
Dikisahkan ada empat Dewa dari Kahyangan yang menghentikan kereta Jaladara yang dikendarai oleh Setyaki dan Kresna. Mengetahui hal tersebut, Kresna segera meminta Setyaki untuk menghentikan laju kereta Jaladara.
Setelah menghaturkan sembah, Kresna kemudian meminta keterangan mengapa para dewa menghentikan perjalanannya menuju ke Negara Hastinapura.
“Mohon ampun, Eyang Naradha dan para Dewa semua, ada apakah gerangan Eyang menghentikan perjalanan kami” Tanya Kresna dengan menunduk hormat.
“Begini cucuku, Kresna. Kamu tidak usah kaget karena perjalanan kamu harus berhenti sementara. Ada yang perlu Eyang sampaikan
kepadamu. Dan ini adalah hal yang sangat penting” kata Naradha yang merupakan
Dewa tertua yang menjadi juru bicara di Kahyangan Sudhuk Pangudal Udal.
“Ada apakah sebenarnya Eyang, apakah menyangkut tugas saya menjadi dutha dari saudaraku Pandawa?” Kresna menambahkan.
“Kami berempat, saya sendiri, Kanwha, Janaka dan Ramaperasu diberi tugas oleh Sang Hyang Jagad Girinata untuk menemani kamu menuju ke Hastina, dan diberi tugas untuk menjadi saksi atas perjanjian yang akan diputuskan oleh Daryudana terkait masalah Negara Hastina” kata Naradha.
“Wah, saya sangat berterima kasih Eyang. Mudah mudahan Eyang bisa membantu saya untuk meluruskan persoalan ini” kata Kresna.
“O, bukan begitu Kresna. Para Dewa hanya akan menjadi saksi saja atas apa yang akan terjadi. Artinya, jika memang Daryudana tidak mau menyerahkan Negara Hastina ke tangan yang lebih berhak, yaitu Pandawa, tentu
Perang Besar dunia ke empat, yang disebut Perang Bharatayuda harus terjadi”
kata Naradha.
“Terima kasih Eyang Pukulun. Walaupun Para Dewa tidak bisa membantu, tapi perasaan saya akan sangat bahagia, karena apa yang menjadi tugas saya dibantu dan didukung oleh Para Dewa”
“Iya Kresna. Dan agar perjalanan tidak ada hambatan, kami Para Dewa akan ikut naik di kereta Jaladara”
Akhirnya, keempat dewa itu ikut naik di kereta Jaladara. Sementara Kresna mengambil alih tugas Setyaki sebagai Kusir Kuda Jaladara.
Perjalanan kemudian dilanjutkan. Mereka berharap secepatnya bisa sampai di Negara Hastinapura.
*****
__ADS_1
Sementara itu, di paseban Negara Hastina, Nampak Prabu Daryudana yang sedang mengadakan pasewakan agung. Mereka membahas berbagai macam persoalan pelik yang sedang dihadapi oleh Negara Hastina.
Nampak hadir dalam paseban agung, sesepuh Negara Hastina lengkap berada di sana. Sang Begawan Bhisma, Prabu Salyapati, Beghawan Durna, Narpati Basukarna dan tidak ketinggalan, Patih Sangkuni. Mereka sedang membicarakan perihal akan datangnya Prabu Kresna yang merupakan dutha dari Pandawa yang akan meminta Negara Hastina dan Amarta.
Prabu Daryudana meminta pendapat dari beberapa sesepuh dan mereka yang hadir di pasewakan agung Negara Hastina. Berbagai pendapat bermunculan, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju terhadap apa yang akan
diputuskan.
Selisih pendapat antara Raja Mandraka dan Adipati Karna berbuntut panjang. Adipati Karna akhirnya meninggalkan ruang pasewakan agung. Dia tidak ingin memperpanjang masalah dengan Raja Mandraka itu.
Tidak berselang lama setelah kepergian dari Adipati Karna, yang ditunggu tunggu ternyata telah tiba. Sang Prabu Kresna sebagai dutha dari Pandawa yang mengendarai Kreta Jaladara ditemani oleh Setyaki. Namun Para Dewa tidak menampakkan diri. Mereka hanya melihat dari kejauhan apa yang akan
terjadi terhadap Negara Hastina hari ini.
Setelah berbasa basi sejenak, akhirnya Kresna mengutarakan maksud kedatangannya.
“Maafkan saya Prabu Daryudana dan semua sesepuh yang ada disini. Kedatangan saya ke pendapa agung Negara Hastina sebenarnya bukan membawa hal yang baru. Karena sebelumnya saudaraku Pandawa sudah pernah mengutus dua duta untuk menmbahas persoalan ini. Yaitu Dewi Kunthi Talibrata dan Prabu Drupada. Intinya juga sama. Pandawa meminta kepada saudaranya Kurawa untuk menyerahkan kekuasaan Negara Hastina dan Amarta ke tangan yang berhak, yaitu Pandawa.” Kata Kresna.
