
Setelah mendengar apa yang menjadi petuah dan petunjuk dari Sang Maharesi Bisma, hati para Pandawa menjadi sedikit tenang. Selama ini yang paling ditakuti dari para sesepuh Negara Hastina itu adalah Beghawan Bisma. Karena beliaulah yang merupakan sesepuh dengan kekuatan yang tidak tertandingi oleh siapapun.
Dengan ditunjukkannya kelemahan dari sang Maharesi Bisma, berarti terbuka peluang bagi para Pandawa untuk bisa mengalahkan nya dalam peperangan nanti.
Setelah selesai menghaturkan sungkem dan sembah kepada para sesepuh yaitu Sang Maharesi Bisma, Sang Guru Druna, Prabu Salya dan Resi Karpa, para Pandawa kembali ke tepi tegal Kurusetra sebelah barat. Mereka mempersiapkan untuk memulai perang suci Bharatayuda Jayabinangun,
****
Pada hari yang telah ditentukan, tersebut dalam kitab Mahabharata, inilah hari dimana dimulainya perang besar yang melibatkan keturunan darah Bharata atau keturunan dari Eyang Abiyasa. Pertempuran memperebutkan Negara Hastina dan Negara Indrapasta atau Amarta.
Tambur, gendering, sirine dan lonceng tanda perang telah dibunyikan. Para Pandawa dan Kurawa saling tantang tantangan dan saling mengejek satu dengan yang lain. Mereka sudah tidak lagi memperdulikan bahwa yang dihadapannya adalah saudaranya sendiri. Yang ada hanyalah lawan atau kawan. Tidak ada saudara, keluarga, family, adik, kakak, eyang ataupun kekerabatan yang lain. Yang ada adalah kau berdiri disisi barat atau disisi timur. Jika aku dibarat, maka siapapun yang berdiri disisi timur adalah lawanku, begitupun sebaliknya.
Tak berselang lama, peperangan itu segera terjadi. Para prajurit Pandawa dan Kurawa saling menyerang. Mereka menggunakan segala macam peralatan perang, mulai dari tombak, panah, pedang, gada, keris dan berbagai peralatan perang yang lain. Pekik kemenamgan berpadu dengan suara musuh yang kesakitan, sungguh sangat memiriskan telinga siapapun yang mendengar.
Prajurit Hastinapura yang dipimpin oleh Raden Dursasana meskipun kalah dalam hal perang, namun jumlah mereka sangatlah banyak, sehingga dia bisa mengurung seorang prajurit dengan dua atau tiga orang sekaligus. Sebaliknya para prajurit Pandawa, yang dipimpin oleh Raden Werdukara walaupun kalah dari segi jumlah, tapi mereka lebih lihai dalam bertarung. Sehingga walaupun menghadapi musuh lebih dari satu orang, mereka belum terlalu kerepotan.
Melihat hal tersebut, sang Maharesi Bisma sebagai senopati perang pertama dari para Kurawa segera maju dengan membawa kereta perang lengkap dengan busur panah yang ada ditangannya. Kemudian dengan kepiawaiannya, dia melepaskan busur panah tersebut kea rah para prajurit Pandawa.
Sungguh luar biasa, panah panah yang dilepaskan oleh Beghawan Bisma seperti punya mata. Dia berputar putar diantara para prajurit Kurawa dan Pandawa. Namun anehnya, panah itu tidak akan menyerang prajurit dari Kurawa.
__ADS_1
Akibatnya, banyak dari prajurit Pandawa yang terpaksa harus ditandu keluar arena pertempuran karena terluka oleh panah panah dari Sang Maharesi Bisma. Ada diantara mereka yang terluka ditangan, di kaki, di badan, bahkan ada beberapa yang terluka parah dan hampir menemui ajalnya.
Suasana saat itu benar benar membuat miris siapapun yang melihatnya. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana harus menghentikan sepak terjang dari sesepuh Hastina yang satu ini……..
Mengetahui hal itu, tiba tiba dari pakuwon Pandawa Manggalayuda tiba tiba muncul satriya mudayang berparas tampan keluar sambil membawa busur panah siap ditangan. Pemuda itu adalah Raden Partasuta atau Raden Abimanyu. Raden Partasuta tidak kuasa menahan kesedihan melihat para prajurit Pandawa banyak yang terluka oleh ranjapan panah dari Resi Bisma. Tanpa diduga, pemuda itu kemudian menaiki kereta perang dan secepat kilat membawa busur panah mendekati kereta perang yang dikendarai oleh eyang buyutnya Sang Maharesi Bisma.
Kejadian itu sangat cepat dan tidak diduga oleh siapapun. Sambil menghela kereta kuda yang ditmpanginya, pemuda ini berhasil melepaskan anak panah menuju kea rah Prabu Salya, Durmuka dan Resi Karpa. Akibat serangan itu, akhirnya Durmuka sang kusir dari kereta perang Sang Maharesi Bisma harus gugur akibat anak panah dari sang Partasuta.
