
Mari kita lihat apa yang terjadi pada panengah Pandawa, Raden Arjuna. Setelah terbakar emosinya karena ditantang perang oleh Raja Windya yang bernama Prabu Wersaya segera mengejar raja itu sampai di pesisir utara.
Memang Prabu Wersaya adalah seorang raja yang sakti, namun kesaktiannya masih kalah dibandingkan dengan Raden Arjuna. Namun semangat bertandingnya sungguh sangat luar biasa.
Dia berperang dengan menggunankan tehnik yang sukar ditebak. Sehingga membuat Raden Arjuna tidak bisa begitu saja melumpuhkan dia.
“Ayo Arjuna, jangan hanya jad pecundang. Lawanlah aku” kata Prabu Wersaya
“He Prabu Wersaya, kenapa kamu membela orang yang jelas jelas bersalah ? kenapa kamu tidak kembali saja ke Negara Windya dan menjadi raja yang baik ?” kata Arjuna
“Bukan urusanmu. Aku mau membela siapapun itu adalah hakku. Jadi kamu tidak usah ikut campur. Lebih baik kita lanjutkan peperangan ini. Aku aku tidak penasaran dengan Raden arjuna yang katanya adalah ‘lananging jagad’. Dan aku tidak akan pernah percaya jika aku belum membuktikannya” kata Prabu Wersaya.
Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh Prabu Wersaya itu hanyalah sekedar siasat. Dia tahu, walaupun dia berjuang habis habisan untuk melawan Raden Arjuna, tapi dirinya tidak akan pernah menang. Karena dari segi keahlian, memang berbeda jauh.
Namun yang pasti, dia harus mengulur waktu, agar Beghawan Druna punya kesempatan membunuh Yudistira, dikala Raden arjuna tidak berada di sampingnya.
Dan itulah strategi licik yang dirancang oleh Guru Druna.
Perang pun dilanjutkan. Mereka kembali beradu strategi dan kepintaran. Semua taktik dan tehnik berperang dikeluarkan oleh Prabu Wersaya untuk tetap mengimbangi pertarungan.
__ADS_1
Lain halnya dengan Raden Arjuna. Setelah bertarung beberapa waktu, akhirnya dia menyadari bahwa musuhnya sebenarnya hanyalah menghindari serangannya. Dia tidak berani menyerang karena jika menyerang, dia pasti akan dengan mudah dihancurkan oleh Arjuna.
‘Hmm….. sepertinya dia sengaja mengulur ngulur waktuku. Apa sebenarnya yang dia inginkan. Kenapa dia mengajakku berperang jauh dari Kurusetra. Perasaanku juga tidak enak. Aku harus segera mengakiri pertarungan ini’ kata Raden Arjuna dalam hati.
Setelah menyadari bahwa sebenarnya Raden arjuna hanya dibuat main main agar tidak segera kembali ke Kurusetra, akhirnya dia menjebak Prabu wersaya untuk membuka serangan.
Dan akhirnya, Prabu Wersaya terpancing.
Saat Raden Arjuna berpura pura lengah, Prabu Wersaya menyerang dengan menggunakan pedangnya yang terhunus. Kesempatan itu tidak disia siakan oleh Raden Arjuna. Dia segera melepaskan panah yang di tangannya. Dan sebuah bidikan yang tepat. Panah itu langsung menancap kea rah ulu hati Prabu Wersaya yang tidak sempat menghindar karena sedang menyerang arjuna.
Tubuh Prabu Wersaya segera tumbang ke tanah. Darah segar memancar dari luka di dadanya. Dan tidak berselang lama,diapun menghembuskan nafas terakhirnya.
Setelah yakin musuhnya telah tiada, Raden Arjuna segera berlari bagaikan kilat, kembali ke Tegal Kurusetra.
************
Ya, Raden Abimanyu yang telah tewas karena dihujani anak panah oleh Beghawan Druna, kemudian setelah tidak berdaya lalu ditusuk oleh Raden djayadrata.
Sungguh merupakan pemandangan yang sangat menyedihkan.
Tidak henti hentinya dari kedua bola mata raja yang terkenal paling sabar dan tidak pernah marah itu mengalir air bening. Hatinya teriris. Satu persatu, para putra putra Pandawa sudah banyak yang gugur dalam membela para Pandawa.
“Anakku Abimanyu. Maafkan Uwamu yang tidak bisa menjagamu. Kamu menjadi korban ambisi kami untuk merebut Negara Hastina dan Indraprasta.
Memang benar apa yang dikatakan orang tua dan sesepuh kita, dalam perang tidak ada yang menang. Ibarat pepatah ‘menang jadi pindang dan kalah dadi rempah’. Siapapun yang terlibat dalam peperangan, tidak akan pernah merasakan keuntungan. Semua akan menderita kerugian. Baik yang menang apalagi yang menderita kekalahan.
Putraku, Uwa berjanji. Kematianmu dalam membela negaramu tidak akan sia sia. Uwa akan mengorbankan jiwa dan raga untuk mempertahankan Negara Hastina dan Amarta putraku. Istirahatlah dengan tenang.”
__ADS_1
Kata kata Yudistira sangat menyentuh hati. Para prajurit yang mengelilingi mereka, membuat tameng agar tidak diserang oleh para Kurawa juga tidak kuasa menahan tangis.
Pada saat itulah, Sang Maharsi Wiyasa datang dan menenangkan hati Yudistira.
“Putu Prabu, hidup dan mati sudah digariskan oleh Sang Hyang Widi Wasesa. Tidak ada seorangpun yang bisa menambah atau mengurangi. Jika hari ini, Abimanyu harus mendahului Putu Prabu, itu sudah kodrat yang harus diterima” kata Resi Wiyasa.
“Tapi Eyang, bagaimana saya harus menjelaskan hal ini kepada Adi Arjuna dan juga Ibunya dan keluarganya. Saya sebagai Uwanya yang seharusnya bisa melindunginya. Dan malah menyuruhnya untuk maju menggantikan posisi ayahnya?” kata Yudistira sambil menyesali keputusannya.
“Putu Prabu, segala sesuatu pasti ada resikonya. Apapun yang kita lakukan, akan membawa akibat dikemudian hari. Itulah kenapa, setiap kali melangkah dan bertindak, seseorang harus memikirkan akibat yang akan diterimanya. Percayalah Putu Prabu, apapun yang telah Putu Prabu lakukan, itu adalah semata mata untuk memberikan kemenangan bagi para Pandawa.
Semoga kepergian Abimanyu, akan menambah semangat para Pandawa, agar pengorbanan Abimanyu tidak sia sia” kata Resi Wiyasa.
Keterangan dari Resi Wiyasa agak memberikan pencerahan kepada Yudistira. Ibaratkan di tengah padang nan gersang, kemudian mendapatkan oase yang mampu memberikan kesejukan.
Dia kemudian berdiri dan menanti kedatangan Raden Arjuna dan Raden Bima yang melayani tantangan perang dengan Prabu Gardhapati dan Prabu Wersaya.
.
.
.
Bersambung . . . . . . . . . . . . . . .
__ADS_1