PERANG BHARATAYUDA

PERANG BHARATAYUDA
Episode 5 Negara Gowa Selomangleng


__ADS_3

Kita tinggalkan perjalanan Prabu Kresna yang sedang mencari kemana perginya Sang Narpati Basukarna. Kita lihat yang terjadi di Negara Gowa Selomangleng. Sebuah negeri yang dihuni oleh para raksasa, yang berperawakan keras dan kasar.



Negara ini dipimpin oleh seorang raja yang juga raksasa. Narendra Yaksa itu bernama Prabu Kala Srenggi.


Pada saat itu, di paseban agung Gowa selomangleng. Sang Prabu Kala srenggi dduduk di singgasana. Di hadapannya para wadya yaksa lengkap hadir dibawah pimpinan dari Emban Kepetmega, yang merupakan raksasa berjenis kelamin perempuan yang menjadi patih di Negara Guwa Selomangleng.


Pada saat itu, sang raja sedang bersedih hatinya. Ingatannya menerawang, teringat pada kematian ayahandanya Prabu Jathayaksa. Dari keterangan yang diperoleh oleh Prabu Kalasrenggi, dari keterangan Ditya Kala Dremba, kematian Prabu Jathayaksa adalah karena pertempurannya dengan satriya Pandawa yang ketiga yang bernama Raden Janaka.


“Apakah benar, yang membunuh Prabu Jathayaksa adalah Janaka, Kala Dremba?” Tanya Prabu Kala Srenggi yang terlihat murka. Nampak kedua matanya berkilat kilat memancarkan warna merah menandakan jika kemarahannya sangat besar.


“Benar Gusti Prabu, hamba sendiri yang menjadi saksinya” kata Ditya Kala Dremba.


Mendengar hal itu, bukan main marah Prabu Kala srenggi. Dia inginvsecepatnya bertemu dengan orang yang bernama Raden Janaka. Dia harus membalaskan kematian Prabu Jathayaksa.


“Patih, kumpulkan semua prajurit. Aku ingin kita segera menemukan keberadaan orang yang bernama Janaka itu. Aku tidak akan pernah tenang, jika belum bisa menguliti tubhnya” seru Kala Srenggi.


“Sendika dawuh, Gusti Prabu” jawab Emban Kepetmega sambil undur diri untuk mempersiapkan pasukan mencari keberadaan Raden Janaka.


Akhirnya  diputuskan bahwa Negara Gowa Selomangleng akan mengerahkan wadyabala raksasa untuk mencari keberadaan dari satriya Madukara Raden Janaka.


Pasukan bersenjata lengkap yang terdiri dari raksasa, siluman, iblis dan para arwah gentayangan yang menjadi sekutu dari Prabu


Kalasrenggi berkumpul di alun alun Negara Guwa Selamangleng. Tujuan mereka


hanya satu, yaitu membantu Prabu Kalasrenggi untuk membalaskan dendamnya.


Setelah semua persenjataan dan perlengkapan sudah memadai,


akhirnya pasukan mereka segera berangkat mencari keberadaan Raden Janaka. Suara

__ADS_1


pasukan itu memekakkan telinga bagi yang mendengarnya. Siapapun yang berjumpa


dengan pasukan itu, jika tidak menyingkir jauh, sudah pasti akan habis tidak


tersisa oleh kekejaman dan keberingasan mereka.


Sementara itu, Prabu Kala Srenggi lebih suka terbang. Dia mengiringi pasukannya yang berjalan naik gunung turun gunung menyeberangi lembah dan sungai, untuk mencari jejak orang yang dicarinya.


Perjalanan mereka akan memakan waktu yang panjang dan lama, karena mereka belum mengetahui dimana gerangan Raden Janaka berada.


****


Masih berhubungan dengan cerita yang menimpa Prabu KalaSrenggi. Inilah yang terjadi di Pertapan Yasarata, seorang Resi yang bernama Beghawan Jayawilapa sedang berada di paseban pertapan. Dihadapannya,


seorang wanita cantik yang merupakan putrid dari Resi Jatawilapa, yang bernama


Endang Ulupi atau Dewi Ulupi.


dari ayahandanya, Raden Janaka.


