
Rasa duka dan kehilangan karena tewasnya Raden Abimanyu membuat Prabu Yudistira benar benar terpukul. Resi Wiyasa yang berusaha melunakkan hati Yudistira belum mampu membuat Raja Amarta itu tenang.
Sepeninggal Resi Wiyasa, Raden Arjuna yang merasa senang karena baru saja dapat mengalahkan musuhnya yang dianggap telah lancing berani menantangnya bahkan mengajak bertarung di pinggir pantai menjadi sedikit bingung.
Suasana pesanggrahan Hupalawiya sangat sepi. Tidak terlihat para prajurit yang hilir mudik dan melakukan aktivitas seperti biasa. Semua seperti sedang memendam duka yang teramat dalam.
Merasa ada sesuatu yang aneh, Raden arjuna segera menemui Kakandanya Prabu Yudistira.
Saat itu, Nampak Prabu Yudistira sedang beermuram durja. Wajahnya murung dan menampakkan kesedihan yang amat dalam.
“Duh kanda Prabu. Sebenarnya ada apa, kenapa sejak kedatangan Adinda di pesanggrahan Hulupawiya, kondisinya seperti ada yang ganjil. Semua terasa aneh, seperti sedang memendam duka yang teramat sangat. Padahal Adinda dan Kanda Bima sudah berhasil membunuh Prabu Wersaya dan Prabu Gardhapati, senapati Kurawa hari ini?” Tanya Arjuna.
Mendengar pertanyaan dari Raden arjuna, membuat batin Yudistira makin sesak. Dadanya sakit mengingat kejadian tadi siang. Namun belum sempat Prabu Yudistira menjawab pertanyaan Raden Arjuna, kembali Panengah Pandawa itu bertanya, “ Kanda, hari ini saya juga tidak melihat anakku Abimanyu, dimana dia? “
Tentu saja, pertanyaan dari Arjuna makin menambah sesak hati Prabu Yudistira. Saat itulah kemudian Raden Arjuna teringat jika Abimanyu berada di barisan para prajurit Pandawa di belakangnya. Pada saat dia terbawa emosi dan mengejar Prabu Wersaya, tentu senapati Pandawa menjadi kosong. Dan bisa jadi Abimanyu masuk ke perangkap Cakrabyuha yang dibuat oleh Beghawan Druna. Dan mungkin Abimanyu dikeroyok dengan panah oleh Beghawan Druna.
__ADS_1
Lalu Raden Arjuna bertanya kepada Prabu Yudistira, benarkah dugaannya itu?
Dengan berat hati, akhirnya Prabu Yudistira menceritakan hal yang sebenarnya, bahwa putranya telah gugur di medan laga.
Bukan main terpukulnya hati Raden Arjuna. Tidak henti hentinya dia menangis dan menyesali kecerobohannya. Suasana hatinya sangat berduka. Dia tidak menyangka putranya akan pergi secepat ini.
Semua menghibur dan memberikan semangat pada Raden Arjuna. Tidak terkecuali Prabu Kresna yang juga merasa sangat kehilangan.
“Dinda Permadi, kita semua sangat kehilangan putra kita Abimanyu. Tapi tidak selayaknya kita harus tenggelam dengan kesedihan ini. Memang perang selamanya akan membawa kerugian. Ibarat pepatah ‘menang dadi pindang kalah dadi rempah’. Semua akan membawa korban. Tapi putramu Abimanyu, dia telah menunjukkan bahwa dia adalah seorang pahlawan sejati. Dia gugur setelah berhasil memporak porandakan barisan musuh. Kita patut bangga dengan Abimanyu.”
Perkataan Prabu Kresna yang panjang lebar, akhirnya berhasil membuka pikiran dari Raden Arjuna. Dia akhirnya merelakan anaknya pergi sebagai pahlawan bagi para Pandawa.
Kemudian layon atau jasad dari Raden Abimanyu segera ditempatkan di ‘petumangan’. Petumangan adalah tempat untuk membakar jenasah.
Saat api tengah berkobar dengan hebatnya, tiba tiba Dewi Siti Sendari, istri dari Raden Arjuna melompat ke tengah api yang berkobar kobar, dia menyusul putranya Raden Abimanyu.
Memang dalam keyakinan mereka, bahwa siapapun yang menunjukkan rasa cinta dan sayangnya pada putra atau suaminya, mereka akan ikut mati bersama saat pembakaran jenazahnya.
Pada saat itu, Dewi Utari, yang juga merupakan istri dari Raden Arjuna juga akan melakukan ‘pati obong’ atau menceburkan diri kea pi seperti Dewi Siti Sendari. Untunglah, niat itu diketahui oleh para Pandawa. Akhirnya Dewi Utari bisa disadarkan bahwa dirinya sedang mengandung seorang bayi yang merupakan titisan dari Raden Abimanyu yang kelak akan meneruskan sejarah dan perjuangan dari Raden Abimanyu.
Saat acara pemulasaraan jenazah Abimanyu itulah, Prabu Puntadewa kemudian menceritakan bahwa sebenarnya yang membunuh Raden Abimanyu adalah Raden Djayadrata. Diapun menceritakan bahwa setelah Abimanyu berhasil membuka gelar Cakrabyuha dan memporak porandakan pasukan Kurawa, saat itu Raden Djayadrata kemudian menutup pasukan Cakrabyuha sehingga Abimanyu terkurung dan bisa dihujani panah oleh Beghawan Druna. Sampai akhirnya ketika Abimanyu dalam keadaan terluka parah, dia dibunuh oleh Raden Djayadrata.
Bukan main marahnya Raden Arjuna mengetahui hal itu.
__ADS_1
Ditengah amarah yang meluap luap, diapun mengeluarkan sumpahnya…….
“Kanda Prabu, saya tidak terima perlakuan licik para Kurawa. Aku akan menuntut balas kematian putraku Abimanyu. Disaksikan seisi jagad raya, sebelum matahari terbenam esok hari, Raden Djayadrata sudah harus mati ditanganku. Jika aku tidak bisa membunuh Raden Djayadrata sampai matahari terbenam, aku akan ‘pati obong’ menyusul putraku Abimanyu. Jika Bapa Guru Druna dan Eyang Resi Karpa menghalangi niatku, maka akan kubinasakan juga”
Mendengar perkataan dan sumpah dari Arjuna, semua terdiam. Mereka mengetahui jika saat ini Raden arjuna benar benar marah.
Setelah bersumpah, Raden Arjuna kemudian mengambil panah pusaka Kiyai Pasopati. Busur dibentangkan dan diarahkan ke angkasa. Kemudian Prabu Kresna meniup terompet Kiyai Pancajannya. Suara gemeretak busur panah dan terompet Pancajannya memekak telinga. Dan itu menjadi tanda bahwa sebentar lagi akan banyak putra putra dari Prabu Destrarasta yang akan gugur di medan perang.
“Panahmu Arjuna dan terompetmu Kanda Prabu Kresna akan menjadi saksi bahwa mulai besok pagi akan banyak satriya Kurawa yang harus menjadi tumbal Perang Bharatayuda” kata Bima sambil mengepalkan tangannya, menandakan tidak terima atas kematian keponakannya.
.
.
.
.
Bersambung. . . . . . .
__ADS_1