
Pada suatu hari, Eyang dari Pandawa yaitu Prabu Matswapati memberikan usul agar Pandawa mengirimkan dutha atau utusan untuk bertemu dengan Prabu Daryudana yang intinya adalah untuk membicarakan terkait hukuman Pandawa yang telah dijatuhkan olehnya akibat kekalahannya pada saat permainan dadu.
Utusan pertama dari pihak Pandawa adalah Ibu dari Pandawa sendiri, yaitu Dewi Kunthi Thalibrata. Dewi Kunthi adalah istri dari Prabu
Pandudewanata yang pertama. Dari pernikahan Dewi Kunthi dan Prabu Pandu,
lahirlah tiga orang anak yang merupakan bagian dari Pandawa.
Ilustrasi : Pandawa
Anak yang pertama adalah Yudistira atau Puntadewa. Dialah yang merupakan anak pertama sekaligus yang memegang tahta kerajaan Amarta dan berhasil menaklukkan ratu siluman atau ratu jin yang bernama Yudistira. Dia berperawakan yang kalem dan tidak pernah marah serta tidak mau berperang. Tapi walaupun begitu, jika sampai dia marah, dia bisa berubah menjadi raksasa yang sangat besar dan ditakuti oleh para dewa sekalipun.
Anak kedua adalah Bima atau Werkudara. Berperawakan tinggi besar dan kuat. Pada saat BABAT WANAMARTA dialah yang berhasil membuat hutan belantara menjadi sebuah Negara yang kemudian diberi nama Amarta. Dia adalah seorang satriya di kasatriyan Jodhipati.
Sedangkan anak ketiga adalah seorang pemuda yang sangat tampan dan menjadi idaman semua gadis yang melihatnya. Dialah Arjuna atau Janaka. Menjadi kesatriya di Madukara, terkenal dengan banyak istri.
Bukankah Pandawa itu lima?
Ya, Pandawa berjumlah lima, tapi ternyata itu bukan lah saudara seayah dan seibu. Tapi dua saudaranya yang lain yaitu Nakula dan Sadewa adalah anak dari istri kedua Prabu Pandudewanata yaitu Dewi Madrim.
__ADS_1
Dewi Khunti sebagai dutha yang pertama yang datang menemui Prabu Daryudana. Kedatangannya ternyata tidak membuahkan hasil apapun. Demikian juga utusan kedua, yaitu Raja dari Negara Pancalaradya Prabu Drupada. Prabu Drupada mengalami hal yang sama, tidak ada hasil yang didapatkan dari kedatangannya ke Astina menemui Prabu Daryudana. Malah kondisinya lebih memprihatikan. Kereta kuda yang dikendarai oleh Prabu Drupada habis dihancurkan oleh Kurawa.
Kegagalan Dewi Kunthi dan Prabu Drupada membuat para Pandawa berfikir keras untuk mendapatkan seorang utusan yang betul betul mampu membuat Kurawa tidak berkutik. Sebagaimana diketahui, Kurawa memiliki Patih Sangkuni. Seorang Patih yang sangat licik dan bahkan akan selalu melakukan apapun juga demi untuk
memuluskan rencananya.
“Adik adikku, kalian tahu kan? Ibu Kunthi dan Prabu Drupada belum berhasil melakukan perundingan dengan Prabu Daryudana. Apakah diantara kalian ada yang mempunyai gagasan?” Yudistira menanyakan perihal keadaan yang sedang dihadapinya dengan adik adiknya dan ibunya.
Namun mereka belum ada yang menyahut. Kemudian Yudistira mencoba menanyakan pendapat ibunya.
“Bagaimana Ibu. Apakah ibu mempunyai saran lain yang bisa kita laksanakan?” Tanya Yudistira
“Ibu belum mempunyai gagasan lagi anakku. Setelah kegagalan Prabu Drupada, kita harus mengirimkan orang yang benar benar pandai dalam
“Bagaimana dengan kamu Bima? Apakah kamu sudah memikirkan jalan keluar yang lain?” Yudistira berpaling pada adiknya yang berperawakan tinggi besar itu.
“Haaa….. aku masih berfikir kak. Jika kita tidak mempunyai utusan yang benar benar menguasai tehnik permainan dari Kurawa, tidak akan pernah membuahkan hasil” kata Bima
“Lalu siapa yang menurut kamu layak dan mampu untuk menjalankan tugas ini Bima?” Yudistira nampak berfikir sangat keras.
“Ada satu orang yang menurut aku bisa menjalankan ini semua. Tidak lain dan tidak bukan adalah saudara tua kita, Kakang Kresna. Hanya dia yang bisa untuk mengimbangi dan mewaspadai akal licik dan tipu muslihat dari Kurawa. Aku rasa tidak ada lagi yang pantas kita mintai tolong selain dia” kata Bima.
__ADS_1
Dan memang benar apa yang dikatakan oleh Bima. Raja negara Dwarawati, Sri Bhatara Kresna adalah orang yang tepat untuk menjadi dutha dari Pandawa ke Negara Hastina. Selain karena kepandaian dan kecerdikannya, Prabu Kresna juga merupakan titisan dari Sang Hyang Wisnu. Yang tentunya akan sangat tahu bahkan bisa meramalkan apa yang akan terjadi di kemudian hari.
Yudistira kemudian membicarakan perihal ini dengan semua sesepuh Pandawa termasuk Prabu Mangsahpati dan ibunya. Ternyata semua orang setuju untuk mengangkat Prabu Kresna sebagai duta atau utusan ketiga ke Negara Hastina menemui Prabu Daryudana.
****
Pada hari yang sudah ditentukan, mereka mengirimkan utusan kepada Raja Negara Dwarawati untuk datang ke Wiratha, tempat dimana Pandawa selama ini tinggal.
Mereka semua telah berkumpul untuk menantikan kedatangan dari orang yang sangat dinanti nantikan.
Pada saat itu, tiba tiba dilangit Wiratha, ada mendung yang tidak seperti biasanya. Mendung itu seperti berjalan dan membawa sesuatu. Dan benar setelah mendung itu semakin dekat, Nampak sebuah kereta kencana yang menjadi kebanggaan dari Raja Dwarawati. Kereta kencanayang diberi nama Jaladara.
Ilustrasi : Kresna
Perlahan lahan kereta itu turun dan mendarat dengan sangat pelan di halaman istana Negara Wiratha. Nampak diatas kereta kencana Jaladara itu, seorang laki laki dengan kulit yang berwarna hitam sedang duduk
mengendalikan kereta kencana itu. Dialah seorang manusia titisan dari Bathara
Wisnu, Raja Dwarawati, Prabu Sri Bathara Kresna.
__ADS_1
***