
Setelah kematian dari Prabu Baka akhirnya Pandawa sudah mendapatkan Tawur satu orang yaitu Bambang Rawan.
Di lain tempat, ketika Raden Premadi atau Raden Janaka sedang mencari makanan untuk adiknya Nakula Sadewa, atau Raden Pingten dan Tangsen. Perjalanannya mencari makanan sampai bertemu dengan seorang wanita yang sedang berada di sebuah mata air. Dalam bahasa jawa disebut ‘sendang’.
Sendang itu terletak di lembah sebuah bukit. Raden Arjuna berniat mencari air untuk minum adik adiknya, namun betapa terkejutnya dia ketika mendapati saat itu seorang wanita sedang mandi.
Karena sama sama terkejut, akhirnya wanita tersebut mengira bahwa Raden Arjuna akan berbuat tidak senonoh terhadapnya. Akhirnya dia segera meraih pakaiannya dan lari menuju rumahnya.
Raden Arjuna yang belum menyadari apa yang terjadi, di tengah kebingungannya, dia tidak ingin terjadi kesalahfahaman diantara mereka. Akhirnya Raden Arjuna membuntuti wanita itu sampai di rumahnya.
Tersebutlah sebuah rumah kecil yang dihuni oleh sepasang suami istri. Dia sudah lama menikah. Dia bernama Resi Sagotra. Dan istrinya Nyai Sagotra.
Pada saat itu perasaan Raden Permadi atau Raden Arjuna sangat kawatir, dia mengira akan terjadi salah faham diantara mereka, karena Nyai Sagotra pulang dari sendang dalam keadaan basah dan berlari sambil menangis.
Namun alangkah terkejutnya Raden arjuna, setelah mengetahui Resi Sagotra malah menyambutnya dan bersujud mengucapkan terima kasih kepada nya yang tak terhingga.
“Maaf Paman Resi. Saya tidak habis piker. Nyai Sagotra tadi berlari sambil menangis karena takut saya berbuat yang tidak tidak dengannya. Tapi sampai disini, Paman Sagotra malah berterima kasih kepadaku. Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Arjuna.
“Anak muda, aku sangat berterima kasih padamu. Kamu sudah membantu persoalan yang sedang aku hadapi selama ini” kata Resi Sagotra.
Dia menceritakan penderitaannya selama ini. Sudah hampir setahun dia menikah, namun Nyai Sagotra belum pernah mau melayaninya sebagaimana layaknya seorang istri. Hingga rasa putus asa menghantui pikiran dan perasaan Resi Sagotra.
Namun karena peristiwa yang terjadi di sendang tadi, karena ketakutan akhirnya Nyai Sagotra memeluk Resi Sagotra dan bersedia menjadi istri yang baik. Itulah yang membuat perasaan Resi Sagotra hari ini sangat bahagia.
Sebagai wujud rasa bahagianya, dia akan berbuat apa saja untuk membalas kebaikan Raden Arjuna.
__ADS_1
“Siapakah namamu anak muda, dan ada keperluan apa kamu ada di tempat ini?” Tanya Resi Sagotra
Kemudian Raden Arjuna menceritakan perjalananya sekaligus apa yang telah dialaminya bersama Nyai Sagotra. Bahwa dia sebenarnya bermaksud untuk mencari makanan bagi adik adiknya yang masih kecil. Dan pergi ke sendang untuk mencari air untuk minum mereka. Namun kemudian kejadian yang tak terduga tadi terjadi.
Raden Arjuna juga menceritakan bahwa dia adalah salah satu dari Pandawa lima yang sedang menghadapi perang besar Bharatayuda. Dan sedang mencari orang yang bersedia dengan sukarela untuk menjadi tawur atas kemenangan para Pandawa.
Mengetahui hal itu, bukan main girangnya Resi Sagotra. Dia bersedia menjadi tawur atau tumbal yang diperlukan untuk kemenangan Pandawa.
“Raden Arjuna, izinkanlah aku untuk menjadi tawur demi kemenangan para Pandawa” kata Resi Sagotra mantap.
“Paman Sagotra, apakah paman sudah berpikir masak masak?” Tanya Arjuna.
“Iya Raden. Aku sudah memikirkannya dengan baik. Aku berharap Raden dan para Pandawa mau menerima aku sebagai Tawur kemenangan para Pandawa di perang suci Bharatayuda” kata Resi Sagotra.
