
Sementara itu di pesanggrahan Bulupitu, tempat dimana para Kurawa sedang beristirahat sambil menyiapkan perlengkapan dan strategi perang yang akan digunakan untuk esok hari, Nampak Raden Djayadrata dan Beghawan Druna yang sedang menghadap Prabu Daryudana.
“Kanda Prabu, perasaan saya tidak enak. Saya merasa aka nada bahaya yang mengancam pada diri saya?” kata Raden Djayadrata memecah keheningan yang terjadi malam itu.
“Iya Dinda Djayadrata, seperti yang telah dilaporkan oleh telik sandi Kurawa, saya pribadi juga merasakan hal yang sama. Ancaman Arjuna rupanya tidak main main. Dia bahkan akan patio bong jika tidak berhasil membunuh Dinda Djayadrata” kata Daryudana.
“Bagaimana menurut eyang Druna? Apa sebaiknya yang harus saya lakukan? Apakah saya harus bersembunyi dan pulang ke Banakeling? ” Tanya Djayadrata kepada Beghawan Druna.
Raden Djayadrata memang diangkat anak oleh Beghawan Sempani. Dia adalah seorang anak yang lahir dari bungkus ari ari Raden Werkudara.
Menanggapi hal itu, Prabu Daryudana sangat gelisah hatinya. Dia kemudian membujuk Raden Djayadrata itu agar tidak kembali ke Banakeling. Dia berjanji akan mengerahkan semua wadyabala Kurawa untuk melindungi keselamatan Raja dari tanah Sindu itu.
Berbagai bujukan dilakukan oleh Prabu Daryudana agar Raden Djayadrata menunda kepulangannya ke Banakeling. Karena kepulangan Djayadrata akan mengurangi kekuatan para Kurawa.
Namun walaupun Prabu Daryudana sudah menjamin keselamatannya, hal itu belum membuat hati Raden Djayadrata merasa tentram. Hatinya masih gelisah memikirkan ancaman dari Raden Arjuna.
Akhirnya, Sang Beghawan Druna ikut serta membujuk Raden Djayadrata agar tetap mau tinggal di Bulupitu.
“Angger Djayadrata, saya harap Raden tidak usah pulang dulu ke Sindu atau Banakeling. Masalah ancaman dari Arjuna, biarlah para senapati Kurawa yang akan menghadapinya. Banyak senapati senapati Kurawa yang sakti mandraguna yang akan menahan serangan dan amukan dari Raden Arjuna. Jadi Raden Djayadrata tidak usah kawatir.
__ADS_1
Raden Djayadrata, semua orang akan mengalami kematian. Dia dating tidak pernah melihat waktu, dan tempat. Walaupun dalam keadaan santai di rumah, jika Dewa menghendaki semua bias mati. Tapi jika mati memenuhi kewajiban sebagai seorang prajurit dalam medan perang, dia akan mati dalam keadaan yang terhormat dan dihargai sebagai pejuang.
Sekarang inilah saatnya Raden Djayadrata menunjukkan bahwa Raden bisa menghancurkan musuh Negara dan mengagungkan nama Negara Hastina”
Panjang lebar apa yang dikatakan oleh Sang Beghawan Druna. Setelah mendengar keterangan dari Beghawan Druna akhirnya perasaan Raden Djayadrata sedikit merasa tenang. Apalagi, Sang Beghawan Druna sudah berjanji akan membuat gelar baris khusus untuk melindungi Raden Djayadrata. Akhirnya walaupun dengan perasaan yang masih sangat rancu tidak karuan, akhirnya Raden Djayadratapun tertidur dengan seribu satu masalah menghantui pikirannya.
********
Keesokan harinya, kembali Tegal Kurusetra dipenuhi oleh para prajurit dari Kurawa dan Pandawa yang sudah mulai mempersiapkan diri untuk melanjutan perang di hari ini.
Sang surya yang menyembul dari sela sela pepohonan dan memancarkan suasana hangat nan indah itu, ternyata tidak mampu menggugah hati para prajurit itu untuk menebarkan kedamaian. Dalam hari mereka, yang ada adalah keinginan untuk membunuh sebanyak banyaknya musuh, walaupun sebenarnya mereka masih saudara sedarah, yaitu darah Bharata.
Pada saat itu, di barisan prajurit Kurawa, Sang Beghawan Druna yang merupakan mahasenapati Kurawa sedang mempersiapkan gelar baris untuk pasukannya pada hari ini.
Prabu Daryudana kemudian meminta tolong kepada Ratu Sakembaran yang berasal dari Negara Pager Alun. Mereka berdua adalah saudara kembar yang bernama Setyarata dan Setyawarman. Dua raja kembar inilah yang mendampingi Sang Beghawan Druna untuk menjadi senapati Kurawa hari ini.
Seperti yang telah diduga sebelumnya, prajurit Pandawa hari ini akan dipimpin oleh Raden Arjuna. Pada saat itu sebenarnya para prajurit Kurawa sudah mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya, namun karena memang para Pandawa mempunyai kepandaian dalam hal berperang yang melebihi tingkat kepandaian dari para Kurawa, sehingga para Kurawa dibuat kewalahan menghadapi para Pandawa.
Saat itu, Raden Arjuna yang memimpin para prajurit Pandawa langsung membawa pasukannya untuk menerjang kea rah barisan para Kurawa. Sang Beghawan Druna yang didampingi oleh Ratu sakembaran yaitu Setyarata dan Setyawarman pun harus kewalahan dengan sepak terjang dari Raden Arjuna.
__ADS_1
Banyak dari para prajurit Kurawa yang harus tergilas oleh roda kereta kuda dari Sang Arjuna. Bahkan ada diantara mereka yang harus tewas oleh panah yang dilesatkan dari busur Sang Arjuna.
Nampaknya kematian Sang Abimanyu membuat Raden Arjuna betul betul terpukul. Niatnya hari ini adalah membunuh sebanyak banyaknya musuh dan mencari keberadaan dari Raden Djayadrata. Sebelum matahari terbenam, dia sudah harus bisa membunuh orang yang telah menewaskan anaknya itu. Atau dia harus merelakan dirinya ‘pati obong’ atau bunuh diri dengan menceburkan tubuhnya ke dalam bara api yang menyala nyala.
Bagi Raden Arjuna, hari ini tidak ada pilihan lain kecuali mencari keberadaan dari Raden Djayadrata dan membunuhnya untuk menepati janjinya.
Namun tentu saja hal itu tidaklah mudah. Para Kurawa dan senapatinya akan selalu berusaha melindungi Raden Djayadrata. Dan mau tidak mau, Raden Arjuna harus menghancurkan barisan para Kurawa dulu agar bisa menemukan dimana Raden Djayadrata disembunyikan oleh Sang Beghawan Druna dan Ratu sakembaran Setyarata dan Setyawarman.
Raden Arjuna terus mengamuk dan menerjang barisan Kurawa. Sudah tidak terhitung lagi jumlah para prajurit Kurawa yang menjadi korban amukan dari satriya Madukara itu. Sampai akhirnya Sang Beghawan Druna menghadang laju kereta kuda Raden Arjuna didampingi oleh Setyarata dan Setyawarman.
.
.
.
Apakah Sang Beghawan Druna mampu menghentikan amukan Raden Arjuna?
Dan apakah raden Arjuna berhasil menemukan Raden Djayadrata?
__ADS_1
Simak episode selanjutnya…
Selamat membaca ….