
note:
hari ini dubbing LEGENDA NINJA ANGIN sudah tamat ya. silakan didengarkan, jangan lupa untuk memberikan like di setiap episode dan rate untuk dubbing tersebut.
sedangkan dubbing PENDEKAR DEWA MATAHARI masih going on......
simak terus ya......
thanks.
Mentari pagi mengintip di indahnya pagi. Cahayanya yang redup tampak malu malu menyebarkan rona jingga di batas cakrawala. Sang surya, pagi itu menawarkan sinarnya yang membawa kedamaian dunia.
Namun, sapaan sang dewa surya itu ternyata tidak disambut dengan kehangatan di tegal Kurusetra. Hari ini dua saudara keturunan Eyang Abiyasa itu sudah bersiap untuk kembali ke medan laga. Mereka masih memperebutkan siapa yang layak menduduki tahta Hastinapura. Dan itu dilakukan oleh sesama saudara yaitu Kurawa dan Pandawa.
Hari itu, kala sang surya dengan gagah memancarkan sinarnya ke mayapada, dua kelompok manusia kembali bersiap untuk saling serang, saling bunuh, saling menghancurkan antara satu dengan yang lain.
Di sebelah timur, Nampak Kurawa yang dengan langkah pasti menyusun barisan dengan tehnik baru, Gelar Kurmabyuha. Sang Maharesi Bisma menata baris prajurit Kurawa dengan formasi yang menggerombol dan berfokus pada lawan di segala arah. Tujuannya adalah melawan sebanyak mungkin para prajurit Pandawa.
Sementara itu, Dresthajumena, mahapati Pandawa itu merakit Gelar Trisula. Tiga kunci pokok yang akan digunakan untuk memukul lawannya yang menggunakan Gelar Kurmabyuha. Gelar ini bila dilihat sekilas dari kejauhan mirip dengan bentuk trisula. Bima yang memiliki badan tegap dan besar berdiri diujung trisula dengan gagahnya. Yudistira berada di bagian tengah dari garis trisula tersebut. Sedangkan Setyaki berada di sebelah kanan.
Selain itu, ada juga seorang ksatriya muda yang baru kelihatan hari ini. Dia adalah Bambang Irawan. Dalam kisah terdahulu diceritakan Bambang Irawan adalah putra dari Raden Arjuna dan Dewi Ulupi. Sejak kecil dia diasuh oleh kakeknya Nagaraja Korawya. Karena mendengar di Tegal Kurusetra tengah terjadi pertempuran besar antara Kurawa dan Pandawa yang diantaranya melibatkan ayahnya, akhirnya Bambang Irawan segera datang ke tegal Kurusetra. Sampai akhirnya, hari ini dia maju ke medan perang membantu para Pandawa.
__ADS_1
Pada saat itu, Bambang Irawan berhadapan dengan seorang raksasa sekutu dari Daryudana yang bernama Alambasa. Tubuh Alambasa sangat besar, jika dibandingkan antara Alambasa dan Bambang Irawan, ibarat satu berbanding sepuluh. Tubuh Bambang Irawan hanya sebesar paha Alambasa. Tapi hal itu tidak menjamin Alambasa bisa dengan mudah mengalahkan Bambang Irawan. Terbukti, mereka bertempur dengan sangat sengit.
Pertempuran antara Alambasa dan Bambang Irawan berlasung sangat seru. Jual beli pukulan, tendangan dan adu strategi dari dua manusia yang beda fisik itu benar benar sangat berbahaya dan mendebarkan siapapun yang melihatnya.
Alambasa mengandalkan kekuatannya untuk menggebrak lawan dari segala arah. Sedangkan Bambang Irawan mengandalkan kegesitan dan kelincahannya dalam megolah setiap gerakan yang dia ciptakan.
Namun, bagaimanapun lincahnya Bambang Irawan,karena terlalu lama dan seringnya dia melompat, menghindar dan menyerang, akhirnya sampai juga ke titik kelelahannya. Gerakan Bambang Irawan makin lama makin lambat. Dan tenaganya menjadi semakin sedikit.
Pada saat krusial itu, tiba tiba Alambasa mendapatkan kesempatan untuk menyergap Bambang Irawan. Dan ternyata usahanya tidak sia sia. Kaki Bambang Irawan berhasil ditarik oleh Alambasa dan dengan sigap dia langsung menarik kaki itu hingga Bambang Irawan tidak bisa melarikan diri.