Akhirnya karena Resi Sagotra dianggap memenuhi syarat untuk menjadi tawur, yaitu orang yang dengan sukarela dan kerelaan hati dengan iklhas yang bisa dijadikan tawur, maka Raden Arjuna menerima Resi Sagotra sebagai tawur pada saat perang Bharatayuda.
Pada suatu hari yang sudah ditentukan, para Pandawa mengadakan sesaji untuk mempersambahkan tawur kepada Sang Hyang Widi Wasesa.
Setelah mengikrarkan keiklhasan hati dan keteguhan jiwanya, Resi Sagotra dan Bambang Rawan segera melaksanakan ritual tawur. Dan ketika asap telah mengepul dari tungku yang digunakan untuk pemujaan telah membumbung tinggi, para Pandawa berharap dengan tawur itu mereka bisa memenangkan peperangan melawan Kurawa di Bharatayuda.
******
Lain halnya yang terjadi dengan Kurawa, karena keteguhan Prabu Daryudana untuk mempertahankan Negara Hastina dan Amarta, maka dia harus bersiap untuk menghadapi perang besar tersebut.
Kemudian Prabu Daryudana juga mempersiapkan strategi perang. Dia memerintahkan semua senoati dan prajurit Negara Hastina untuk membuat pesanggrahan di Bulupitu. Disana mereka akan mempersiapkan perang besar yang disebut perang Bharatayuda.
Untuk memohon kemenangan dalam peperangan, kemudian Prabu Daryudana meminta kepada Patih Sangkuni dan Raden Dursasana untuk mencari tawur. Yaitu orang yang secara sukarela mau dipersembahkan sebagai tumbal kemenangan dari para Kurawa.
__ADS_1
Perjalanan Patih Sangkuni dan Raden Dursasana masuk kampong keluar kampong, naik turun gunung sampai ke pelosok pelosok desa, mereka mencari orang yang bersedia menjaditawur. Tapi karena Kurawa tidak pernah menebar kebaikan sama sekali, tidak ada orang yang mau atau bersedia menjadi tumbal bagi para Kurawa.
Perjalanan mereka sampai pada tepian sungai Cingcinggoling, disana dia melihat ada dua orang sedang mencari pasir kali atau yang lazim disebut penambang.
Kemudian Patih Sengkuni memerintahkan Dursasana untuk memanggil orang itu.
“Dursasana, coba panggil dua orang itu. Suruh dia kemari” Kata sengkuni.
Kemudian dengan perawakannya yang kasar, Dursasana segera menghampiri dua orang itu.
“He kamu dan kamu. Cepat kemari. Paman patih memanggil kalian” kata Dursasana.
Lalu dua orang itu dengan ketakutan berlari kea rah mereka. Kemudian Sangkuni segera menceritakan niatnya untuk meminta dua orang itu bersedia menjadi tawur bagi kemenangan para Kurawa,
Tentu saja hal itu ditolak mentah mentah oleh dua orang penambang pasir yang bernama Sarka dan Tarka itu. Dia tidak merasa berhutang budi kepada para Kurawa. Jadi untuk apa dia mau dijadikan tumbal untuk kemenangan mereka.
Karena merasa sudah putus asa, akhirnya Patih Sangkuni membisikkan sesuatu kepada Dursasana. Sarka dan Tarka sebenarnya sudah curiga. Namun sebelum sempat berbuat banyak, tiba tiba Dursasana sudah memukul leher mereka dengan gada dan tanpa sempat mengaduh kesakitan akhirnya mereka berdua harus meregang nyawa dengan cara yang sangat tidak beradab.
Sarka dan Tarka boleh mati. Namun kemudian terdengar suara Sarka dan Tarka yang bersahut sahutan di udara.
“Hay Dursasana, kau jangan jumawa. Kau bukan ksatriya sejati. Kau boleh bangga telah bisa membunuh kami dan menjadikan tawur atas jasadku. Tapi ingat. Pada saat perang Bharatayuda nanti, kami akan menuntut balas. Kau akan mati di tangan Raden Werkudara panegak Pandawa. Tunggulah saat pembalasanku”
Suara itu kemudian perahan lahan menghilang……….
Tinggalah Patih Sangkuni dan Raden Dursasana yang masih ketakutan. Namun itu tidak berlangsung lama. Akhirnya mereka kembali ke Negara Hastina setelah berhasil mendapatkan tawur, meskipun dengan cara culas dan jahat………………………..
Bersambung…………….
__ADS_1