
Raja Awangga Narpati Basukarna
Kini kita ikuti perjalanan Raja Awangga Narpati Basukarna yang pergi dari Paseban Agung Negara Hastina karena perselisihan dengan Raja Mandraka.
Siapakah sebenarnya Narpati Basukarna ?
Dia sebenarnya adalah saudara kandung dari Pandawa. Dia lahir dari rahim Dewi Kunti Talibrata. Namun karena pada saat itu Dewi Kunti belum bersuami, dan kehamilan nya pun ternyata juga karena ulah tidak senonohnya Dewa Surya, akhirnya anak tersebut lahir tidak semestinya. Dia terlahir tapi lewat telinga Dewi Kunti Talibrata. Itulah kenapa diberi nama Karna yang artinya dalam bahasa jawa adalah telinga.
Singkat cerita, karena Dewi Kunti akan diperistri oleh Pandu Dewanata, akhirnya Karna dipelihara oleh kakeknya, sampai pada suatu masa kemudian dia berhutang budi dengan Negara Hastina dan menjadi abdi setia dari Negara Hastina.
Saat itu, untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut karena perselisihan dengan Raja Mandraka, Narpati Basukarna akhirnya bersemedi mensucikan diri di tepi sungai Jamuna. Dia menyesali kekeliruan tindakannya yang sudah membantu para Kurawa selama ini. Namun karena sumpahnya sebagai seorang senopati di Negara Hastina, mau tidak mau dia harus berani dan tega bertarung melawan adik adiknya para Pandawa yang notabenenya adalah saudara sedarah seibu.
Singkat cerita, Raja Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna yang membuntuti perjalanan Narpati Basukarna sudah sampai di tepi sunga Jamuna. Melihat kereta kuda milik Narpati Basukarna tertambat di pinggir sungai, Kresna segera mencari keberadaan dari Karna. Kresna mengemban titah dari Dewi Kunti, ibu dari Karna dan para Pandawa untuk membujuk Karna agar mau kembali bergabung dengan Pandawa.
“Adikku Karna, berhentilah sebentar dari semedimu, saya yang datang” kata Kresna
Karna yang saat itu sedang semedi di pinggir sungai segera membuka mata, melihat kedatangan saudara tuanya, Nata Dwarawati, Karna segera menghaturkan sembah.
“Sembah sungkem adik untuk Kakanda Dwarawati. Mohon maaf jika adinda kurang sopan dalam menyambut kedatangan kakanda Prabu” kata Karna sopan.
“Tidak apa apa adikku. Aku mendapat kabar dari para Kurawa bahwa adikku Karna pergi dari Hastina dengan menggunakan kreta Jatisurya, itulah kenapa kemudian kakanda membuntuti dan menyusul kepergian adinda sampai ke tepi sungai Jamuna ini” kata Kresna.
__ADS_1
“Ada perlu apakah sehingga kakanda menyusul kepergian adinda sampai ke tempat ini” Tanya Karna
“Kakanda diutus oleh Dewi KuntiTalibrata dan adik adikmu Pandawa, Karna”
Kresna menghela nafas berat. Memang apa yang akan dikatakan oleh Kresna adalah sesuatu yang sangat pelik. Bahkan mungkin akan membuka luka lama bagi Adipati Karna. Luka yang mungkin selama ini ibaratnya sudah hampir kering, namun harus tertoreh pedang lagi dengan amat dalam.
“Maafkan kakanda jika terpaksa kakanda harus mengatakan ini kepadamu adinda?” kata Kresna sambil berusaha membuat suasana senyaman mungkin agar tidak menyinggung Karna.
“Ada apa kakanda? Kenapa tiba tiba Kanjeng Ibu dan adik adikku Pandawa meyuruh kakanda untuk menemui aku? Bukankah selama ini mereka sudah enak hidup di Negara Amarta? Bukankah selama ini mereka mungkin sudah lupa terhadap Karna, seorang manusia yang kelahirannya sangat tidak diharapkan?” kata Karna
Benar sekali dugaan dari Kresna. Luka lama Karna belum terobati.
Tapi Kresna menyadari hal itu. Memang sangat berat menerima takdir seperti yang dijalani oleh Karna. Apalagi dia seakan akan dibuang dan tidak diakui sebagai anak oleh ibunya pada saat dilahirkan.
“Maafkan kakanda Karna. Kakanda hanya mengemban titah. Sebentar lagi mungkin perang besar yang diramalkan para dewa akan terjadi. Perang Dunia keempat, antara darah Bharata yang dikenal dalam ramalan dengan sebuah perang besar yang bernama Perang Bharatayuda. Yaitu perangnya Pandawa dan Kurawa.
