PERANG BHARATAYUDA

PERANG BHARATAYUDA
Episode 8 Pandawa Manggalayuda dan Prabu Baka


__ADS_3

Setelah Prabu Daryudana tidak mau diajak berunding secara baik baik terkait dengan negara Hastina dan Amarta yang diambil secara licik oleh Kurawa akibat kekalahan Pandawa dalam permainan licik dadu yang dilakukan oleh Patih Sangkuni, akhirnya mau tidak mau Pandawa harus berani merebut negara itu dari tangan Kurawa. Pandawa harus bersiap siap untuk berperang melawan saudaranya sendiri.


Lebih dari pada itu, Bharatayuda juga merupakan perang suci. Dalam istilah jawa ‘perange wong kang utang lan ngutangake, wudare janji tatasing prasetyo/prasapa’. Yang artinya adalah saatnya ketika orang yang dulu meminjam harus mengembalikan, dan siapa yang berjanji sudah seharusnya hal itu ditepati.


Negara Hastina adalah warisan dari Prabu Pandudewanata, yang kemudian karena beliau mangkat tapi usia dari Pandawa masih kecil, diamanatkan kepada Prabu Destrarasta sebagai perwakilan sebelum Pandawa dewasa. Tapi dalam perjalanannya, keturunan Destrarasta yaitu Kurawa malah ‘melik nggendong lali’, lupa bahwa Negara tersebut bukan haknya.


Akhirnya Pandawa segera mempersiapkan untuk menghadapi perang besar yang sudah didepan mata.


Prabu Mangsahpati memerintahkan Patih Nirbita untuk membuat ‘pakuwon’ atau tempat untuk ‘mesanggrah’ para Pandawa di wilayah Jerukmanis. Padepokan itu diberi nama Pasanggrahan Hupalawiya atau Pandawa Manggalayuda. Dalam perang besar nanti, Pandawa akan dibantu oleh Prabu Matswapati yang akan menanggung semua keperluan yang digunakan selama peperangan.


Sedangkan yang akan menjadi ‘pujangga’ atau pengatur strategi perang adalah Ratu Dwarawati Sri Bathara Kresna. Dan sesepuh atau ‘pinituwa’ dari Pandawa adalah kyai Lurah Semar Badranaya.


Dikisahkan dalam cerita dan wangsit dari para dewa kepada Kresna, untuk meraih kemenangan dalam peperangan ini, Pandawa harus mencari ‘tawur’ atau tumbal dalam perjalanannya.


Ketika Pandawa masih muda pernah menolong atau memerdekakan rakyat di wilayah Negara Ekacakra yang dipimpin oleh seorang raksasa bernama Prabu Baka.


Negara Ekacakra sebenarnya bukan Negara miskin. Kekayaannya sangat melimpah dan buminya juga subur makmur. Namun sangat disayangkan, Prabu Baka memiliki kegemaran yang sangat buruk dan jahat. Prabu Baka hampir setiap minggu memakan daging manusia dan kebiasaan itu makin lama makin menjadi jadi. Bahkan jika sebelumnya seminggu sekali, kini bisa hampir setiap hari.


Banyak dari para pemuda dan orang orang yang punya badan gemuk harus mati mengenaskan oleh kebiadaban perilaku dari Prabu Baka. Yang tersisa di Negara Ekacakra hanya tinggal orang orang tua, dan mereka yang berbadan kurus kering,yang dagingnya sedikit.


Pada suatu hari, perjalanan pengembaraan para Pandawa bersama dengan ibunya Dewi Kunthi Talibrata sampai di padukuhan Manahilan. Padukuhan Manahilan juga masih termasuk dalam wilayah Negara Ekacakra. Wilayah ini dipimpin oleh Beghawan Ijrapa. Suasana ditempat itu demikian mencekam. Beghawan Ijrapa sedang bingung. Dalam hatinya sedang bergejolak. Hari ini adalah saatnya memberikan ‘urak’ atau hidangan kepada Prabu Baka. Dan hari ini adalah giliran padukuhan Manahilan yang harus setor manusia untuk dimakan oleh Prabu Baka.


Ditengah kebingungan dan kerisauan tersebut, datanglah para Pandawa dan ibunya. Mereka segera menemui Beghawan Ijrapa.


Singkat cerita, Bima atau Werkudara atau Bratasena dengan izin dan petunjuk dari sang ibu, Dewi kunthi bersedia untuk menjadi tumbal agar dimakan oleh Prabu Baka.

__ADS_1


“Apakah kamu serius Bratasena?” Tanya Beghawan Ijrapa


“Iya, Panembahan. Saya serius. Mudah mudahan saya bisa menghentikan keangkaramurkaan dari Prabu Baka” kata Bratasena mantap.


Setelah meminta izin dan restu dari sang ibu, akhirnya Raden Bratasena dijadikan tumbal menggantikan sang Beghawan Ijrapa menjadi santapan Prabu Baka.


Keesokan harinya, bersama dengan satu gerobak nasi dan bumbu bumbu lengkap, Raden Bratasena diantar ke istana Ekacakra. Tujuanya jelas adalah untuk dijadikan persembahan bagi Prabu Baka.


