
Seperti sudah diketahui, walaupun mendapatkan wejangan dari Sri Bisma yang sangat banyak, namun bagi Daryudana itu bukan merupakan penghalang untuk meneruskan keinginannya tetap menumpas para Pandawa.
Sementara itu, Raja Awangga Basukarna yang tidak mau maju ke medan perang selama Sri Bisma masih hidup, mengetahui Eyangnya saat ini sedang terluka parah, segera mendekat dan meminta maaf kepada Resi Bisma.
“Cucuku Karna, Eyang berharap kamu bisa mempertibangkan keputusanmu. Ingat, para Pandawa itu adalah saudaramu yang lahir dari rahim ibu yang sama yaitu Kunthi Talibrata. Jangan kamu turuti hawa nafsumu. Biarlah Eyang Bisma saja yang terlanjur menjadi begini” kata Bisma.
Dengan bercucuran airmata dan berat hati, Adipati Karna berkata lirih, “Maafkan saya kanjeng Eyang. Bukan berarti Karna berani membantah terhadap kehendak kanjeng Eyang. Tapi Karna tidak bisa menuruti kehendak Kanjeng Eyang.
Bertahun tahun Karna merasa tidak punya siapa siapa dan hanya terasing seorang diri. Di hadapan Kanda daryudana lah Karna merasa menjadi sosok manusia yang dimanusiakan. Jadi walaupun berat untuk berperang melawan adik adikku para Pandawa, tapi itu sudah menjadi pilihan Karna.
Karna ingin melakukan seperti yang Eyang lakukan. Kalaupun harus mati, tapi mati dalam membela bangsa dan bumi pertiwi yang telah member kehidupan kepada kita”.
Perkataan Karna yang panjang lebar tadi membuat airmata Resi Bisma tidak terbendung. Terbayang di wajahnya, bagaimana mereka sepeninggalnya akan saling bunuh, saling serang, saling tending. Sungguh sesuatu yang sangat tidak diharapkan oleh siapapun yang menjadi orang tua seperti dirinya.
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, Karna kemudian mencium tangan Resi Bisma yang sekarang sudah basah leh darah yang menetes dari seluruh luka yang disebabkan oleh anak panah yang menancap di tubuhnya. Karna meminta restu Bisma, agar bisa menang melawan para Pandawa.
Walaupun Sri Bisma tahu bahwa yang akan mendapat restu dari dewa di peperangan ini adalah para Pandawa, namun dengan tulus Resi Bisma memberikan restu kepada Adipati Bsukarna untuk maju menjadi senapati bagi para Kurawa.
Para Pandawa dengan didukung oleh Kresna yang merupakan titisan dari Dewa Wisnu, tentu saja akan tahu semua yang akan terjadi. Bagaimana akan melawan kehendak takdir. Walaupun dengan cara apapun sebenarnya Kurawa akan tetap kalah, itulah keyakinan dari Sri Bisma.
Namun untuk membesarkan hati Karna dan para Kurawa, sang eyang hanya berpesan kepada para Kurawa untuk berhati hati. Jika memang perang tidak bisa dihentikan, dia berharap siapapun yang menjadi pemenang, akan bisa menjadi pengayom bagi para kawula Hastina dan Indraprastha.
Setelah matahari terbenam, semua mata tertuju pada satu sosok yang masih terbaring di tegal Kurusetra. Perlahan lahan mata Sri Bisma mulai terpejam. Dan sang Beghawan Bisma menepati janjinya pada Dewi Amba dan para Pandawa. Sri Bisma pergi ke alam baka.
Semua bersedih……….
Siapakah sebenarnya Sri Bisma?
Dewi Gangga sebenarnya adalah seorang bidadari dari surge yang turun ke dunia. Pada saat Prabu Sentanu berada di pinggir sungai Gangga bertemulah dia dengan Bethari Gangga. Dari perjodohannya tersebut lahirlah Beghawan Bisma.
Raden Dewabrata dari muda tidak pernah suka menduduki jabatan raja. Ketika Prabu Sentanu sudah beranjak tua, dia malah meminta adiknya yang merupakan putra Prabu Sentanu dengan istri kedua nya yang bernama Dewi Setyawati. Permasalahannya adalah, adik Dewabrata yang bernama Wicitrawirya itu belum mempunyai istri. Dan syarat untuk menjadi seorang raja harus punya istri dulu.
Akhirnya Raden Dewabrata pun mencarikan istri untuk adiknya.
Pada saat itu, di Negara Kasipura ada sayembara perang soka. Siapa saja yang berhasil mengalahkan putra Kasipura yang bernama Wahmuka dan Arimuka, dia berhak memboyong dan memperistri putri kerajaan yang sangat cantik yang bernama Dewi Amba. Ambalika dan Ambaini.
__ADS_1
Pada saat itu, Raden Dewabrata pamit pada ayahnya Prabu Sentanu untuk pergi ke Kasipura.
Pada waktu itu, Dewabrata tidak berperang melawan Wahmuka dan Arimuka. Tapi kereta yang dikendarainya diarahkan ke tempat Dewi Amba, Ambalika dan Ambalini. Kemudian ketiga putrid itu dibawa lari menuju ke Negara Hastina.
Kesaktian Dewabrata memang luar biasa, walaupun saat itu ada ribuan raja dan satria dari seribu Negara, tidak ada yang berhasil untuk merebut dan menang melawan Dewabrata.
Singkat cerita, akhirnya Ambalika dan Ambalini diperistri oleh Wicitrawirya. Beda cerita dengan Dewi Amba, dia terlanjur jatuh cinta dengan Dewabrata. Namun karena Dewabrata sudah bersumpah untuk hidup sendirian sebagi pertapa dan tidak akan menikah, dia tidak bersedia menikah dengan Dewi Amba.
Namun walaupun sudah dibujuk secara halus, Dewi Amba tetap memaksa untuk menjadi istri dari Dewabrata. Alasannya, sesuai perjanjian, siapapun yang berhasil memenangkan sayembara, dia akan menjadi suaminya. Dan memang Dewabratalah yang memenangkan sayembara itu.
Karena sudah kehabisan akal, akhirnya Raden Dewabrata menempuh jalan terakhir. Dia mengambil busur dan mengarahkan anak panah pada Dewi Amba. Niatnya adalah untuk menakut nakuti wanita itu agar tidak tetap ingin menjadi istrinya.
Namun takdir berkata lain, saat panah itu sudah ada dibusurnya, tiba tiba tanpa sengaja terlepas dan tepat mengenai Dewi Amba. Sampai kemudian Dewi Amba meninggal dunia dan menurunkan sumpahnya yang berakhir dengan kematian Resi Bisma di peperangan Bharatayuda melawan Dewi Srikandi.
Itulah sekelumit cerita tentang Dewabrata atau Sri Bisma.
Seru ya, itu kalau dibuat cerita bisa jadi satu novel lo……
Thanks ya untuk semua readers yang telah memberikan kritik dan saran atau cerita yang ingin menginspirasi, mudah mudahan kami bisa memenuhi keinginan readers semua.
Sekarang kita lanjutkan dulu serial Bharatayuda ini sampai selesai dulu ya……….
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan share ke teman teman readers agar lebih banyak yang bisa mengambil hikmah dari cerita ini…..
Selamat membaca………………..