
Setelah terpukul oleh gada dari Raden Arya Seta, kemudian Resi Bisma melarikan diri sampai di tepi sungai Gangga. Atau dalam bahasa jawa disebut Bengawan Gangga.
Pada saat itulah ketika Resi Bisma sudah sampai di tepi sungai dan melakukan puja semedi, kemudian ditemui oleh Bathari Gangga.
Bathari Gangga adalah ibunda dari Sang Maharesi Bisma yang sudah muksa dan menjadi bidadari. Kemudian Resi Bisma mengutarakan keluh kesahnya.
“Kanjeng Ibu, Bisma tidak tahu harus berbuat apa. Tapi Bisma punya kewajiban untuk membela tanah tumpah darah Hastina ibu, putramu mohon petunjuk” kata Resi Bisma.
“Bisma anakku, dalam hidup manusia ada pilihan. Setiap pilihan ada resikonya, ada yang harus dikorbankan. Kamu sudah memilih anakku. Meskipun itu berat, itulah keputusanmu yang harus kamu tanggung dalam hidupmu” kata Bathari Gangga
“Saya tahu ibu. Tapi bukankah takdirku tidak akan mati di tangan putra Wiratha ? kenapa putamu sampai kalah menghadapi Raden arya Seta kanjeng ibu?” kata Bisma memelas.
“Putraku, takdirmu memang bukan pada dia. Ibu akan memberikanmu sebuah pusaka, pusaka inilah nanti yang akan membawa kemenangan atas Putra Wiratha itu. Terimalah ‘angkus panatas’ ini. Ibu hanya bisa membantu sebatas ini. Selebihnya kamu sendiri yang menentukan” kata Bathari Gangga.
Resi Bisma kemudian menerima pusaka ‘angkus panatas’ pemberian dari Sang Ibu Bathari Gangga.
Setelah menyerahkan pusaka tersebut, Bathari Gangga kembali ke alamnya. Sedangkan Sang Maharesi Bisma segera kembali medan pertempuran. Tekadnya bulat, yaitu berhadapan dengan Raden Arya Seta.
Ketika sampai di tegal Kurusetra, bukan main terkejutnya Resi Bisma. Raden Arya Seta mengamuk bagaikan kesetanan. Berpuluh puluh prajurit Kurawa harus menderita luka yang sangat parah. Bahkan beberapa diantaranya tewas terbunuh.
Merasa geram dalam hati Resi Bisma. Dia kemudian maju untuk menghadapi Raden Arya Seta.
“Hahaha……. Sang Maharesi Bisma. Kukira tidak pernah kembali lagi ke medan laga?” kata Raden Arya Seta.
__ADS_1
“Bukan watak seorang kesatriya jika harus lari dari medan pertempuran anak angger Arya Seta. Aku hanya perlu menyusun strategi dan memulihkan stamina. Mari kita lanjutkan pertarungan” kata Resi Bisma kalem.
“Baiklah Resi, kuharap kali ini Resi Bisma lebih berhati hati” kata Raden Arya Seta.
Akhirnya pertarungan pun dilanjutkan. Pertempuran antara Resi Bisma dan Raden Arya Seta berjalan cukup sengit. Sampai beberapa jam lamanya, mereka masih dalam keadaan seimbang. Belum ada yang terlihat kalah.
Namun seiring berjalannya waktu, Nampak jika Resi Bisma masih bisa terus mengendalikan gerakan tubuhnya. Disisi lain, Raden Arya Seta sudah mulai kedodoran. Entah karena sudah kalah dalam tehnik bertarung, ataukah karena sudah terlalu lelah, tapi yang jelas gerakan Raden Arya Seta makin kelihatan lamban.
Hal ini disadari benar oleh Resi Bisma. Dia berusaha membuat Raden Arya Seta makin kedodoran. Tujuannya adalah untuk mencari kelemahan lawannya.
Dan benar. Saat Raden Arya Seta sedikit lengah, Resi Bisma berhasil menghantamkan ‘angkus panatas, pemberian sang ibu Bathari Gangga. Tidak diduga saat ‘angkus panatas’ menghantam dada Raden Arya Seta, seketika itu juga dadanya terbelah tembus sampai ke punggungnya.
Raden Arya Seta
Mengetahui senapati Pandawa Raden Arya Seta gugur di medan laga, bukan main girangnya para prajurit Kurawa. Mereka bersorak sorai, menari nari dan meluapkan kegembiraan. Mereka yakin, akan memenagkan pertarungan dalam perang Bharatayuda ini.
