PERANG BHARATAYUDA

PERANG BHARATAYUDA
Episode 14 Gelar Tanding Garuda Wiwaha


__ADS_3

Tegal Kurusetra malam itu sunyi, tempat yang siang tadi menjadi ajang pertempuran ribuan para prajurit Kurawa dan Pandawa itu kini bagaikan kuburan masal. Burung burung pemakan bangkai sesekali berbunyi nyaring dan memekakkan telinga mereka yang mendengar.


Dipadu dengan suara burung malam yang berbunyi di kejauhan membuat suasana malam itu semakin mencekam. Para Kurawa larut dalam kegembiraan dan kesenangan. Sedangkan para Pandawa larut dalam keheningan doa puja hastawa kepada Hyang Widi Wasesa.


Perjalanan malam yang panjang, mengiringi saat dimana para satriya Negara sedang mempersiapkan strategi terbaik mereka……….


*******


Semburat merah menyeruak di langit sebelah timur. Warna merah dari sang fajar yang mulai muncul dari ufuk timur, menyemburkan cahaya temaram dan yang seharusnya menyejukkan siapapun yang melihatnya.


Namun itu tidak berlaku bagi mereka yang sedang menghadapi peperangan besar di tegal Kurusetra. Saat matahari sudah mulai terbit, mereka semua sudah bersiap untuk melanjutkan perang Bharatayuda yang tertunda karena kelamnya malam kemarin.



Nampak sang Mahasenapati Dresthajumena yang sedang mempersiapkan gelar Wadyabala Pandawa dengan Gelar Tanding Garuda Wiwaha. Gelar tanding yang berfungsi mengurung musuh dari sisi kiri dan kanan serta menghancurkannya dari arah depan, persisi seekor burung garuda yang sedang mengincar mangsa.


Namun di luar dugaan, para Kurawa juga menerapkan hal yang sama. Mereka juga menerapkan tehnik perang yang sama seperti yang dipakai oleh para Pandawa. Akhirnya mau tidak mau, para Pandawa harus memaksimalkan para Prajurit yang ada agar memperoleh kemenangan di peperangan hari kedua ini.


Di kubu Pandawa, Nampak berkumpul para senapati dan juga pujangga perang dari para Pandawa. Selain itu, sesepuh perang, Kiyai Lurah Semar Badranaya juga turut hadir dalam perang tersebut.


“Apakah pasukan Pandawa sudah siap untuk memulai peperangan hari ini Raden Dresthajumena?” Tanya Prabu Kresna sebagai pujangga Pandawa.


“Hamba Paduka Prabu. Seluruh pasukan sudah siap dengan gelar tanding hari ini. Namun para Kurawa juga menggunakan gelar tanding yang sama dengan yang digunakan oleh para Pandawa” kaata Raden Dresthajumena.

__ADS_1


“Itu tidak masalah. Kita punya strategi lain. Gelar perang boleh sama, tapi cara melakukan formasi harus lebih bisa membaca situasi. Apakah ada usulan lain untuk kita hari ini?” Tanya Prabu Kresna.


Kresna melihat kepada seluruh hadirin yang ada di depannya. Mereka semua menunduk sambil berfikir. Tak berselang lama, kemudian Raden Arjuna angkat bicara.


“Ampun Kanda Prabu Kresna, menurut hemat saya, musuh yang paling berat di pihak Kurawa adalah Sang Maharesi Bisma. Jika Eyang Bisma bisa kita singkirkan, bisa dikatakan separuh kekuatan Kurawa sudah habis. Dan Pandawa akan meraih kemenangan” kata Arjuna.


Kresna dan para saudara Pandawa Nampak berfikir keras, apa yang dikatakan Arjuna memang benar. Jika Beghawan Bisma sudah tidak ada, maka kekuatan Kurawa hanya tersisa kurang dari separuhnya.


“Saya sependapat dengan usul Adi Arjuna. Bagaimana dengan yang lain?” Tanya Prabu Kresna.


Dan nampaknya semua yang hadir sepakat, bahwa target pertama mereka adalah Sang Maharesi Bisma.


“Baiklah, nanti aku sendiri yang akan menyerang Resi Bisma bersama Arjuna. Yang lain tetap pada posisi semula dan ikuti perintah dari Mahasenapati Dresthajumena” kata Prabu Kresna.


“Sendika dawuh, Gusti Prabu”……..


*****


Beghawan Bisma yang mengetahui bahwa Arjuna akan menyerangnya, dengan sigap segera menghujani Panengah Pandawa itu dengan ranjaman panah. Namun Sang Arjuna bisa menghindari panah panah itu dengan mudah, bahkan terus merangsek ke arah Resi Bisma.


