
Dalam peperangan yang terjadi hari itu benar benar membuat para Kurawa sangat kewalahan. Amukan dari Bima, Arjuna dan Setyaki membuat barisan Kurawa sampai porak poranda. Saat itulah terlihat seseorang yang mengenakan mahkota yang duduk di kereta.
Dialah DARYUDANA.
Raja Hastina itu kelihatan sangat murka, wadyabala Kurawa ternyata mengalami nasib yang lebih tragis daripada kemarin. Tentu saja yang menjadi pelampiasan adalah Eyang Maharesi Bisma.
“Ternyata belum tentu omongan orang yang sudah dianggap dituakan bisa dipercaya” ucap Daryudana dengan ketus.
“Maksud Angger Prabu apa?” Tanya Resi Bisma.
“Maksudku apa? Apakah Eyang Bisma tidak melihat keadaan Kurawa saat ini? Jika menghendaki Kurawa ditumpas habis oleh Pandawa, Eyang Bisma tidak usah berdiri disini. Lebih baik eyang bergabung bersama para Pandawa. Jadi tidak membuat hatiku gusar” kata Daryudana sambil terus marah.
Sang Maharesi Bisma berusaha untuk tetap tenang. Dia tidak ingin membuat suasana makin panas.
“Maaf Angger Prabu, saya sudah berusaha melindungi para prajurit Kurawa……” kata Bisma.
Namun belum sempat Resi Bisma melanjutkaan kata katanya, Daryudana sudah memotongnya.
__ADS_1
“Melindungi? Melindungi siapa? Melindungi Pandawa apa Kurawa? ……..
Kanjeng Eyang, saya sama sekali tidak percaya jika eyang benar benar melindungi Kurawa. Jika Eyang melindungi Kurawa, bagaimana mungkin, prajurit yang dilindungi oleh mahasenapati bisa segampang itu dihancurkan.
Melindungi seperti apa? Apa jangan jangan Eyang malah yang akan menghancurkan Kurawa dari dalam, sehingga bisa memenangkan Pandawa dan Eyang Bisma menjadi pahlawan bagi mereka dengan mengorbankan Kurawa.”
“Kenapa Angger Prabu berkata seperti itu. Jiwa raga Eyang sudah eyang pertaruhkan di kejayaan Angger Daryudana……”
“Omong kosong apa itu Eyang? Sudah jelas Eyang tidak mau berperang melawan musuh, masih berbicara seperti itu?”
“Apa yang harus eyang lakukan agar kamu percaya bahwa Eyang benar benar memihak Kurawa?” Tanya Bisma sambil menghela nafas dalam.
Dan tiba tiba, Daryudana berteriak keras.
“Aku ingin Eyang membunuh Pandawa !!!!”
“Putu Prabu, Eyang memang sudah bersumpah tidak akan membunuh Pandawa. Tapi itu bukan berarti Eyang membela Pandawa. Angger Daryudana harus mengerti bahwa itu adalah sumpah yang sudah eyang ucapkan. Sebagai gantinya, Angger Daryudana boleh menyebut siapa saja yang harus Eyang sirnakan selain Pandawa dan Srikandi.” Kata Bisma.
Daryudana terkejut. Jika Resi Bisma tidak mau membunuh Pandawa itu sudah diketahui sejak dahulu karena dia terikat sumpahnya, tapi kenapa dengan Srikandi?
“Kenapa Eyang tidak mau membunuh Srikandi?” Tanya Daryudana.
‘Ketahuilah Daryudana, kelemahan dari kesaktian Eyang adalah pada wanita. Jika Eyang berhadapan dengan wanita, apalagi sampai melukainya atau bahkan membunuhnya, maka kesaktian Eyang akan sirna. Sekarang katakana, senapati Pandawa siapa saja yang harus Eyang singkirkan besok pagi?” Tanya Bisma.
“Sebenarnya, tanpa saya beritahu, Eyang pasti sudah tahu, siapa yang harus Eyang lenyapkan dari musuh musuh para Kurawa………..”
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, Daryudana kemudian kembali ke tenda utama Bulupitu untuk beristirahat.
Tidak ada pesta yang digelar disana, semuanya larut dalam kesedihan.
Tidak terkecuali, Sang Maharesi Bisma. Dia menyadari saat ini kewajibannya sangat berat. Dia harus memilih yang bukan seharusnya jadi pilihan. Dia harus bertempur dan membunuh darah keturunan Bharata, darah keturunan Eyang Abiyasa dan juga darah keturunannya sendiri.
Kadang dia berfikir, Dewa tidak adil. Kenapa harus ada perang saudara. Kadang dia harus menangis, kenapa terlahir sebagai Bisma.
Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah, dia harus membela Kurawa. Dalam pandangannya, para Kurawa adalah orang orang yang sering berbuat yang tidak seharusnya. Selain itu, setiap tindakan selalu dikerjakan dengan sembrono.
Hasilnya adalah seperti perang yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini. Mereka bertindak tanpa perhitungan. Dalam istilah jawa ‘kadhuk wani kurang duga’. Terlalu berani bertindak tanpa mempedulikan akibatnya.
Dalam kebimbangannya Resi Bisma akhirnya terlelap. Dibiarkan sang dewi malam mengelus lembut tubuh tuanya. Dia sudah pasrah, dia ingin secepatnya segera pergi dari dunia ini daripada menyaksikan sesama cucunya saling membunuh.
Dipasrahkan hidupnya pada takdir Sang Hyang Widi Wasesa.
Esok hari, Bharata Yuda akan menemuinya kembali. Dan memaksa saling membunuh lagi.
Bersambung………………..
__ADS_1