Tidak hanya itu, bahkan busur panah milik Resi Karpa pun harus patah akibat terjangan anak panah dari Raden Abimanyu.
Kecekatan dan ketangkasan dari pemuda yang merupakan putra dari Raden arjuna itu membuat takjud para pepunden Hastina. Termasuk Prabu Salya, Resi Karpa, Beghawan Bisma maupun Guru druna. Mereka dibuat tidak percaya dengan kemampuan pemuda itu.
Ulah krida dari sang abimanyu membuat para pemimpin pasukan Kurawa berinisiatif untuk menyerang pemuda itu bersamaan. Namun Sang Partasuta tidak gentar sedikitpun, dengan kreta bergambar bunga matahari yang berkibar kibar, dia terus mengamuk menghajar siapapun yang berusaha menghentikan sepak terjangnya.
Bahkan pada akhirnya, bendera yang berada di kereta Resi Bisma yang bergambar kelapa dan bintang lima pun tidak luput dariserangan Sang Abimanyu. Bendera itupun patah dan jatuh ketanah.
Para Kurawa masih terus berusaha mengepung dan menyerang Abimanyudari segala penjuru. Mereka tidak sedikitpun memberikan ruang gerak pemuda itu untuk lebih leluasa lagi dalam mengobrak abrik barisan para Kurawa.
__ADS_1
Melihat Raden Abimanyu dikepung dari berbagai penjuru, dari kiri, dari kanan,dari depan dan dari belakang. Prabu Matswapati, Raden Bima, Raden Drestajumena dan Raden Utara segera maju untuk memberikan pertolongan.
Raden Utara segera merangsek maju menuju ke arah Raja Mandaraka Prabu Salya. Dengan gagah berani Raden Utara menyerang sesepuh Hastina itu, suara dentingan senjata beradu dan pekikan semangat membahana di semua penjuru tegal Kurusetra.
Peperangan antara Raden Utara dan Prabu Salya berlangsung sangat sengit. Dengan mengendarai kuda, Raden Utara terus menyerang kereta kuda yang dikendarai oleh Prabu Salyapati. Perlawanan yang ditunjukkan oleh Raden Utara sunggh sangat luar biasa, bahkan ketika mendapatkan kesempatan yang bagus, Raden utara mampu menyabetkan tombak yang dibawanya kea rah kereta kuda milik Prabu Salya. Kereta itupun seketika hancur dan dibarengi dengan matinya kuda penarik kereta karena terkena amukan dari Raden Utara.
Mengetahui hal tersebut, Parbu salyapati marah bukan kepalang. Dia kemudian mengambil kuda salah satu prajurit Kurawa. Kemudian berganti menyerang Raden Utara. Sekarang penunggang kuda berperang melawan penunggang kuda. Yang menjadi perbedaaan adalah Prabu Salya kelihatan lebih menguasai peperangan. Itu karena darisegi siasat perang, ilmu kanuragan ataupun tehnik menunggang kuda dan juga pengalaman dalam peperangan Prabu Salya jelas menang jauh dibandingkan dengan Raden Utara.
Dan benar saja. Peperangan itu kelihatan berimbang hanya dalam hitungan menit, sampai kemudian Nampak Raden Utara sudah sedikit kewalahan menghadapi serangan serangan dari Prabu Salya. Hal itu tidak disia siakan oleh Prabu Salya. Dia terus merangsek memepet agar Raden utara kehilangan ruang gerak.
Sampai pada suatu saat, Prabu Salya berkesempatan menghantamkan tombknya kea rah tengkuk Raden Utara. Pemuda itu kemudian terjatuh dari atas kudanya, namun sebelum sempat mengetahui dan sadar apa yang terjadi, pukulan kedua dari tombak yang dipegang oleh Prabu Salya kembali menghantam bagian belakang dari kepala Raden utara, membuat pemuda manggalayuda Pandawa itu menghembuskan nafas terakhir dan gugur di medan laga……….
Makin seru kan ceritanya readers tercinta?
Oleh sebab itu, jika berkenan dengan cerita ini, mohon dukungan vote, like dan tips dari readers semua.
Jangan lupa ajak juga keluarga,sahabat, dan putra putrid anda untuk membaca cerita ini. Kisah kisah kepahlawanan dari para satriya Pandawa akan banyak yang bisa digunakan sebagai suri tauladan bagi kehidupan kita sehari hari.
Terimakasih untuk yang sudah memberikan support dan dukungan. Juga terima kasih kepada sahabat yang telah mendukung dubbing BHARATA FM TRENGGALEK, sehingga dubbing PENDEKAR DEWA MATAHARI dan LEGENDA NINJA ANGIN tetap masuk di peringkat terpopuler audiobook.
__ADS_1
Selamat membaca……..