PERANG BHARATAYUDA

PERANG BHARATAYUDA
Episode 22 Dewi Wara Srikandi


__ADS_3

 


 


 


 


Pagi hari itu, sang surya kembali mengajak berdamai dan bercanda alam semesta. Namun tidak dengan Kurusetra. Karena hari ini para Kurawa dan Pandawa juga akan melanjutkan perang mereka. Perang yang akan menentukan siapa yang berhak atas tahta Hastinapura dan Indraprastha. Perang dalam usaha untuk mempertahankan harga diri mereka, meskipun sebenarnya mereka adalah saudara.


Pada saat itu, Nampak Daryudana yang sekarang sedang meneliti para prajurit Kurawa yang akan bertarung kembali ke medan laga. Suasana yang mencekam. Banyak dari para prajurit itu, baik yang di pihak Pandawa ataupun Kurawa yang sudah tewas dan menjadi santapan empuk burung pemakan bangkai yang semakin hari semakin banyak saja jumlahnya di tegal Kurusetra.


Mereka yang memiliki jabatan dan pangkat penting, mungkin jasadnya masih akan dikubur oleh para prajurit itu. Tapi bagi prajurit rendahan, tidak ada yang sempat untukmengurusi mayat mereka. Tubuh mereka tak ubahnya seonggok sampah yang akan segera didatangi oleh serangga liar dan burung pemakan bangkai.


Itulah kejamnya perang. Ada pepatah, jika gajah berkelahi dengan gajah maka pelanduk akan mati di tengah tengah. Begitupun ketika penguasa saling berebut jabatan, maka rakyat jelatalah yang menjadi korban.


Saat itulah, sambil meneliti dan memastikan kesiapan para Kurawa, Daryudana berkali kali berpesan agar para Kurawa menjaga Resi Bisma jangan sampai berhadapan dengan Srikandi. Menurut dugaan dari para Kurawa, hari ini Pandawa pasti akan membawa Dewi Srikandi, istri Janaka itu untuk maju ke medan perang. Dan itu tidak boleh terjadi.

__ADS_1


Daryudana sudah memperhitungkan apa yang akan terjadi. Ibaratnya seekor *nj*ng saja akan bisa membunuh hariamu\, jika harimau itu tidak mau melawan. Apalagi seorang pendekar hebat yang tidak mau menyerang. Itu;ah yang selalu dipesankan oleh Daryudana kepada para prajurit Hastina kali ini.


Dan dugaan dari Daryudana itu ternyata tidak meleset sedikitpun. Hari ini, Arjuna maju ke medan perang ditemani istrinya, Srikandi. Tapi anehnya, ternyata mereka menggunakan kereta perang sendiri sendiri. Srikandi menaiki kereta perang dan berada di depan, sedangkan Arjuna berada di belakang Dewi Woro Srikandi.


Ketika itu, sudah Sembilan hari lamanya perang Bharatayuda di tegal Kurusetra itu berlangsung. Ada yang aneh dari perang kali ini. Saat Arjuna berhadapan dengan Resi Bisma, nampaknya kali ini Arjuna sudah mengerahkan seluruh kemampuannya. Sangat berbeda sekali dengan Resi Bisma, dia seakan akan hanya menghindar dan tidak mau menyerang salah satu dari Pandawa itu. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Arjuna untuk membuat Eyangnya itu menyerah. Tapi ternyata semua itu tidak membuahkan hasil.


Sampai pada akhirnya, tiba tiba Arjuna mengajak istrinya Srikandi untuk bersama sama menyerang Resi Bisma.


Mereka berdua menyerang Resi Bisma bersam sama dengan ratusan anak panah yang mereka lepaskan mengarah ke orang tua tersebut. Panah berseliweran menuju kea rah Resi Bisma tak terkendali. Para prajurit Kurawa yang bertugas mengawal Resi Bisma pun sangat kerepotan. Bahkan ada diantara mereka yang harus mengerang kesakitan karena tertembus anak panah dari Arjuna dan Srikandi.


Sang Daryudana yang melihat peristiwa itu sangat kawatir. Dia melihat sepertinya Resi Bisma masih belum mau melawan putra Pandudewanata itu. Ini sungguh merupakan sesuatu yang sangat membahayakan keselamatan Sang Maharesi Bisma.


Sementara itu, para prajurit Kurawa dan Pandawa masih saling serang, mereka saling menampilkan kepawaiannya dalam mengalahkan musuh. Wajah wajah lelah setelah delapan hari bertempur tanpa henti di tegal Kurusetra, Nampak dari raut muka mereka.


Banyak dari mereka yang saat ini sudah gugur di medan laga, dan jasadnya sudah hilang karena menjadi santapan burung pemakan bangkai yang setiap malam semakin bertambah dan ruoanya sudah menjadi penghuni tetap tegal Kurusetra. Mereka kini tinggal menyisakan tulang tulang dan bau busuk yang menyengat dan menyebar kemana mana.


Daryudana yang melihat hal itu sangat miris dan gundah hatinya. Dia merasa was was dan takut jikalau dia mengalami kekalahan dalam perang besar ini. Tapi semua adalah untuk membela hrga dirinya. Dia tidak mungkin menyerahkan kekuasaan yang telah dikuasainya begitu saja. Tidak mungkin. Akan ditaruh mana mukanya, Daryudana, masa harusd menjadi raja bawahan atau bahkan hanya bekerja dengan para Pandawa? Tentu saja, Daryudana tidak akan pernah mau.

__ADS_1


Nasi sudah menjadi bubur, apapun yang terjadi, Kurawa tetap harus maju. Namun ditengah kegalauan itu, Daryudana terperanjat.


Dan kekawatiran itu ternyata terbukti.


Di saat saat genting tersebut, tiba tiba sebuah anak panah yang dilepaskan oleh Srikandi, melesat dengan cepat dan mengenai dada Sang Maharesi Bisma. Semua orang terkejut. Tidak terkecuali Sang Maharesi Bisma sendiri.


Tiba tiba saja, mata Sri Bisma seperti memancarkan sinar bagaikan intan berlian. Itulah pertanda bahwa orang tua itu saat ini sedang sangat marah. Tubuhnya gemetar, giginya gemeretak dan mulutnya menahan hawa yang sangat keras. Dengan sorot mata seekor naga, Sri Bisma kemudian menatap kea rah Srikandi.


Namun tiba tiba, Beghawan Bisma berhenti menatap. Pandangannya kosong. Ada sesuatu hal yang mengingatkan dia akan peristiwa yang sangat memilukan ketika dia masih muda.


Peristiwa tersebut adalah…………………….


 


Tunggu episode selanjutnya ya.


Jangan lupa like dan share agar lebih banyak readers yang mengambil manfaat dari cerita ini……

__ADS_1


Selamat membaca……


__ADS_2