“Irawan, apakah tekadmu itu sudah bulat cucuku?” Tanya Resi Jayawilapa.


“Iya, kek. Saya ingin mencari ayahanda saya. Sejak dilahirkan di muka bumi, saya belum pernah bertemu dengan ayah yang telah mengukir jiwa ragaku” kata Bambang Irawan mantap.


“Dunia luar itu tidak sama dengan di pertapan anakku. Disana akan banyak sekali rintangan dan halangan. Apakah kamu benar benar sanggup untuk menjalaninya” kata Dewi Ulupi.


“Ibu, saya sudah besar. Dan saya mempunyai tanggung jawab untuk berbakti kepada orang tua Bu?” kata Bambang Irawan meyakinkan sang Ibu.


“Baiklah cucuku. Jika niatmu sudah mantap, eyang tidak bisa menghalangi apayang menjadi kehendakmu. Kamu boleh mencari ayahandamu. Tapi kamu harus berhati hati. Jaga sikapmu dan selalu mengedepankan kebaikan dan saling mengasihi” kata Jayawilapa.


“Apakah Eyang Jayawilapa mengetahui dimana ayahanda sekarang berada ?” Tanya Bambang Irawan.

__ADS_1


“Menurut kabar yang Eyang dengar. Ayahandamu sekarang sedang NAMURLAKU dan berada di Negara Wiratha.”


“Negara Wiratha eyang?”


“Benar cucuku. Itu karena sebentar lagi mungkin akan terjadi perang besar. Karena Negara ayahandamu saat ini dikuasai oleh saudara tuanya yaitu Kurawa. Dan menurut kabar yang beredar, Kurawa tidak mau mengembalikan Negara tersebut ke tangan Pandawa. Mungkin kedatanganmu akan membantu para Pandawa untuk merebut kembali haknya” kata Resi Jayawilapa.


“Jika memang benar demikian, ijinkan cucu untuk berangkat ke Wiratha kek” Kata Bambang Irawan memohon diri


“Iya cucuku, hati hati dalam perjalanan”


“Ibu, Irawan mohon pamit, mohon doa restu agar bisa membantu ayahanda di Wiratha”


“Iya anakku. Restu ibu akan selalu tercurah untukkmu. Pandai pandailah menjaga diri, jangan sampai mengecewakan ayahandamu dan membuat malu ibu serta eyangmu” kata Dewi Ulupi


“Iya Ibu, pesan Ibu akan selalu Irawan ingat. Irawan mohon pamit”


Setelah meyembah sujud pada eyang dan ibunya, Bambang Irawan segera meninggalkan pertapan Yasarata, tujuannya hanya satu , secepatnya menuju ke Negara Wiratha untuk menemui ayahandanya Raden Janaka.


“selamat jalan anakku, doa ibumu selalu menyertaimu” kata Dewi Ulupi melepas kepergian Raden Bambang Irawan. Air mata menetes membasahi pipinya yang merah. Dalam hatinya selalu berdoa untuk kebaikan putra tercintanya.


“Sudahlah nini dewi. Jangan tangisi kepergian putramu. Lebih baik, doakan perjalanannya lancer dan secepatnya bisa bertemu dengan ayahandanya. Dia sudah besar, sudah saatnya untuk menentukan arah dan tujuan hidupnya sendiri, tanpa dibayang bayangi oleh kita sebagai orangtua dan


kakeknya” kata Resi Jayawilapa menenangkan perasaan Dewi Ulupi.


“Iya ayah. Ulupi mengerti”


Begitulah. Akhirnya Raden Bambang Irawan berangkat menuju ke Negara Wiratha.


Walaupun dia belum pernah menginjakkan kaki ke Negara tempat dimana ayahandanya


saat ini berada, tapi dengan keyakinan dan apa yang telah diberikan oleh ibunya, Dewi Ulupi dan kakeknya Resi Jayawilapa, Bambang Irawan yakin akan bisa menemui ayahandanya tanpa halangan yang berarti…………

__ADS_1


__ADS_2