Gerobak yang berisi nasi dan Bratasena sudah tiba di istana Ekacakra. Semua pengawal yang ada di istana itu berwajah kecut dan masam. Mereka, setiap kali Prabu Baka keluar untuk makan selalu was was dalam hati. Bagaimana tidak, bukan sesuatu hal yang tidak mungkin suatu saat mereka yang akan menjadi santapan sang raja yang sakti mandraguna tersebut.


Suasana hening sesaat, bau yang tidak sedap sudah mulai tercium disekitar altar istana. Semua pengawal dan prajurit sudah tahu, pada saat seperti ini, biasanya sebentar lagi Prabu Baka akan keluar dari kamarnya untuk memakan manusia.


Dan benar, beberapa saat kemudian, keluarlah sosok berbadan tinggi besar, dengan gigi dan taring yang keluar dan berwarna kuning kehitam hitaman. Bagi rakyat biasa, melihat wajah dari Prabu Baka saja pasti sudah pingsan duluan.


“Hahaha…….. apakah makanan bagiku sudah siap. Siapa yang bertugas menghidangkan makanan hari ini. Aku sudah lapar….. lapaaaarrrr………..” kata Prabu Baka sambil memperlihatkan taringnya yang menakutkan.


“He……. Ijrapa!!! Apakah hidanganku hari ini sudah siap? Jika belum, maka kamu sebagai gantinya. Hahaha……….” Kata Prabu Baka.


“Ampun paduka raja, hidangan sudah siap. Silahkan paduka menikmati hidangannnya” kata Beghawan Ijrapa sambil mempersilahkan Prabu Baka menikmati hidangan.


Bukan main gembiranya hati Prabu Baka melihat santapannya kali ini orang yang bertubuh besar dan gemuk, tentu akan sangat lezat untuk dimakan.


“Hahaha…… kau memang pandai Ijrapa. Makananku kali ini sungguh luar biasa. Besar dan gemuk. Pasti dagingnya sangat lezat. Apakah masakanmu bumbunya juga lengkap hah? Tentu akan menambah selera makanku” kata Prabu Baka.


Kemudian Prabu Baka bergerak mendekati gerobak makanan yang dibawa oleh Beghawan Ijrapa. Namun alangkah terkejutnya dia,ketika mendapati Bratasena masih hidup.

__ADS_1



“Weladalah…… setan alas. Rupanya kau masih hidup. Hahaha……. Tapi tidak apa apa. Aku juga suka makan manusia hidup hidup. Rintihan kesakitan dari makanan akan menambah gairah dan nafsu makanku” kata Prabu Baka.


“Ha….. makanlah sesukamu. Sebelum aku mencabut nyawamu” Bratasena berujar pelan.


Bukan main kagetnya Prabu Baka melihat ada orang berani bicara lancing terhadapnya. Namun sesaat kemudian,tawanya kembali memecahkan gendang telinga orang yang mendengarnya.


“Hahaha……. Kunyuk kecil. Umurmu tinggal sekejap. Tapi nyalimu besar juga. Apa kau sudah siap kumakan hah?” kata Prabu Baka.


“Pilihlah mana yang kamu suka Raja Lalim, aku sudah siap” kata Bratasena.


Kemudian Prabu Baka mencoba memakan Bratasena. Mulai dari tangan, paha, dada, perut. Semua dicoba untuk dimakan Prabu Baka. Namun apa yang terjadi, bagaimanapun cara Prabu Baka untuk memakan Bratasena, tetap tidak berhasil.


Setelah cukup lama. Akhirnya Bratasena angkat bicara.


“Jika kau tidak bisa memakanku, aku yang akan menguliti tubuhmu”


“Apa kau sanggup manusia?” tantang Prabu Baka


“Tidak ada keangkaramurkaan yang abadi. Semua ada masanya. Dan saat inilah takdir dari para dewa, kejahatanmu harus berakhir” kata Bratasena.


Akhirnya perangpun tidak dapat dielakkan. Meskipun Bratasena memiliki kemampuan berperang dan tubuh yang kuat, namun karena Prabu Baka adalah orang yang sakti mandraguna, maka tidaklah gampang untuk menaklukkan raja tersebut.


Perang mereka memakan waktu berhari hari. Tujuh hari tujuh malam, mereka berperang tanpa henti, sampai pada suatu saat, Bratasena mendapat kesempatan untuk menancapkan kuku Pancanaka, andalan dari Bratasena ke perut Prabu Baka. Seketika itu, Prabu Baka berhasil dibunuh oleh Bratasena.

__ADS_1


Bukan main senangnya hati Beghawan Ijrapa. Karena saking senangnya, akhirnya dia bersedia untuk membantu jika nantinya Pandawa mengalami kesulitan, sekaligus memberikan tugas kepada Bambang Rawan, putra dari Beghawan Ijrapa untuk membantu Pandawa menjadi tumbal atau tawur untuk kemenangan saat perang Bharatayuda


Bersambung……..


__ADS_2