
Note: Readers tercinta, kemarin Bharata FM Trenggalek mulai mendubbing novel Pendekar Macam Putih. Jika berkenan silahkan didengarkan, dan mohon dukungan kritik serta sarannya ya……
terima kasih …..
Sementara itu, Raden Bima yang ditantang oleh Raja dari Negara Girikasapta Prabu Gardhapati sudah sampai di tempat yang dituju. Setelah mereka saling berhadapan, mereka pun segera mengeluarkan kesaktiannya masing masing.
Prabu Gardhapati adalah seorang raja yang bertubuh tinggi besar dan ahli dalam menggunakan pedang dan gada. Dia sangat mahir dan lihay dalam berperang. Dengan tubuh yang tinggi besar, maka akan sangat mendukung dengan senjata gada atau pedang. Karena gada dan pedang adalah senjata yang besar dan berat. Sehingga membutuhkan tubuh dan kekuatan yang besar juga.
Sama halnya dengan Raden Bima atau Raden Werkudara. Dengan tubuh yang tinggi dan besar serta tenaga yang kuat, seperti dibuktikan saat Raden Bima membabat Alas Wanamarta ketika membuat Negara Amarta. Tentu saja, Raden Bima juga mengandalkan sebuah gada yang sangat besar yaitu, GADA RUJAKPOLO. Sebuah gada yang belum tentu mampu diangkat oleh 10 orang biasa.
Jika saja mereka bertempur di tengah tengah para prajurit Kurawa dan Pandawa, tentu gada yang mereka gunakan akan sangat banyak memakan korban para prajurit itu.
Duuuaarrrrrr…….
Dentuman dan hantaman gada saling beradu silih berganti. Suaranya mengelegar memcahkan gendang telinga siapapun yang mendengarnya. Bahkan ketika gada itu beradu, tanah di sekitar mereka menjadi bergetar laksana diguncang gempa bumi.
Sudah tak terhitung gada itu saling beradu, bisa ratusan kali bahkan mungkin sudah ribuan kali. Kadangkala, Raden Bima bisa mendesak Prabu Gardhapati dan memaksanya untuk mundur. Namun tidak jarang pula, Raden Bima harus kewalahan ketika gada Prabu Gardhapati terus memepetnya dengan cepat.
Pertarungan masih berimbang. Masing masing masih menunjukkan keperkasaannya dalam hal olah perang. Sudah tidak terhitung lagi jumlah pohon kelapa dan bakau yang hancur terkena sabetan gada mereka. Apalagi, tubuh kekar mereka berdua mempunyai stamina yang sangat kuat.
__ADS_1
Namun pada suatu ketika, dikala Raden Bima sedang sibuk menangkis serangan Prabu Gardhapati, dia terdesak dan mundur beberapa langkah. Tanpa disadari, dibelakang Raden Bima ada rawa yang berlumpur dalam. Mau tidak mau, kakinya terjermbab ke dalam lumpur itu sampai sebatas lutut.
Prabu Gardhapathi yang mengetahui hal itu girang bukan main.
Dia tertawa terbahak bahak.
“Hahaha……. Ternyata hanya seperti itu kemampuanmu Raden Bima. Ternyata omongan dan kemasyuran tentang cerita Bima yang berhasil membabat hutan untuk dijadikan istana itu hanya omong kosong saja. Apa kau hanya mampu numpang tenar? Sedangkan mungkin saja yang bekerja itu adalah orang lain ?”
Prabu Gardhapati terus mengoceh sambil mengejek Raden Bima.
Sementara itu, Raden Bima tidak begitu memperdulikan ocehan dari Prabu Gardhapati. Dia hanya berusaha untuk keluar dari lumpur rawa yang menjebaknya secepat mungkin.
Prabu Gardhapati terus tertawa sambil mengoceh tidak karuan, dia lupa bahwa sebenarnya Raden Bima tidak apa apa dan tidak terluka sedikitpun. Dia hanya terjebak di dalam lumpur saat menghindari seragan Prabu Gardhapati.
Merasa diatas angin, Prabu Gardhapati lalu menimang nimang gada yang ada di tangannya. Dia tidak menyadari bahwa Raden Bima sudah hampir berhasil keluar dari kubangan lumpur yang menjebaknya.
Saat Prabu Gardhapathi masih lengah dan tidak memperdulikan keadaan Raden Bima, dengan sekuat tenaga, Raden Bima meloncat dengan berpijak pada batu yang ada ditepi lumpur itu.
Seketika tubuhnya melesat keatas dan sudah menggenggam gada yang siap di pukulkan kea rah Prabu Gardhapati.
__ADS_1
Bukan main terkejutnya Prabu Gardhapati, dia berusaha menghindari ayunan dari gada Raden Bima. Namun itu sudah terlambat. Walaupun gada itu tidak tepat mengenai kepala dari Prabu Gardhapati, namun bahu kirinya sempat tersenggol oleh gada yang terbuat dari kuningan itu.
Akibatnya fatal, tubuh Prabu Gardhapati terpental dan tersungkur ke tanah.
Raden Bima tidak berkata apa apa, dia hanya mendengus kemudian melompat ke dekat Prabu Gardhapati. Secepat kilat, gadanya diayunkan ke tubuh Raja Girikasapta itu. Tubuh Prabu Gardhapati terbelah menjadi dua. Darah memuncrat dari bagian tubuh yang terkena gada itu. Akhirnya Raja Girikasapta itupun tewas seketika.
Setelah mengetahui Prabu Gardhapati tewas, Raden Bima segera meloncat dan berlari meninggalkan mayat raja itu begitu saja.
Dia berlari sangat cepat kembali ke tegal Kurusetra, karena dalam hatinya merasa tidak enak. Dalam perasaannya, ada sesuatu yang terjadi di Kurusetra selepas kepergiannya memenuhi tantangnan Raja Girikasapta.
.
.
.
Bersambung . . . . . . . .
__ADS_1