“Kakanda Prabu, adinda mohon maaf. Bukan adinda ingin melawan dan menjadi anak durhaka dengan melawan seorang ibu dan adik adikku Pandawa. Dalam hati yang paling dalam saya menyadari, bahwa bagaimanapun saya akan menghilangkan darah ibu pada diri saya, itu adalah sesuatu yang mustahil. Sampai kapanpun, saya adalah Karna, yang lahir dari seorang ibu bernama Kunti. Walaupun kelahirannya tidak pernah diharapkan oleh ibu dan eyang”
Raja Awangga itu kemudian menarik nafas berat. Nampak titik titik airmata mulai membasahi kedua matanya. Ada perasaan duka yang mendalam yang dia rasakan saat ini. Ktresna sengaja menunggu dan membiarkan apa yang dilakukan oleh saudara tertua Pandawa itu. Kresna ingin membiarkan karna meluapkan emosinya agar bisa menenangkan pikirannya.
Setelah beberapa saat, Karna kembali berucap lirih.
“Maafkan adinda sang Prabu. Adinda merasa masih dihargai dan dianggap keberadaannya adalah ketika adinda mengabdi di Negara Hastina. Dan disini pula, Karna yang tidak pernah dianggap, bisa mewujudkan cita cita menjadi seorang adipati di Tlatah Awangga. Maka sudah sewajarnya jika adinda menyerahkan jiwa raga adinda untuk Negara Hastina” kata Karna mantap.
__ADS_1
Walaupun di wjahnya terlihat kesedihan yang mendalam, namun Kresna bisa merasakan kemantapan hati dari saudara mudanya itu.
“apakah semuanya sudah adinda pikirkan masak masak?” kata Kresna mencoba membujuk Karna
“Semua sudah saya pikirkan Kanda. Adinda bertekad ingin mengabdikan hidup adinda untuk tumpah darah dan negeri yang telah memberi kehidupan bagi adinda. Walaupun harus nyawa sebagai taruhannya” kata Karna.
“Tapi yang adinda hadapi adalah Ibu dan adik adikmu Pandawa?” Tanya Kresna
“Adinda tahu itu. Memang berat dalam hati. Tapi adinda adalah prajirit. Adinda adalah bayangkara Negara. Adinda tidak ingin mengkhianati sumpah dan kesetiaan adinda sebagai Manggala Pati Negara Hastina” kata Karna.
“Bukankah adinda tahu, bahwa adinda membela orang yang salah. Bukankah Negara Hastina adalah milik Pandawa. Dan Kurawa tidak berhak atas Negara Hastina?” Kresna berusaha menyadarkan Karna.
“Saya tahu Kakanda. Tapi saya tidak membela Kurawa apalagi membela kejahatannya. Saya berperang karena saya menepati janji seorang prajurit untuk mempertahankan tumpah darah dan negeri tercinta. Saya tidak membela Kurawa” kata Karna.
“Tapi apa bedanya dengan adinda berperang melawan Pandawa?” Tanya Kresna.
“Saya berperang untuk negeri saya” kata Karna mantap.
Sebenarnya Kresna sudah tahu bahwa ujung ujungnya adalah seperti ini. Bukankah dia adalah tiisan Bhatara Wisnu? Dia sudah tahu akan bagaimana nantinya kejadian perang ini berlangsung. Tapi sebagai titah yang hidup di madyapada, dia harus menjalani takdirnya. Dan takdir Kresna hari ini adalah menyusul Karna untuk membujuknya kembali bersatu dengan Pandawa meski dia tahu, keputusan Karna adalah tidak akan mau bergabung dengan Pandawa.
Meskipun begitu, Kresna juga sangat salut dengan keputusan yang diambil oleh Karna. Dia tahu, adiknya itu mempunyai jiwa kepahlawanan yang sangat besar. Jiwa patriotisme dan rasa kebangsaan yang luar biasa. Terbukti rela mengorbankan jiwa raga demi tumpah darah tercinta.
Karena tidak berhasil membujuk Karna untuk bergabung dengan Pandawa, akhirnya Kresna mohon pamit untuk menuju ke Panggombakan, tempat dimana saat ini Dewi Kunti berada.
__ADS_1
Sedangkan Karna meneruskan semedinya. Karna ingin menambah kemantapan hatinya dan meneguhkan keputusannnya. Dia berharap, keputusannya saat ini adalah keputusan yang terbaik………
Bersambung…………