
Ibarat Sapu Lidi yang kehilangan tali
Ketika Resi Bisma berhasil menancapkan panah pada lengan Prabu Kresna, saat itu pula, Raden Arjuna juga bisa melepaskan panah tepat di kaki Resi Bisma. Mereka yang sedang berperang, baik Resi Bisma, Raden Arjuna maupun Prabu Kresna sama sama menderita luka, meski tidak terlalu parah.
Resi Bisma berkali kali harus mengambil busur panah kembali karena setiap busur yang digunakan, berhasil dibidik dengan tepat oleh Raden Arjuna. Akhirnya busur itupun patah menjadi dua bahkan ada yang sampai jadi tiga atau empat bagian,
Pada saat yang sama, ketika Beghawan Bisma sedang berhadapan dengan Raden Arjuna, di sisi lain, Nampak Beghawan Druna yang sedang berhadapan dengan Mahasenapati Pandawa Dresthajumena.
Narpajendra atau narendra dari Pancalaradya itu mencoba kehebatan Resi atau pandita dari pertapaan Sukalima, yang juga merupakan guru dari Pandawa dan Kurawa. Pertarungan mereka juga berlangsung sangat sengit. Panah dan senjata berhamburan ke udara, mencoba mencari kelemahan lawan satu dengan yang lain.
Pada awalnya keadaan mereka kelihatannya seimbang. Masing masing mempunyai taktik tersendiri untuk selalu mengecoh lawan. Sampai pada suatu ketika, beghawan Druna mendapat kesempatan untuk melepaskan anak panah dan mengenai tangan dari satriya dari Pancalaradya Raden Dresthajumena.
Mendapatkan serangan yang tak terduga, membuat lengan Dresthajumena terluka parah. Darah mengucur banyak sekali, membuat perlawanan dari Dresthajumena menjadi makin kendor. Namun di saat saat darah mengucur dengan derasnya, Drestajumena terus menyerang panah kea rah Beghawan Druna. Serangan demi serangan bertubi tubi dilancarkan, namun dari sekian banyak serangan yang ada semuanya berhasil dipatahkan oleh Beghawan Druna.
__ADS_1
Pada saat yang krusial itu, Beghawan Druna kemudian melepaskan panah dan tepat mengenai kereta perang yang dikendarai oleh Dresthajumena. Kereta itu remuk dan hancur. Terpaksa Dresthajumena kemudian turun dari keretanya. Dia mengambil pedang, kemudian melemparkannya kea rah Beghawan Druna. Namun sekali lagi, pedang itu juga harus mental oleh panah yang dilepaskan oleh Beghawan Druna.
Dresthajumena benar benar kewalahan menghadapi Resi tua dari Sukalima ini. Segala macam upaya yang dicobanya selalu gagal, gagal dan gagal lagi.
Dari kejauhan Raden Bima atau Werkudara yang mengetahui bahwa Dresthajumena sudah kewalahan menghadapi Beghawan Druna. Raden Werkudara segera melepaskan anak panah yang ditujukan ke arah kereta Beghawan Druna.
Bima adalah seorang kesatriya yang sangat mahir dalam menggunakan panah. Walaupun kemampuannya masih dibawah Arjuna, tapi untuk membidik kereta dari jarak 50 – 100 meter bukan perkara sulit.
Setelah panah Raden Bima melesat tepat mengenai kereta kuda Beghawan Druna, goncangan dahsyat yang terjadi membuka kereta kuda itu oleng. Akibatnya Sang Maharesi Druna terpental jauh dari atas kereta kudanya. Ada sekitar 15 meter jarak Beghawan Druna terlepas dari atas kereta. Dia berdiri sempoyongan sambil berusaha mencari keberadaan musuhnya.
Diambilnya gada Lambitamuka kebanggaan satriya Jodipati ini. Gada itu berputar putar dan menghabisi siapa saja yang masih menghalangi jalannya kereta kuda. Tak terhitung jumlah prajurit dari Negara Kalingga yang tewas terkena gada Lambitamuka. Bima terus mengamuk dan menghancurkan siapa saja yang ada di depannya.
Ulah bima ternyata diketahui oleh Sang Maharesi Bisma. Bisma kemudian memerintahkan kusir kereta kudanya untuk menuju ke tempat Bima. Namun ternyata, perjalanan kereta itu juga tidak semulus yang dipikirkannya semula. Raden Abimayu dan Setyaki ternyata menghadang l;aju kereta kuda milik Resi Bisma. Kemudian Raden Setyaki melontarkan tombaknya kea rah kereta tersebut. Akibatnya, kusir kereta kuda itu tewas seketika dengan luka yang sangat parah.
Karena kematian kusir kereta kudanya yang tanpa diduga, Sang Maharesi Bisma tidak sempat mengambil alih kendali kuda. Akhirnya kud itupun lari tak tentu arah, bahkan keluar dari medan peperangan. Tidak hanya itu, peralatan perang yang dibawa oleh Resi Bisma pun juga bercerai berai tak tentu rimbanya.
Yang lebih fatal lagi adalah keadaan para prajurit Kurawa. Ketika ditinggal oleh Beghawan Bisma, keadaannya bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya. Bagikan sapu lidi yang kehilangan talinnya. Dalam pepatah jawa ‘kadya sapu pedhot suhe’. Benar benar sangat menyedihkan.
__ADS_1
Mereka tidak tahu lagi harus berbuat apa. Bahaya mengancam dimana mana. Para prajurit itu juga seperti hilang kendali. Tidak tahu perintah siapa yang harus dituruti.
Apalagi, para satriya Pandawa yang saat itu sedang ada di medan pertempuran juga semakin memepet mundur mereka. Raden Arjuna, Bima, Setiyaki, dan Abimanyu yang kemudian dengan mudahnya memukul satu per satu prajurit Kurawa.
Suasana yang sangat genting, sementara Sang Maharesi Bisma belum diketahui sampai dimana sekarang dibawa oleh kereta kudanya yang tanpa kusir itu.
Untunglah, hari sudah beranjak malam. Sang surya sudah meninggakan Kurusetra, kembali ke peraduannya. Temaram senja mulai merayap. Dan sang kelam mulai menyelimuti Tegal Kurusetra. Para prajurit Pandawa kemudian ditarik kembali ke Manggalayuda. Demikian juga para Kurawa, juga kembali ke pesanggrahan Bulupitu.
Hari kedua peperangan ini, menyisakan duka yang sangat mendalam bagi para Kurawa………
bersambung........
terimakasih untuk readers yang telah mendukung novel ini....
tetap kami nantikan like, dan vote nya ya......
selamat membaca..........
__ADS_1