PERANG BHARATAYUDA

PERANG BHARATAYUDA
Episode 26 Siasat Sang Resi Kumbayana


__ADS_3

 


 


 


 


Perang besar yang terjadi di Tegal Kurusetra untuk beberapa hari terhenti. Kematian Sang Maharesi Bisma menyisakan duka mendalam di pihak Kurawa ataupun Pandawa. Sang Maharesi Bisma adalah seorang pahlawan sejati, dia gugur dalam memenuhi sumpahnya sebagai seorang senapati perang di negaranya.


Bunga beraneka warna memenuhi pusara sang ksatriya sejati. Doa puja satya diberikan untuknya. Tidak hanya para Pandawa dan Kurawa, para dewapun juga memberikan rasa hormatnya pada Sang Maharesi Bisma.


Perang besar ini telah menelan banyak korban jiwa, harta dan segalanya. Namun apakah perang ini sudah berakhir? Jawabannya ternyata tidak. Perang ini masih akan berlanjut untuk menentukan siapa yang layak bertahta di Kurusetra, memimpin Negara Hastinapura dan Indraprastha.


Setelah beberapa hari mereka menghentikan peperangan. Besok pagi Tegal Kurusetra akan kembali menggeliat. Bau anyir darah yang kemarin sempat hilang karena beberapa hari tidak ada darah yang mengucur di tempat itu, namun kelihatannya hari ini akan terjadi lagi. Darah saudara dari keturunan Bharata akan kembali tumpah.


Malam ini di pesanggrahan Bulupitu, dimana para Kurawa beristirahat dan menyiapkan segala keperluan perang. Beghawan Druna sedang berbincang bincang dengan Daryudana dan Patih Sangkuni.


“Bapa Druna, setelah Resi Bisma tidak ada. Saya bingung. Siapa yang layak untuk memimpin para Kurawa manjadi senapati agung atau mahasenapati pada saat ini” kata Daryudana.


“Kalau menurut saya, anak Prabu. Senapati perang saat ini harus yang benar benar mumpuni agar tidak terlalu banyak korban lagi di pihak Kurawa” kata Patih Sangkuni.

__ADS_1


“Lalu siapa paman Patih. Sedangkan saat ini Kanda Karna juga belum bersedia untuk menjadi senapati menghadapi Pandawa. Padahal Bharatayuda besok pagi sudah akan dimulai kembali” kata Daryudana. Wajahnya menyiratkan perasaan yang kalut dan bingung.


“Kalau menurut saya, tidak ada yang lebih pantas menyandang gelar sebagai mahasenapati kecuali Resi Druna. Bukankah begitu anak Prabu?” Tanya Sangkuni kepada Daryudana.


Setelah berfikir beberapa saat, Daryudana kemudian menoleh kea rah Beghawan Druna.


“Bagaimana Bapa Beghawan Druna? Saya kira usul Paman Sangkuni sudah tepat. Saya harap Beghawan Druna bersedia menjadi maha senapati menggantikan Sang Maharesi Bisma”kata Daryudana.


Sang Druna, setelah terdiam beberapa saat,kemudian berkata, “ Mohon maaf Anak Prabu. Saya adalah abdi dari Negara Hastina. Jika memang  Negara membutuhkan saya dan member kepercayaan kepada orang tua ini, tidak ada kata lain selain siap menjalankan tugas. “


“Baiklah Bapa Druna, terima kasih atas kesediaan dan kesetiaan Beghawan Druna. Saya harap besok pagi Bapa Druna siap untuk menjadi senapati Kurawa. Dan yang menjadi tugas dari Beghawan Druna adalah menumpas Pandawa. Terutama Yudistira. Saya kira, jika Yudistira berhasil disingkirkan, maka para Pandawa akan dengan mudah ditaklukkan. Bukankah begitu paman Sangkuni?” Tanya Daryudana sambil melirik kea rah Patih Sangkuni.


“Semua yang dikatakan Angger Daryudana dan Dinda Sangkuni memang benar. Jika yudistira bisa disingkirkan, maka kekuatan Pandawa akan berkurang lebih dari separo. Tapi untuk menyingkirkan Pandawa bukan hal yang mudah. Karena Puntadewa itu tidak mau berperang. Dia akan selalu dijaga oleh Bima dan Arjuna.” Kata Resi Kumbayana


“ Lalu bagaimana caranya agar Yudistira itu bisa dibunuh Kanda Druna? ” Tanya Patih Sangkuni.


Beghawan Druna, walaupun dia adalah seorang Resi atau Pandhita, tapi dia adalah seorang yang memiliki hati yang culas dan jahat. Dia akan membuat segala cara untuk mengalahkan musuhnya.


Setelah tersenyum sebentar, dia kemudian berkata, “ salah satu caranya adalah dengan memisahkan Yudistira dengan Bima dan Arjuna”


“Lalu bagaimana jika mereka tetap bersatu dan berada di dekat Yudistira Bapa Druna ? “ Tanya Daryudana.

__ADS_1


“Angger Prabu. Bukankah Hastina punya sekutu? Manfaatkanlah mereka. Saya kira Raja Girikasapta dan Raja Windya yaitu Prabu Gardhapathi dan Prabu Wersaya bisa kita suruh untuk menantang Bima dan Arjuna dan membawanya perang jauh dari Tegal Kurusetra” kata Beghawan Druna.


“Baiklah kalau begitu, besuk saya akan perintahkan Prabu Gardhapathi dan Prabu Wersaya untuk menantang Bima dan Arjuna di pinggir Tegal Kurusetra. Terimakasih Paman Patih dan Bapa Druna. Sekarang hari sudah larut. Mari kita istirahat. Kita siapkan semangat dan tenaga untuk menumpas para Pandawa besok pagi” kata Daryudana.


Akhirnya mereka pun kembali ke tenda masing masing. Semua bergelut dengan perasaannya sendiri sendiri. Sudah menjadi tekad Daryudana, untuk menumpas saudaranya sampai penghabisan.


.


.


Terima kasih readers yang telah setia membaca kisah ini. Author tidak lupa mengucapkan Selamat Idul Fitri 1441 H. minal aidin wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin.


Selamat membaca……………


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2