“Tidak bisa begitu Prabu Daryudana. Hastina adalah warisan dari Prabu Pandudewanata, ayah dari Pandawa. Sedangkan Prabu Destrarasta hanya menjadi raja selama Pandawa belum dewasa. Artinya Negara ini mutlak milik Pandawa” kata Kresna.
“Tidak bisa, selama Kurawa masih ada, maka Negara Hastina akan tetap menjadi kepunyaan Kurawa, tidak ada yang boleh mengganggu gugat” kata Daryudana dengan ketus.
Perdebatan itu akhirnya makin memanas. Kurawa tidak akan membiarkan siapapun mengganggu kekuasaan mereka atas Negara Hastina. Bahkan mereka kemudian mengusir Prabu Kresna dari Paseban Agung. Diikuti oleh para Kurawa yang dengan beringas mengusir dan mengejek Prabu Kresna.
Raden Setyaki yang merasa mempunyai kewajiban untuk menjaga keselamatan Prabu Kresna akhirnya naik pitam. Dia kemudian melayani tantangan dari Raden Burisrawa, salah satu satriya dari Kurawa.
Pertarungan sengit tidak bisa dihindarkan. Burisrawa yang berperawakan tinggi besar itu menyerang dengan sengit Setyaki. Berbagai jurus dan ilmu baik pedang maupun tangan kosong dicoba oleh Burisrawa. Namun, Setyaki bukan orang yang bisa dianggap enteng. Walaupun tubuhnya kecil, namun
ketangkasannya dalam hal olah kanuragan tidak usah diragukan. Dia bahkan dengan
mudah bisa menundukkan Raden Burisrawa.
Demikian juga yang terjadi dengan Prabu Kresna. Dia dikeroyok oleh ratusan Kurawa dan prajurit Hastina. Namun Prabu Kresna bukanlah orang sembarangan. Dia adalah titisan Dewa Wisnu yang sangat sakti mandraguna. Bahkan dengan pusakanya, Kresna bisa menghidupkan orang mati. Dibawah pimpinan dari Patih Sengkuni, Kurawa mengeroyok Prabu Kresna. Semakin lama tingkah Kurawa makin menjadi.
__ADS_1
Akhirnya kesabaran Prabu Kresna telah habis. Dia mengeluarkan ajian ‘BOLO SREWU’. Tubuh Rja Dwarawati itu berubah menjadi raksasa yang sangat besar. Dia kemudian menginjak injak Kurawa. Akhirnya Kurawa kalang kabut berlarian tidak tentu arah.
Mereka tidak menyangka orang berkulit hitam yang kecil itu bisa berubah menjadi raksasa yang sangat besar dan menghancurkan mereka.
Melihat gelagat yang tidak baik, akhirnya Sang Hyang Naradha yang sedari tadi selalu membuntuti langkah Prabu Kresna keluar dari
persembunyiannya.
Naradha segera menenangkan Kresna. Akhirnya wujud Kresna berubah menjadi kecil kembali. Setelah semuanya tenang, Naradha menemui Kresna dan mereka pun kembali merundingkan apa yang akan dilakukan selanjutnya terhadap keputusan Daryudana tersebut.
“Kendalikan dirimu Kresna, jangka Bharatayuda adalah kehendak Jagad. Jangan sampai kamu merusak semua itu dengan amarahmu”kata Naradha.
“Baik Eyang” kata Kresna
“Lalu sekarang, apa yang akan kamu lakukan?” kata Naradha.
“Saya akan menyusul Adipati Karna, Eyang Naradha” kata Kresna
“Ke mana kamu akan mencarinya?” Tanya Naradha.
“Saya akan mengikuti jejak kereta kuda Jatisurya milik Adipati Karna, Eyang” kata Kresna.
“Baiklah, sebaiknya kamu berhati hati. Saya akan kembali ke Kahyangan dulu, semoga perjalananmu lancer cucuku” kata Naradha sambil kembali ke Kahyangan.
Sementara itu, Kresna melanjutkan perjalanannya untuk menyusul Adipati Awangga Sang Narpati Basukarna. Walaupun Prabu Kresna tidak tahu pasti arah perjalanan Adipati Karna, tapi lewat bekas roda dan telapak kuda dari kreta Kyai Jatisurya, tentu Kresna tidak akan kesulitan untuk menyusul Raja Awangga tersebut.
Terima kasih untuk yang sudah memberikan like, vote dan juga komentar komentar berharga untuk kami. Semoga cerita ini bisa menghibur dan menginspirasi kita,
Stayhome, jaga jarak dan selalu jaga kebersihan, selamat
membaca……..
__ADS_1