PERANG BHARATAYUDA

PERANG BHARATAYUDA
Episode 23 Asmara Berdarah Raden Dewabrata


__ADS_3

 


 


 


 


Semua orang terkejut. Terutama para Kurawa yang tidak menyangka bahwa salah satu panah yang dilepaskan oleh Dewi Srikandi itu tepat mengenai Beghawan Bisma. Padahal saat itu banyak sekali para Kurawa yang ada di sekitar Resi Bisma untuk membantu menghalau panah panah itu dan melindungi Resi Bisma.


Tapi keterkejutan itu belum seberapa, para Kurawa itu makin terkejut lagi setelah mengetahui Resi Bisma yang semula marah luar biasa, tapi kemudian dia diam dan menunduk. Tidak melakukan apa apa. Sungguh merupakan hal yang janggal dan tidak masuk di akal, piker mereka. Di saat Resi Bisma terluka oleh panah dan masih kuat untuk membalas bahkan untuk menghancurkan Pandawa, namun Resi Bisma malah termenung.


Lain yang ada di pikiran para Kurawa. Lain pula yang saat ini dirasakan oleh Beghawan Bisma.


Perlahan lahan bayangan Raden Dewabrata atau Resi Bisma tatkala masih muda terlihat jelas di matanya. Sosok Raden Dewabrata yang merupakan kesatriya yang gagah dan perkasa, banyak wanita yang berusaha mendapatkan hati dari pria itu.


Tapi Raden Dewabrata masih belum memiliki hasrat untuk membangun rumah tangga dan mengambil seorang istri.


Tersebutlah seorang putri dari Kasipura, yang bernama Dewi Amba. Dia sangat ingin diperistri oleh Raden dewabrata, namun niat baik dari Dewi Amba ternyata berakhir tragis. Ketika itu Sang Dewabrata atau Bisma muda melepaskan anak panah dan tepat mengenai Dewi Amba. Di tengah keterkejutan dari Dewi Amba dan saat sudah akan menghembuskan nafas terakhirnya, dia yang sangat marah karena bukan hanya cintanya yang ditolak oleh Dewabrata tapi malah dia harus kehilangan nyawa. Maka dia bersumpah, bahwa akan menuntut balas terhadap apa yang telah dilakukan oleh Dewabrata.


Terngiang jelas di telinga Dewabrata atau Bisma, kata kata dari Dewi Amba.


“Raden Dewabrata, kau boleh bangga karena telah berhasil membunuhku. Tapi jangan senang dulu. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah merelakan kematianku. Suatu saat nanti, aku akan menuntut balas. Panah ini, akan menusuk dadamu seperti halnya panah ini menusuk dadaku.


Saat itu adalah, ketika kamu maju menjadi senapati dan menghadapi senapati wanita. Itulah saat dimana aku akan menuntut balas kematianku terhadapmu. Ingat Dewabrata. Ingat itu……. “


Kata kata Dewi Amba itu benar benar terngiang jelas di telinga Beghawan Bisma.

__ADS_1


Dia tidak kuasa menahan kesedihan mengingat hal itu. Pada saat itu sebenarnya Raden Dewabrata tidak sengaja melepaskan anak panah tersebut. Namun sengaja atau tidak, itu telah membuat Dewi Amba harus tewas ditangannya.


Pada saat itu, sebagai rasa penyesalannya terhadap peristiwa tersebut Raden Dewabrata bersumpah tidak akan melakukan perbuatan yang bisa melukai hati apalagi tubuh seorang wanita, walaupun di dalam peperangan. Dan inilah alasan dari Raden Dewabrata atau Resi Bisma tidak mau untuk melawan seorang wanita.


Bagi Resi Bisma, menepati janji adalah salah satu darma seorang satriya yang harus ditepati walaupun resikonya sangat besar.


Dan itu dibuktikan dengan tidak melakukan perlawanan sedikitpun dengan apa yang telah dilakukan Dewi Srikandi. Ketika Resi Bisma mencoba untuk menatap wajah Dewi Srikandi, dia sangat terkejut, karena yang dia lihat bukan istri dari Arjuna, tapi Dewi Amba yang menatap wajahnya dengan penuh kemarahan.


