
Keesokan harinya setelah tegal Kurusetra terlelap sebentar dalam tidurnya, dan ketika burung pemakan daging selesai berpesta dengan ratusan mayat yang bergelimpangan tak tentu arahnya, kini kembali menggeliat.
Sinar surya yang temaram malu malu menyembul keluar dari persembunyiannya, menyanyikan keindahan bagi maya pada. Menebarkan keindahan alam yang menghiasi tegal Kurusetra. Namun tebaran keindahan itu tidak berguna bagi dua kelompok pasukan yang saat ini sedang bersiap siap di sebelah timur dan barat tegal Kurusetra itu. Mereka sudah kehilangan waktu untuk menikmati indahnya alam. Yang ada dalam pikiran mereka adalah sebanyak mungkin membinasakan lawan. Ah perang memang tidak pernah member kedamaian dan keuntungan. Trah Bharata hari ini kembali berhadapan untuk saling menyerang.
Hari ini para Kurawa yang kemarin hampir saja dibuat luluh lantak oleh para putra Pandawa kembali lagi dengan membawa semangat baru. Tidak tanggung tanggung, dengan gelar masih seperti kemarin yaitu gelar Garudawyuha, kali ini dipimpin langsung oleh Prabu Daryudana dan Resi Bisma. Karena merasa mendapatkan dukungan dari rajanya sendiri, semangat para prajurit Kurawa hari ini sangat besar. Mereka serasa mendapatkan siraman air oase dikala sedang kehausan di gurun pasir yang gersang.
Demikian juga Prabu Daryudana. Hari ini, pimpinan Kurawa itu juga menunjukkan jiwa kepahlawanannya yang sangat besar. Dia kini sangat yakin bisa menggulung Pandawa sampai habis, karena Resi Bisma sudah bersedia membela Kurawa sepenuh hati.
Lain Daryudana, lain pula dengan Resi Bisma. Walaupun dia telah berjanji untuk sepenuh hati membela Kurawa, tapi hatinya tidak bisa mengingkari bahwa sebenarnya dia lebih memihak para Pandawa. Dan keputusannya adalah akan diserahkan kepada Sang Hyang Widi Wasesa, dia akan maju ke medan perang, dan berharap yang dilakukan tidak akan menjadi penyesalan di kemudian hari.
Sementara itu, para Pandawa juga sudah siap di tepi tegal Kurusetra untuk menyambut kehadiran para Kurawa. Untuk mengimbangi pasukan Kurawa, para Pandawa sudah menyiapkan gelar baris baru yang diberi nama Gelar Baris Ardhacandra. Gelar ini menempatkan Bima di sisi sebelah kanan dan Arjuna di sebelah kiri. Nampaknya formasi gelar baris ini dianggap akan menguntungkan bagi para Pandawa.
Sementara itu, Prabu Kresna sudah bersiap dengan kereta Jaladara. Kini dia duduk kembali di kursi kusir kereta dengan Arjuna yang ada di dalam kereta Jaladara. Setelah gendering perang ditabuh, secepat kilat Kresna menghentakkan kekang tali kudanya, membuat kuda itu melesat berlari dengan cepat menuju kea rah para Kurawa. Dengan berbagai macam senjata, para Kurawa berusaha menahan laju kereta Jaladara. Namun dengan gesitnya Prabu Kresna terus menghela kereta tersebut sehingga selalu luput dari terjangan senjata para Kurawa.
Sementara itu, Bima yang saat itu berada di sebelah kanan dari barisan Ardhacandra, mendekati kereta perang milik Resi Bisma yang didalamnya ada Daryudana. Dengan langkah tegap, sang Bima segera merangsek menuju kea rah kereta tersebut. Dan tiba tiba ebuah gada besar dilemparkan kea rah Daryudana.
Karena tidak menduga adanya serangan yang mendadak itu, akhirnya Daryudana terjatuh dari kereta dan mendapatkan banyak luka. Dia mengerang kesakitan sambil memegang dadanya yang terasa sakit karena terjatuh saat menghindari lemparan gada Werkudara. Untung saja dia sempat menghindar, walaupupun dia menderita luka namun nyawanya dapat terselamatkan.
Melihat hal itu, Resi Bisma segera menyambar tubuh Daryudana dan menaikkannya ke atas kereta kuda kembali. Kemudian secepat kilat melarikan kereta tersebut menjauhi medan pertempuran. Yang menjadi tujuan Resi Bisma hanya satu, yaitu menyelamatkan Daryudana.
Sementara itu, setelah mengetahui bahwa Daryudana dibawa lari oleh Beghawan Bisma, Bima segera mengobrak abrik barisan Kurawa. Dia mengamuk dan menghajar siapapun dari para Prajurit Kurawa itu yang ada di dekatnya.
