan saya angger prabu” kata Prabu Salya, “sebenarnya ini semua memang tidak seharusnya terjadi. Semua diluar dugaan dan perhitungan”.
Daryudana kembali menghela nafas berat, semua masih diam. Tidak ada yang bersuara.
Daryudana kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu kembali berucap, “Apakah Kurawa memang sudah tidak mempunyai senapati?”
__ADS_1
Daryudana kemudian menghentikan bicaranya, berharap ada yang menyela pembicaraannya. Dia masih sangat kesal. Setelah memastikan tidak ada yang yang menyela pembicaraannya, barulah dia kembali berucap. “Saya tidak tahu, apakah disini sebenarnya ada musuh yang berpura pura membela Kurawa atau tidak? Coba para sesepuh disini pikirkan!!!”
Mendengar ucapan dari Daryudana, semua orang terkejut. Mereka tidak menduga, raja Hastina itu akan sampai berpikiran seperti itu. Kaalau hanya kecewa, semua orang memang menyesalkan kejadian siang tadi. Tapi jika sampai menganggap ada seseorang yang menjadi musuh dalam selimut, tentu merupakan hal yang sangat tidak masuk akal. Yang paling tersinggung dalam hal ini adalah Beghawan Bisma.
“Maksud Angger Putu Prabu apa? Apakah menuduh Eyang Talkanda berkianat terhadap Kurawa?” Tanya Resi Bisma dengan sedikit gusar.
“Saya tidak pernah berkata begitu. Tapi Eyang sendiri adalah ahli strategi perang. Saya yakin Eyang sudah tahu jawabannya.” Kata Daryudana.
“Atas dasar apa Putu Prabu menuduhku seperti itu?” Tanya Bisma.
Daryudana menghela nafas dalam dalam. Kemudian dengantegas dia berkata, “Eyang Bisma pasti menyadari seberapa hebat dan bagusnya keahlian panah Abimanyu, Arjuna dan kehebatan Setyaki. Tapi seberapa hebatnya mereka, jika disbanding Eyang Talkanda, belum ada apa apanya”.
Daryudana berhenti sejenak, kemudian bertanya kepada Resi Bisma, “ tapi kenapa, ketika Eyang mempunyai kesempatan untuk menyerang mereka, justru Eyang tidak menggunakan kesempatan itu, malah seakan akan member ruang gerak pada mereka untuk menyerang? Sampai akhirnya mereka berhasil membunuh kusir kereta Eyang dan mengakibatkan Eyang terbawa lari ke luar medan pertempuran. Apakah Eyang sengaja melakukan itu agar Kurawa habis ditumpas mereka?”
“Astaga Putu Prabu, kenapa putu prabu berfikiran seperti itu?” Tanya Bisma.
“Berterus teranglah eyang. Eyang lebih berat membela Pandawa kan dibandingkan dengan Kurawa?” Tanya Daryudana penuh selidik.
“Putu Prabu, apa gunanya Eyang berada disini, jika Eyang tidak membela putu prabu dan para Kurawa? Apakah sudah demikian nistanya Eyang Talkanda, hingga harus menjadi pengkhianat.” Resi Bisma berhenti berbicara sejenak. “Putu Prabu, eyang sudah makan dan hidup bersama Putu prabu, dan eyang juga sadar bahwa Eyang adalah bagian dari Negara Hastina. Tidak mungkin jika Eyang melakukan hal yang senista itu”
“Berkata memang mudah. Tapi kenyataan yang membuktikan. Saya melihat, eyang sengaja member peluang para Pandawa untuk menyerang Kurawa” kata Daryudana.
“Putu Prabu, apa yang harus eyang lakukan agar putu prabu percaya bahwa eyang bersungguh sungguh membela Kurawa?” kata Resi Bisma.
Semua yang hadir terdiam. Perdebatan antara kakek dan cucunya itu memang terlihat semakin meruncing. Resi Bisma merasa dipojokkan, sedangkan Daryudana merasa bahwa Resi Bisma lebih berat dan lebih membela Pandawa.
“Aku ingin Eyang besuk bersama sama saya menjadi senopati perang. Aku ingin Eyang menunjukkan bahwa bisa membela Kurawa dan benar benar tulus membela Kurawa, bukan hanya omongan saja” kata Daryudana.
Mendengar hal itu, bukan main terkejutnya para sesepuh dan para hadirin yang ada di tempat tersebut.
__ADS_1
“Anak Prabu, apa tidak sebaiknya saya atau senapati muda yang lain yang maju ke medan pertempuran besuk” kata Prabu Salya.
“Maaf Prabu Salya. Saya masih belum percaya jika Eyang Bisma benar benar membela Kurawa dengan sepenuh hati. Utnuk itu, saya ingin menguji kemataban hati Eyang Bisma. Saya ingin maju ke medan peperangan bersamanya besuk. Saya tidak terima, Kurawa dijadikan kelinci permainan oleh para Pandawa. Besuk harus dibalaskan sakit dan derita para prajurit Kurawa hari ini” kata Daryudana.
“Jika kehendak Putu Prabu memang begitu, eyang hanya bersedia menjalankan perintah”, kata Resi Bisma.
Semua orang menghela nafas berat. Namun Daryudana adalah Raja. Dalam pepatah jawa ‘sabda pandita ratu’. Setiap perkataan seorang raja akan menjadi hokum dalam suatu tatanan Negara.
Akhirnya demikianlah, para sesepuh dan mereka yang hadir memutuskan untuk mengangkat Sang Maharesi Bisma menjadi mahasenapati perang Kurawa di hari ketiga. Dalam perhitungan Daryudana, jika dia dan Beghawan Bisma maju bersama sama dalam perang yang akan berlangsung esok hari, maka untuk meraih kemenangan bukanlah hal yang sulit. Apalagi ditambah dengan sudah gugurnya beberapa senapati dari Pandawa di hari pertama Bharatayuda.
Seperti diketahui, beberapa senapati Pandawa sudah gugur di hari pertama Bharatayuda. Diantaranya Raden Utara, Raden Arya Seta dan Raden Wratsangka. Belum lagi para prajurit kelas bawah dan menengah yang juga menjadi korban. Tentu, kekuatan dari Pandawa sudah berkurang banyak.
Kekuatan Pandawa juga akan berkurang dengan terlukanya Prabu Kresna meski tidak terlalu parah.
Daryudana menghitung, jika memang Beghawan Bisma mendukung Kurawa sepenuh hati, maka bukan hal sulit untuk menggulung Pandawa sampai ke akar akarnya. Dan besok pagi adalah waktu yang tepat utnuk melihat kesungguhan dari Resi Bisma dalam membela para Kurawa.
Malam semakin larut, pesanggrahan Bulupitu kembali senyap. Tegal Kurusetra kembali menjadi ajang pesta burung pemakan bangkai. Mereka bersorak kegirangan. Suara mereka menyanyikan lagu kematian yang mengerikan. Sunyi, senyap namun mencekam dan menakutkan.
Itulah perang. Tidak aka nada keuntungan bagi mereka yang menang apalagi yang kalah dalam perang…….
Bersambung…………….
__ADS_1