
Kematian dari Bambang Irawan menyisakan kesedihan di hati semua para Pandawa. Bukan hanya Arjuna,namun juga semua Pandawa dan putra putra Pandawa.
Raden Gatotkaca yang mengetahui hal itu tidak kuasa menahan amarah sekaligus kesedihannya. Akhirnya dia segera melompat ke tengah tengah barisan Kurawa. Tujuannya adalah menumpas Kurawa sebanyak banyaknya untuk membalaskan kematian adiknya Bambang Irawan.
Karena Gatotlaca adalah pendekar pilih tanding yang memiliki kemampuan yang sangat hebat, ibarat pepatah jawa ‘otot kawat balung wesi’ membuat Kurawa benar benar terpojok dan tidak bisa menandingi sepak terjang satriya Pringgandani itu.
Suasana makin mencekam, wadyabala Kurawa menjadi kacau balau karena amukan dari Sang Gatotkaca. Satriya yang bisa terbang itu, dengan mudah memukul satu persatu para prajurit Kurawa yang berusaha menghadang sepak terjangnya. Tak terhitung jumlah prajurit yang harus rela binasa di tangan satriya muda ini.
“Tenanglah kamu di alam sana dinda Irawan. Kanda yang akan membalaskan dendammu……” seru Gatotkaca sambil terus menerjang barisan musuh didepannya.
__ADS_1
Gatotkaca kemudian menerjang barisan gajah dari bala tentara Kala Alambasa, sekutu dari Daryudana. Barisan itu hancur dan tidak terhitung mereka para raksasa teman teman dari Alambasa itu yang sudah menghembuskan nyawanya. Gatotkaca semakin merangsek utnuk mencari Daryudana, sang pimpinan Kurawa. Namun sampai dengan saat ini, dia belum bisa menangkap Daryudana yang notabenenya masih merupakan paman dari Gatotkaca sendiri.
Sampai pada akhirnya, sepak terjang Gatotkaca di ketahui oleh Sang Maharesi Bisma. Bisma yang kawatir dengan keadaan para Kurawa jika sampai Gatotkaca tidak segera dihentikan, segera memerintahkan Beghawan Druna untuk menghadang sepak terjang Gatotlaca.
“Resi Druna, jika Guru Druna tidak keberatan sudilah kiranya Guru Druna untuk menghadang sepak terjang Gatotkaca. Jika dibiarkan, bukan mustahil semua bala tentara Kurawa akan habis tak tersisa” kata Bisma
“O, Iya Eyang Resi Bisma, biarlah Bapa Druna yang akan menghentikan anak Pandawa ini. Resi Bisma silakan menjaga keselamatan Anak Prabu Daryudana” kata Druna.
Setelah memastikan dimana posisi Gatotkaca, akhirnya , Beghawan Druna segera menghadangnya dan terjadilah pertarungan sengit antara Guru Pandawa dan anak Pandawa.
Sampai pada suatu ketika, yudistira melihat hal itu. Dengan sigap dia segera memerintahkan Bima, ayah dari Gatotkaca untuk membantu anaknya melawan Pandita Druna.
“Bima, anakmu Gatotkaca sekarang sedang diterjang oleh Guru Druna. Kamu pasti tahu seberapa besar kemampuanmu. Jika kamu tidak membantunya, mungkin Gatotkaca akan menyusul Bambang Irawan” kata Yudistira.
Mendengar hal itu, tanpa menjawab pertanyaan dari Yudistira, Bima segera melompat ke arah dimana Gatotkaca sedang berperang sedang menghadapai Guru Druna.
Mendapat bantuan dari ayahnya, Gatotkaca yang tadi sudah merasa ciut nyalinya, kini kembali berkobardan bergelora. Dia kemudian mencoba merangsek menuju kereta kuda Guru Druna. Para prajurit Kurawa yang meghalangi tidk luput dari tebasan senjatanya.
__ADS_1
Demikian juga halnya dengan Bima atau Werkudara, sambil melindungi anaknya, Gatotkaca, dia juga menebas kanan dan menebas kiri untuk menghancurkan para prajurit Kurawa. Gatotkaca adalah putra dari Werkudara atau Bima dengan Dewi Arimbi.
Amukan dari Sang Bima yang sangat ganas dan berbahaya itu akhirnya mampu memporak porandakan barisan Kurawa dan sekutunya.
Sampai sore hari, tidak kurang dari enam belas pemimpin pasukan Kurawa yang sirna oleh Raden Werkudara. Hal ini menyisakan duka yang sangat mendalam bagi para Kurawa terutama Daryudana.
Peperangan di hari itu membuat Kurawa menderita kekalahan telak, karena harus kehilangan belasan prajurit terbaik dari para Kurawa dan juga sekutu sekutunya…………………..
Bersambung………………….
__ADS_1