Kereta Jaladara dan Raden Arjuna mengamuk dan menerjang siapapun yang mencoba menghalangi jalannya.


Prabu Daryudana yang melihat hal itu, segera meminta kepada seluruh prajurit Kurawa untuk membantu menghalangi Arjuna dan melindungi Beghawan Bisma. Namun, lagi lagi, para Kurawa itu akhirnya harus lari tunggang langganag karena dihantam kereta Jaladara, bahkan banyak diantara mereka yang harus kehilangan tangan, kaki dan juga nyawanya karena digilas oleh roda Kyai Jaladara atau pun Kuda milik Prabu Kresna.

__ADS_1


Hal itu makin membuat hati Sang Daryudana merasa miris. Amukan dari Raden arjuna membuat banyak sekali para Kurawa yang tewas. Daryudana ingat kata kata dari Eyang Sang Maharesi Bisma, bahwa dalam peperangan Bharatayuda dia memang membela Kurawa, namun Sang Beghawan Bisma sudah berkata bahwa dia tidak akan membunuh para Pandawa. Tentu saja hal ini akan menjadi boomerang bagi para Kurawa. Bagaimanapun, jika sang Bisma tidak mau membunuh Raden Arjuna, maka dia akan terus mengamuk dan menghancurkan para Kurawa.


Sedangkan senapati Kurawa lain yang punya kemampuan tanding setara dengan Resi Bisma, yaitu Sang Raja Awangga Narpati Basukarna, hanya akan maju ke medan laga jika Beghawan Bisma sudah tiada.


Karena tidak ada seorang prajurit pun dari pihak Kurawa yang berhasil menghentikan ulah kridanya sang Arjuna, akhirnya Sang Arjuna bisa berhadapan langsung dengan Beghawan Bisma.


Dua kesatriya panah yang sangat mumpuni sekarang beradu kadigdayaan. Sang Eyang dan cucunya.Sang Maharesi Bisma dan Raden Arjuna. Siapapun orangnya pasti akan mengetahui kehebatan mereka dalam berpanah dan bertempur.


Tidak ayal lagi, pertunjukkan yang luar biasa terlihat di langit Kurusetra. Panah saling berseliweran kesana kemari. Kadang beradu diatas langit dan menimbulkan percikan yang sangat dahsyat, kadang menerpa beberapa pohon dan hangus  seketika. Semua orang merasa miris dan takjud tapi juga banyak yang saat itu merasa takut. Semua mata tertuju pada perang mereka berdua.


Sang Maharesi Bisma, diam diam juga mengakui kehebatan Putra Pandu yang berwajah paling tampan itu. Dalam hati dia merasa teriris menyaksikan dirinya harus bertarung dengan cucunya sendiri. Dia tidak pernah berharap ini terjadi. Jika menghadapi musuh setara Arjuna dua atau tiga pun dia tidak akan mundur. Tapi ini, yang dihadapi adalah darah dagingnya sendiri, cucu dari Eyang abiyasa. Sungguh beban yang cukup berat.


Lamunan Resi Bisma terhenti ketika tiba tiba anak panah Arjuna melesat dan tepat mengenai busur panah yang dipegangnya. Tak pelak lagi, busur itupun patah menjadi beberapa bagian. Bukan main terkejutnya Sang Maharesi Bisma. Dia tidak menyangka, cucunya sudah sangat pesat perkembangan keahliannya dalam memanah.


Bisma kemudian buru buru mengambil busur panah lagi. Dan bersiap untuk kembali menghujani kereta Jaladara dengan panah panah yang sudah disiapkannya. Dan ketika kembali kembali sang Maharesi Bisma mengangkat busur panahnya, tiba tiba……


Krak…….


Sekali lagi, busur panah itu terkena bidikan panah dari Sang Arjuna. Dan lagi lagi busur itupun patah. Secepat kilat, Sang Maharesi Bisma segera mengambil busur panah lagi, kali ini diarahkan langsung ke kusir kereta Jaladara, Prabu Kresna.


Kresna yang tidak menyadari bahaya tersebut, masih menghela keretanya dengan tanpa kewaspadaan.


Saat itulah, anak panah melesat dengan cepat kea rah Prabu kresna………..

__ADS_1


Apa yang terjadi selanjutnya, tunggu episode berikutnya ya….


Mohon like, vote dan juga share ke teman teman readers  semua………


__ADS_2