PERANG BHARATAYUDA

PERANG BHARATAYUDA
Episode 30 Hutang Pati Dibayar Pati Bag 2


__ADS_3

 


 


 


Kematian Raden Sumitra membuat kaget Raden Abimanyu. Dia tidak menyangka Eyangnya Druna akan melakukan hal sekeji itu. Bagaimana tidak, membopong dari belakang seorang kusir kereta yang tidak membawa senjata.


Namun itulah perang. Jika sudah bertempur, apapun bisa terjadi dan apapun bisa dilakukan.


Setelah kematian Raden Sumitra, kuda yang sudah tidak dikendalikan kusir itu menjadi berlari tidak tentu arah. Bisa dibayangkan, empat ekor kuda yang berlari tanpa ada yang mengendalikan. Kuda kuda itu seperti saling berebut arah. Akhirnya kuda itu saling tarik menarik membuat laju kereta makin tidak terkendali.


Beghawan Druna yang mengetahui hal itu, hatinya sangat senang. Usahanya berhasil dengan gemilang. Dalam perhitungannya, jika kereta kuda itu sudah kehilangan arah, maka dia akan dengan sangat mudah mengarahkan anak panahnya kea rah Raden Abimanyu.


Sementara itu, Raden Abimanyu masing disibukkan dengan ulah kuda kuda penarik kereta. Dia tidak bisa membidik dengan tepat kea rah musuh, karena setiap akan melakukan bidikan, kuda itu selalu mengguncangkan kereta tak tentu arah.


Melihat hal itu, Beghawan druna segera mengambil busur dan anak panah. Kemudian segera merentangkan busur itu dan mengarahkannya ke tubuh Raden Abimanyu.


Satu panah melesat dengan sangat cepat. Namun panah itu masih bisa ditangkis oleh Abimanyu dengan menggunakan busur panahnya. Akibatnya, busur panah yang dipegang Abimanyu itu patah menjadi dua bagian. Melihat busur panahnya patah, Abimanyu segera mengambil busur panah lainnya yang diletakkan di kereta. Namun naas, ketika dia akan meraih busur panah itu, tiba tiba kuda penarik kereta itu berontak, dan membuat pegangan Abimanyu terlepas.


Kesempatan ini tidak disia siakan oleh Beghawan Druna. Dia segera melepaskan anak panah lagi, da kali ini tepat mengenai betis Raden Abimanyu. Darah mengucur dari luka akibat panah yang dilepaskan Beghawan Druna. Dengan sekuat tenaga, dia mencabut panah itu dan kemudian mengambil tameng dan pedang, sambil membabatkan pedangnya ke arah para prajurit Kurawa.

__ADS_1


Raden Abimanyu terus mengamuk dari atas kereta. Tentu saja korban yang berhasil dilukai oleh Raden Abimanyu sangat banyak, karena dia berada lebih tinggi dari para prajurit Kurawa.


Mengetahui hal itu, Beghawan Druna segera melepaskan panah mengarah ke kereta dan kuda penariknya. Rentetan anak panah yang bertubi tubi, akhirnya menghancurkan kereta itu dan membunuh kuda penariknya sekaligus.


Melihat kereta perangnya hancur, Raden Abimanyu melompat turun dari atas kereta, lalu dengan membawa tameng dan pedang kembali mengamuk menebas setiap prajurit Kurawa yang ada di depannya.


Tidak terhitung jumlah prajurit Kurawa yang terluka dan tewas akibat amukan dari Raden Abimanyu.


Melihat hal itu, beghawan Druna segera melepaskan dua anak panah yang mengarah pada tameng dan pedang Raden Abimanyu. Panah itu tepat mengenai sasaran. Akibatnya, tameng dan pedang itupun pecah dan patah.


Kini, Raden Abimanyu sudah tidak punya senjata. Namun dia masih terus mengamuk. Dengan tangan kosong, dia terus menghajar setiap musuh yang ditemuinya. Kembali korban berjatuhan akibat amukan dari anak Arjuna ini.


Tidak mau mengambil resiko terlalu besar, akhirnya Beghawan Druna mengarahkan panahnya tepat kea rah Raden Abimanyu. Satu, dua panah berhasil dihindari oleh Abimanyu. Namun sayangnya, karena dia tidak lagi membawa senjata,akhirnya terpaksa dia harus menangkis panah itu dengan tangannya. Tentu saja akibatnya fatal, panah itupun sebagian menancap di tangan Raden Abimanyu.


Beghawan Druna tersenyum puas melihat serangannya hampir bisa melumpuhkan lawannya.


Sementara itu, Raden Djayadrata yang berada di belakang Beghawan Druna, mengetahui Raden Abimanyu sudah tidak berdaya, segera melompat mendekati Raden Abimanyu.


Dalam sekali lompatan, Raden Djayadrata sudah sampai di hadapan Raden Abimanyu yang sekarang tubuhnya dipenuhi oleh puluhan anak panah. Mata satriya Kurawa itu merah darah, giginya gemeretak dan otot ototnya menyembul keluar. Dia sangat marah. Ingatannya tertuju pada keponakannya, Raden Lesmana Mandrakumara yang telah dibunuh oleh Abimanyu.


Masih terlihat jelas diingatannya, bagaimana Raden abimanyu membunuh keponakannya itu. Hutang pati harus dibayar dengan pati.

__ADS_1


Raden Djayadrata kemudian melangkah mendekati Raden Abimayu sambil menggenggam erat pedangnya.


“Abimanyu, aku tidak akan tenang jika belum membalaskan kematian keponakanku Lesmana Mandrakumara. Jadi, jangan salahkan aku, jika hari ini terpaksa aku juga harus membunuhmu”


Setelah berkata demikian, Raden Djayadrata kemudian menghujamkan pedangnya tepat di ulu hati Sang Abimanyu.


Raden Abimanyu yang sudah tidak berdaya, akhirnya harus tewas ditebas pedang oleh Raden Djayadrata.


Langit mendung, udara terasa agak dingin. Para dewa di langit yang menyaksikan perang itu juga menunduk menandakan member hormat pada kepergian satriya muda dari Pandawa itu.


Parbu Yudistira menghela nafas dalam, dadanya sesak melihat kepergian keponakannya, Raden Abimanyu. ‘inilah perang, yang menang saja akan sangat kehilangan, apalagi yang menderita kekalahan’.


.


.


.


.


Bersambung . . . . . . . .

__ADS_1


 


 


__ADS_2