Note:
__ADS_1
Nama lain dari para Pandawa, agar readers tidak bingung ya
1. Puntadewa : Yudistira, Panduputra
2. Bima : Werkudara, Bratasena,
3. Arjuna : Janaka, Permadi, Kumbang ali ali, Dananjaya
4. Nakula : Pingten
5. Sadewa : Tangsen atau lebih dikenal dengan Kembar
Suasana kembali genting. Para prajurrit Kurawa itu sekarang banyak yang lari dan bersembunyi agar terhindar dari amukan sang Bima.
Beghawan Bisma yang mengetahui lemurkaan dari Bima, segera mengumpulkan para rajurit Kurawa yang masih tersisa. Dengan keahliannya dalam siasat dan memimpin perang, mereka kemudian maju kembali ke medan perang.
Sasaran dari Resi Bisma adalah tempat dimana Arjuna dan Prabu Kresna sedang bertempur melawan para Kurawa.
Dengan keahlian dan kesaktiannya, Resi Bisma menghajar setiap prajurit Pandawa yang dia temui. Ulah krida dari sang mahasenapati Kurawa itu sungguh mengerikan. Tak terhitung lagi jumlah para wadyabala Pandawa yang kocar kacir dan tewas akibat amukan dari Resi Bisma.
Mengetahui hal itu, Kresna sebagai pujangga perang Pandawa segera memanggil Arjuna.
“Dinda Arjuna, kamu lihat apa yang dilakukan oleh Eyang Resi Bisma?” Tanya Kresna.
“Iya Kanda Prabu. Para wadyabala Pandawa banyak yang gugur dan pertahanan kita menjadi porak poranda karena ulahnya” kata Arjuna.
__ADS_1
“Jika amukan dari Eyang Bisma tidak bisa kendalikan atau sokur kalo Resi Bisma bisa kita singkirkan. Jika tidak bisa kita singkirkan maka wadyabala Pandawa akan habis tidak tersisa” kata Kresna.
“Kalau begitu, mari kita kesana Kanda Prabu. Kita hadapi amukan Eyang Resi Bisma bersama sama” kata Arjuna.
Akhirnya Prabu Kresna segera mengarahkan kereta Jaladara menuju kea rah dimana Resi Bisma sedang mengamuk dan membantai para wadyabala Pandawa. Kereta itu sesekali melayang menghindari terjangan dari para prajurit Kurawa.
Rupanya tindakan Kresna dan Arjuna itu diketahui oleh Resi Bisma. Dia kemudian bersiap untuk melontarkan ratusan anak panah ke udara, yang diarahkan ke kereta kuda Kyai Jaladara. Namun sebanyak itu anak panah yang terlepas dari busur, tak satupun yang berhasil mengenai sasaran.
Resi Bisma benar benar dibuat takjud oleh kegesitan dan kepintaran cucunya itu. Dia benar benar bisa menguasai ilmu kadigdayaan dan ketrampilan perang yang luar biasa. Gerakannya bisa sangat cepat bagaikan kilat dalam bahasa pewayangan sering diistilahkan ‘kebat kaya kilat, gesit kaya tatit, kadya sikatan nyamber walang’. Dalam hal ini, bisa diartikan Raden arjuna berhasil unggul satu langkah dibandingkan dengan Resi Bisma.
Namun ada yang aneh dan janggal dari peristiwa tersebut. Raden Arjuna masih belum mau melepaskan anak panah yang bisa membahayakan atau yang bisa menciderai Sang Maharesi Bisma. Ini tidak biasa terjadi di medan peperangan. Harusnya, seorang akan memandang lawannya sebagai musuh yang harus dihancurkan. Berbeda dengan yang terjadi pada diri Raden Arjuna.
Melihat hal tersebut, hati Prabu Kresna sangat jengkel. Berkali kali dia member kode agar Raden Arjuna menyerang Resi Bisma, tapi Arjuna sedikitpun tidak berusaha menyerang, dan hanya sibuk menghindar dari serangan beruntun Resi Bisma yang semakin menjadi jadi.
Kejadian itu makin membuat gusar pujangga Pandawa. Apalagi Resi Bisma juga mengarahkan panahnya ke pasukan Pandawa, sehingga banyak dari mereka yang meregang nyawa.
Apa yang akan dilakukan oleh Kresna, dan bagaimana nasib para Pandawa selanjutnya, tetap nantikan episode selanjutnya ya…….
Mohon like dan votenya terus untuk mendukung novel ini dan menambah kasanah pengetahuan tentang pewayangan jawa.
selamat membaca........................
__ADS_1