Lain Resi Bisma, lain pula dengan Dewi Srikandi. Wanita itu tidak memperdulikan apakah Resi Bisma mau melawan atau tidak. Dia terus melepaskan panah demi panah mengarah ke Beghawan Bisma. Sementara itu, para prajurit Kurawa yang menghadang laju panah Dewi Srikandi tidak terlalu menolong. Panah tersebut terus melesat menuju kea rah Resi Bisma.


Sementara itu, keadaan Resi Bisma makin mengkawatirkan. Sudah beberapa anak panah menembus punggung, tangan, kaki, paha dan banyak bagian tubuh lainnya yang sudah tertancap anak panah.


Resi Bisma berguman pelan, “ Dewi Amba, mungkin sekarang sudah saatnya aku harus menepati janji. Hutang pati disaur pati, hutang nyawa dibayar nyawa. Maafkan aku Dewi Amba……”.


Resi Bisma tidak kuasa menahan airmatanya yang terus menetes. Pada saat itu, dia merasakan sebuah anak panah menancap tepat di lehernya. Resi Bisma bukan hanya pintar olah perang. Tapi juga sangat tahu segala apa yang terjadi walaupun dia tidak melihat secara langsung.


Makin lama, panah yang dilepaskan oleh Dewi Srikandi dan arjuna makin banyak. Bahkan kereta yang ditumpangi oleh Resi Bisma saat ini sudah mulai tidak terbentuk. Kereta itu kini sudah peyok di sana sini.


Ada beberapa bagian kereta yang saat ini juga sudah terlepas dari tempatnya. Kini para prajurit Kurawa bahkan sudah mulai menyingkir dari sekitar kereta.


Sungguh pemandangan yang memilukan. Sekali lagi, inilah perang. Di kala manusia sudah dikekang oleh egonya, maka apapun akan terjadi.


Semakin lama, jumlah anak panah yang ada di tubuh Resi Bisma semakin tidak terhitung. Darah bercucuran membuat warna kereta dan baju Resi Bisma semua berwarna merah.


Setelah berkali kali terkena anak panah yang dilepaskan oleh Arjuna, akhirnya kereta kuda milik Resi Bisma itupun hancur.


Mengetahui hal itu, Resi Bisma segera melompat dari atas kereta, lalu dengan membawa tameng dan pedang di kemudian lari menuju kea rah Raden Arjuna. Namun Sang Arjuna yang saat itu memang tidak terluka sama sekali karena sang Bisma tidak melepaskan panah satupun, dengan sigap menghindar. Lalu melepaskan panah mengarah ke tameng dan pedang Sang Eyang Bisma.

__ADS_1


Seketika itu juga, tameng itu hancur, sedangkan pedang yang dibawa oleh Resi Bisma itu patah menjadi dua bagian. Hal itu membuat Resi Bisma terkejut.


Namun, belum hilang keterkejutannya itu, tiba tiba sebuah anak panah kembali menembus punggungnya. Sang Maharesi Bisma menjadi limbung. Kakinya kini terasa berat. Dia tidak lagi mampu untuk menopang tubuhnya yang besar.


Perlahan lahan, tubuh Sang Maharesi Bisma itupun ambruk ke tanah. Ambruknya tubuh itu bagaikan pohon beringin yang tercabut dari akarnya.


Semua mata memandang tubuh tua itu dengan miris.


Bagaimana tidak, Sang Bisma jatuh tidak ke tanah, tapi tubuhnya berada diatas anak panah yang banyak sekali menembus punggungnya. Tubuh itu terlentang dan beralaskan panah panah yang menancap di seluruh tubuhnya. Hanya kepala Sang Maharesi Bisma yang terlihat menggantung dan menjuntai ketanah.


Para Pandawa dan para Kurawa hampir semua menutup mata, tak kuasa menatap wajah sang Pahlawan Sejati.


Bukan hanya manusia, para dewa yang berada di Kahyangan Repat Kepanasan pun semua menunduk member hormat. Mereka sangat kagum dengan jiwa kesatriya yang dimiliki oleh Sang Maharesi Bisma.


Tiba tiba, disaat semua orang tertegun dan tak kuasa menahan air mata, sang Bisma berucap pelan.


“Tolong bawakan aku bantal, kepalaku terlalu rendah. Berikan bantal agar kepalaku lebih tinggi”


………………..


……


Bersambung……………….


 


 

__ADS_1


__ADS_2