Resi Bisma segera merangsek maju untuk kembali menggempur barisan para Pandawa. Namun nampaknya sinar merah temaran di ufuk barat sudah mulai terlihat. Senjakala sang surya telah tiba. Akhirnya mereka menghentikan peperangan itu, para Kurawa kembali ke pesanggrahan Bulupitu. Sedangkan para Pandawa kembali ke pesanggarahan Manggalayuda Pandawa.
Suasana tegal Kurusetra kembali sepi. Tapisepinya kali ini tidak sam dengan sepi sepi pada malam sebelumnya. Sepi kali ini adalah sepi mencekam.
Nampak beberapa mayat bergelimpangan tak tentu arah. Bau anyir darah bertebaran dimana mana. Sisa sisa pertempuran Nampak kentara sekali di tegal Kurusetra.
__ADS_1
Kurusetra untuk semalam akan terlelap dalam tidur sunyinya. Entah apa yang akan terjadi esok harinya……….
****
Jika di pesanggrahan Bulupitu para Kurawa merayakan kemenangan mereka yang telah diambang mata. Mereka meluapkan kegembiraan dengan mengadakan jamuan minum minum sampai pagi hari tiba. Sang Daryudana sangat senang hatinya, dia yakin tidak ada satriya Pandawa yang bisa menandingi krida perang dari Sang Maharesi Bisma.
Lain halnya yang terjadi di Hutalawiya. Di pesanggrahan Manggalayuda Pandawa. Raden Puntadewa atau Yudistira sangat bersedih hati. Hari pertama perang Bharatayuda ini merupakan pukulan yang sangat berat. Bagaimana tidak, tiga orang yang merupakan eyang dari para Pandawa harus gugur di medan laga. Dialah narpajendra Wiratha, Raden Arya Seta, Raden Utara dan Raden Wratsangka.
Dalam kebimbangan hatinya, dia kemudian meminta nasehat dari pujangga Pandawa. Penasehat perang Pandawa yaitu Raja Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna.
“Kakanda Prabu, mohon maaf. Hari ini perasaan saya benar benar sangat prihatin. Ini masih hari pertama peperangan, masih awal permulaan dalam menempuh Perang Bharatayuda. Tapi sudah banyak korban berjatuhan di pihak kita. Eyang Wiratha Raden Utara, Raden Arya Seta dan Raden Wratsangka telah gugur. Apakah salah jika saya berkecil hati untuk memenangkan peperangan ini?” Tanya Prabu Yudistira.
“Dinda Yudistira, dinda jangan sampai mupus semangat untuk memenangkan peperangan ini dinda. Dinda Yudistira harus ingat, dibelakang dinda masih banyak satriya Pandawa yang tidak kalah hebat disbanding para Kurawa. Bukankah masih ada empat saudara Pandawa yang sakti mandraguna. Belum lagi yang menjadi manggalaning yuda perng Pandawa seperti eyang Prabu Mangsahpati, Paman Drupada, Setyaki, Dresthajumena, dinda Wara Srikandi dan juga puta putrid dari para Pandawa.
Bukankah mereka semua tidak kurang dalam hal kesaktian? Mereka sakti mandraguna dan siap terjun ke medan laga. Sebagai contoh, tadi siang ketika Abimanyu maju ke medan laga, seorang Abimanyu bahkan bisa membunuh Durmuka, dan mematahkan busur panah dari Resi Bisma. Belum lagi jika putra putrid Pandawa semua maju di medan perang secara bersama sama. Apakah dinda Prabu masih meragukan kekuatan Pandawa?” Prabu Kresna menjelaskan panjang lebar tentang peta kakuatan Pandawa.
Mendengar hal itu, hati Prabu Yudistira sangat bahagia. Dia tidak menyangka begitu banyak para satriya dan senapati yang bersedia mengorbankan jiwa raga mereka demi untuk merebut kembali hak Pandawa atas Negara Hastina dan Indraprastha.
Penjelasan dari sang pujangga perang Pandawa tadi membawa semangat baru bagi Prabu Puntadewa. Dia kini menjadi sangat yakin dengan kekuatan Pandawa. Apalagi Wara Srikandi juga sudah siap untuk menjadi senapati Pandawa jika nantinya Kurawa sudah memasang Resi Bisma sebagai senapati perang Kurawa.
Malam itu, pesanggrahan Hutalawiya hening, semua bersama sama meminta kanugrahan dari Sang Hyang Widi Wasesa untuk menjalani hari hari berat dalam perang Bharatayuda.
Berat karena semua merupakan beban. Di satu sisi dia harus rela membunuh saudaranya sendiri. Disis lain, jika tidak mau membunuh, maka resikonya adalah terbunuh.
__ADS_1
Perang memang kejam dan tidak menyisakan peri kemanusiaan………
Bersambung……………..