PERANG BHARATAYUDA

PERANG BHARATAYUDA
Episode 24 Wasiat Terakhir Maharesi Bisma


__ADS_3

 


 


 


 


Note:


Kemarin kami sudah mulai untuk dubbing cerita baru ya kak. Judulnya PENDEKAR PULAU ES, karya dari Bilqis Natasya P. jika berkenan dan ada waktu, silakan disimak dan didengarkan, semoga berkenan ya…………..


Jangan lupa untuk meninggalkan like dan kasih dukungan untuk kami.


Tanpa dukungan, tips, like dan kritik saran dari readers , karya kami hanya seonggok tulisan yang tak berguna. Thanks untuk readers semua……………………


 


 


Semua orang tersentak mendengar ucapan dari Sang Maharesi Bisma. Orang yang paling dihormati oleh Pandawa dan Kurawa itu meminta bantal untuk kepalanya. Mendengar hal itu, Daryudana segera memerintahkan para prajurit untuk membawa bantal yang terbuat dari kapuk yang paling lembut sebanyak banyak nya, kemudian disusun dibawah kepala Sang Maharesi Bisma.

__ADS_1


Namun apa yang terjadi?


Semua bantal dan kain halus yang disiapkan para Kurawa semuanya ditolak oleh Resi Bisma. Dia tidak mau diberi bantal empuk yang terbuat dari kapuk terbaik milik Kurawa.


Kemudian Sang Maharesi Bisma memanggil Arjuna untuk mendekat. Kemudian berkata lirih, “Arjuna, kepalaku kelihatannya terlalu rendah. Bawakan aku bantal yang baik.”


Kemudian Arjua mengambil tiga anak panah, lalu anak panah itu ditancapkan ditanah tepat dibawah kepala dari Sang Maharesi Bisma. Anak panah yang tajam yang biasa disebut ‘nyenyep’ itu ditancapkan di tanah, sedangkan yang tumpul yang biasa disebut ‘bedhor’ itu dibuat untuk menyangga kepala Sri Bisma.


Setelah kepalanya tersangga oleh ‘bedhor’ anak panah yang dipasang oleh Arjuna, kemudian Resi Bisma bicara lirih, “ He para Ratu, para Pemimpin, para Senapati dan semua prajurit yang gagah berani. Inilah yang dinamakan bantal bagi seorang kesatria. Bantal bagi seorang petarung bukan terbuat dari kapuk terbaik. Seorang kesatria, akan bangga ketika darahnya tumpah, dia berada diatas sebuah senjata.”


Semua orang tertegun mendengar ucapan Sang Maharesi Bisma. Sungguh dia adalah seorang kesatria sejati. Setelah beberapa saat, Sang Bisma kemudian melanjutkan kata katanya.


Demikian juga sebaliknya, jika kita ingin menghindar dari gelapnya malam, kita harus juga berani ditinggalkan oleh sang Dewi Malam dan bersiap menghadapi panasnya terik di siang hari.


Jika hari ini harus ada yang hilang. Janganlah pernah disesali kepergian itu. Karena ada saat datang, pasti aka nada saatnya kita pergi. Ada saat bertemu pasti aka nada saat berpisah”.


Petuah dari Sri Bisma, membuat para Pandawa meneteskan airmata.


“Saat matahari tenggelam nanti, adalah saat Eyang harus kembali ke Hyang Widi Wasesa. Mungkin setelah kepergianku ada diantara kalian yang sebentar lagi menyusulku”


Setelah berhenti sejenak, Nampak Sang Sri Bisma menghela nafas berat. Kelihatan sekali kalau dia sekarang sedang kehausan. Melihat hal itu, Daryudana segera memerintahkan para Kurawa untuk mengambilkan minuman yang enak enak. Namun, kembali semua pemeberian Daryudana itu ditolak oleh Sang Maharesi Bisma.

__ADS_1


Kemudian Sang Maharesi Bisma memanggil Arjuna. Dia meminta air kepada satia Pandawa itu. Kemudian Arjuna mengambil sebuah anak panah, lalu membuat lingkaran kecil dan menancapkan panah tersebut di dalam lingkaran yang dia buat.


Semua orang memandang kea rah Arjuna. Tidak terkecuali Kurawa, bahkan mereka saling berbisik mengatai Arjuna, dianggapnya kurang waras. Ada orang meminta air, malah menancapkan panah dibawah telinga Sri Bisma.


Memang, Arjuna menancapkan panah itu tepat dibawah telinga kanan Resi Bisma. Di luar dugaan, setelah panah dicabut, tiba tiba muncul sumber air yang tinggi, hingga mencapai bibir Sang Maharesi Bisma, sehingga orang tua itu bisa minum sepuas puasnya.


Setelah agak tenang, Sri Bisma kembali berucap, “ Cucu cucuku semua, terutama kamu Daryudana dan semua yang melihat kejadian ini. Peristiwa ini semoga bisa menjadi contoh dan suri tauladan terhadap kalian semua. Bagaimana cara Arjuna memberikan bantal dan member minuman yang bisa membuat hatiku senang.


Aku minta kepada engkau wahai Daryudana, mulai hari ini Eyang mohon kamu bisa rukun dengan saudaramu para Pandawa. Semoga setelah kematianku nanti, peperangan antara kalian bisa berhenti. Semoga kalian cucu cucuku, keturunan trah Eyang Abiyasa bisa hidup berdampingan dan saling mengasihi . saling berlomba untuk melakukan kebaikan dan budi luhur. Hiduplah berdampingan demi kejayaan darah Kuru.”


Banyak sekali Sang Maharesi Bisma member wejangan dan petunjuk bagi para cucu cucunya. Namun siapa yang tidak kenal dan faham watak Daryudana. Dia adalah orang yang keras kepala. Walaupun sehari penuh diberi saran menuju kebaikan, dia tidak akan pernah mau mendengarkan petunjuk tersebut. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Dan hanya akan dianggap angin lalu.


.


.


Bagaimanakah nasib Resi Bisma selanjutnya?


Nantikan episode selanjutnya.


Jangan lupa unutk like, share dan juga vote/tips cerita ini. Selamat membaca…………………….

__ADS_1


__ADS_2