Setelah tubuh Bambang Irawan mendekat ke wajah Alambasa, dengan tiba tiba raksasa itu membuka mulutnya. Taringnya yang runcing langsung menusuk ke leher Bambang Irawan. Terkena gigitan dari raksasa tersebut membuat pemuda itu tidak bisa bergerak unutk beberapa saat. Dan dengan bersusah payah dia mengambil senjata pusakanya yang terselip dipinggangnya.
Dengan sekuat tenaga, pusaka itu kemudian ditusukkan ke dada Kala Alambasa. Akhirnya Kala alambasa berhasil dibunuh oleh Bambang Irawan. Namun saying, akibat tusukan pusaka Bambang Irawan ke dada Alambasa membuat raksasa itu tidak sempat melepaskan gigitannya di leher Bambang Irawan akibatnya Bambang Irawan akhirnya juga tewas oleh gigitan Alambasa. Dengan demikian dua orang ksatriya dari Kurawa dan Pandawa itu sama sama mati dengan sangat mengenaskan.
Kematian Bambang Irawan menyisakan kesedihan yang sangat mendalam pada diri Raden Arjuna. Bagaimana tidak, putranya yang baru saja bertemu dengan dia, karena sejak dalam kandungan sudah ditinggalkan oleh sang Dananjaya dan hidup serta dipelihara oleh ibu dan kakeknya, kini gugur dalam membela ayahnya dihadapannya.
“Dinda Permadi, kenapa dinda malah berdiam dan tidak menyerang musuh?” Tanya Kresna.
“Maafkan saya Kanda Prabu, putramu Bambang Irawan, apakah Kanda tidak tahu yang terjadi padanya?” Arjuna balik bertanya kepada Kresna.
“Saya tahu Dinda. Tapi apakah kita juga harus bersedih seperti ini?”
“Dia anakku Kanda? Dia baru saja bertemu denganku, tapi hari ini sudah harus berpisah untuk selamanya” Arjuna makin bersedih.
“Aku tahu. Tapi itulah perang. Perang hanya mengenal dua kata menang atau kalah, dibunuh atau terbunuh. Dilukai atau melukai. Dan itulah pilihan dalam perang. Apakah kau mengira jika Arjuna menangis meraung raung dan meratap membuat Irawan bangga? Apakah jika Arjuna sudah bersedih Irawan akan bangkit kembali? Tidak Arjuna, tidak. Justru itu akan membuat jiwa Irawan tidak tenang. Apakah Irawan akan bangga jika melihat ayahnya menjadi seorang pengecut?”
__ADS_1
Kata kata Prabu Kresna sedikit demi sedikit bisa meluluhkan hati Raden Arjuna.
“Lalu apa yang harus aku lakukan Kanda Prabu”
Kresna kemudian berdiri, diraihnya busur panah dan anak panah yang tadi dilemparkan begitu saja oleh Arjuna.
“Arjuna, jika kamu ingin membuat Irawan menjadi bangga, biarkan Bambang Irawan gugur sebagai pahlawan. Kini saatnya kamu membuktikan bahwa Arjuna adalah ayah yang bisa membuat bangga anaknya. Jangan biarkan kematian Irawan sia sia. Dia telah menunjukkan baktinya yang luar biasa. Salah satu musuh hebat dari Pandawa, Ditya Kala Alambasa berhasil dibunuhnya. Seharusnya kamu bangga” kata Kresna.
Kresna menghela nafas perlahan. Kemudian kembali melanjutkan kata katanya.
“Arjuna, jika kamu saying anakmu, bangkit dan ambilah busur panah ini. Hadapi musuhmu. Tunjukkan kematian Irawan tidak sia sia membela Pandawa”
Mendapatkan pencerahan dari Prabu Kresna, mambuat matanya terbuka lebar. Benar apa yang dikatakan oleh Prabu Kresna. Dia harus bangkit. Dia harus bisa membalaskan kematian putranya. Dia juga harus bisa memenangkan perang besar ini.
Siapapun tidak ada yang tidak sedih kehilangan keluarga apalagi putra. Tapi jika sampai kematian itu sia sia, maka akan menjadi penyesalan yang tidak terkira.
Perlahan lahan diraihnya busur panah yang dibawa oleh Prabu Kresna. Seakan mendapatkan tambahan energy baru yang lebih besar, dia kemudian segera berdiri di kereta kuda yang tadi sempat ditinggalkannya.
Prabu Kresna yang mengetahui hal itu segera tersenyum. Kemudia dia juga segera bergerak dan menaiki tempat sebagai kusir kereta Jaladara.
Dalam sekejap, Arjuna sudah kemabali ke medan pertempuran dan bergerak secepat kilat untuk melesatkan anak panahnya menuju ke barisan para Kurawa…………..
Bersambung………………………….
__ADS_1