PERANG BHARATAYUDA

PERANG BHARATAYUDA
Episode 18 Kidung Kematian Sang Arjuna


__ADS_3

 


 


 


 


Prabu Kresna makin tidak sabar dan sangat gusar melihat Arjuna yang seakan ragu ragu untuk berhadapan apalagi membunuh Resi Bisma. Dalam pikiran Arjuna memang merasa bahwa Resi Bisma adalah seorang sesepuh yang harus dihormati.


Sayangnya itu tidak berlaku bagi Resi Bisma. Bisma tetap akan membunuh siapapun yang menjadi lawannya kecuali Pandawa.


Tentu hal itu akan menjadi timpang. Bagaimana tidak, disatu sisi Resi Bisma terus memburu dan membunuh pasukan Pandawa, sementara disisi lain, Arjuna hanya berusaha menghindar dari panah panah milik Resi Bisma.


Di tengah kekalutan itu, hilanglah kesabaran dari Prabu Kresna. Dia turun dari atas kursi kusir kereta, lalu dengan sigap mengambil senjata Cakra. Senjata segera dipasangkan pada busur panahnya.


“Dinda Arjuna, jika dinda tidak tega untuk menghabisi Eyang Bisma, biarlah saya yang akan maju perang untuk melawan Resi Bisma” ucap Kresna sambil bersiap akan melepaskananak panah kea rah Resi Bisma.


Di luar dugaan, Beghawan Bisma bukannya menghindar dan lari dari pusaka mahadahsyat milik Prabu Kresna. Namun Resi Bisma justru maju menuju kea rah Prabu Kresna.

__ADS_1


“Jika pukulun berkenan menghantarkan orang tua ini untuk menuju kea lam surge, dengan senang hati akan saya terima. Suatu kehormatan jika Sang Hyang Wisnu bersedia mengambil hidup saya yang hina ini” kata Bisma.


Melihat hal tersebut, Arjuna segera turun dari kereta kemudian perlahan lahan memegang busur panah milik Prabu Kresna dan menurunkannya. Dengan pelan dia berucap, “ Duh, kanda Prabu. Kanda Prabu mohon sabar dan jangan menuruti kehendak untuk berperang. Kanda prabu adalah pujangga dari para Pandawa. Kanda tidak seharusnya mengangkat senjata. Biarlah kami yang akan berperang. Jika sampai Kanda Kresna melepaskan senjata Cakra ke Eyang Resi Bisma, tentu akan menjadi kemurkaan terhadap jagad raya. Kanda prabu tetap membantu memberikan bimbingan”.


Setelah mendengar perkataan dari Arjuna, Kresna kemudian menurunkan busur panahnya dan menoleh kea rah Arjuna.


“Apakah dinda tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi?” Tanya Kresna.


“Iya Kanda Prabu, Arjuna berjanji”.


Setelah berkata demikian, akhirnya Prabu Kresna kembali ke kursi kusir kereta, sedangkan Arjuna kembali ke posisinya semula.


Beghawan Bisma meski usianya sudah tidak lagi muda, namun dia adalah mahasenapati dan ahli dalam hal ulah perang. Apalagi dalam hal memanah. Kemampuannya masih setingkat diatas Arjuna. Sehingga walaupun panah yang dilemparkan oleh Arjuna tidak terhitung jumlahnya, namun masih bis dihindari dengan mudah oleh Beghawan Bisma.


Namun sebagai konsekwensinya dan akibat yang ditanggungnya, wadyabala Kurawa menjadi korban amukan dari panah Raden Arjuna. Panah itu melesat di sekitar Resi Bisma, dan melukai siapapun yang ada di sekitar orang tua itu.


Wadyabala Kurawa menjadi kocar kacir. Banyak dari mereka yang harus terluka oleh panah Arjuna. Akhirnya di hari menjelang senja itu, kejadian hari kemarin terulang lagi. Kurawa harus menelan ludah dengan getir  ketika menyadari bahwa prajuritnya harus lari tunggang langgang meninggalkan tegal Kurusetra menghindari amukan panah dari sang Arjuna.


Waktu beranjak sangat cepat. Sang surya sudah bersiap untuk kembali ke peraduannya setelah lelah menyinari bumi dan menjadi saksi bisu perang saudara di tegal Kurusetra. Hilangnya sang surya, digantikan oleh malam yang membawa selimut hitam, membuat suasana menjadi gelap gulita.

__ADS_1


Tegal Kurusetra kembali dalam kesunyian. Yang tersisa hanyalah nyanyian burung pemakan bangkai yang kini jumlahnya menjadi semakin banyak dari hari hari kemarin. Suara burung itu, laksana menyanyikan kidung kematian. Tak ada yang tahu, siapa yang akan membunuh siapa hari esok, ataukah siapa yang akan dibunuh siapa. Perang memang kejam. Semua bisa saja terjadi, dan semuanya harus selalu berani menghadapi apapun yang terjadi………………..


 


 


 


 


 


 


Selamat membaca…………………


 


 

__ADS_1


__ADS_2