Perempuan Bernama Fe

Perempuan Bernama Fe
#Arsitektur


__ADS_3

Waktu berjalan terlalu cepat. Gosip tentangku di sekolah perlahan hilang begitu pula keakrabanku dengan Nia dan Aya kembali. Walau pun sebenanrya aku masih sulit percaya oleh kebaikan orang lain. Ini lumayan mengisi hari-hari ku dan apalagi kak Alan sibuk dengan kuliahnya di kota lain.


"Fe, kamu udah mikirin mau lanjut sekolah dimana nanti? " tanya Nia saat kami sedang menikmati makan siang di kantin.


"Yang jelas bukan di kota ini sih" jawabku.


"Mama mu gimana? kalau papamu keluar kota, sendiri dong" Nia melanjutkan obrolan kami


"Papa udah bilang, nanti saudaraku yg tinggal dirumah kakek disuruh pulang tinggal dirumah sama mama. Lagi pula mamaku 2 bulan lagi lahiran, bakalan ada saudara baru jadi mama gak bakalan kesepian".


"Oh gitu" Nia merespon singkat lalu kami kembali menikmati makanan di kantin.


****


"Fe, kamu sudah pikirkan mau masuk jurusan apa nanti?" tanya papa saat makan malam.


"Fe mau jadi penulis pa. Mau sastra" jawabku memberi tatapan berharap ke papa.


"Fe, papa tidak larang kamu menulis, tapi itu bisa kamu jadikan hobi saja"

__ADS_1


"Pa, tapi selain sastra Fe gak tau mau pilih apa lagi" aku hampir menangis saat mengatakan itu ke papa.


"Fe sayang. Kamu masih ada waktu, pikirkan baik-baik" lalu papa meninggalkan meja makan dan masuk ke kamar.


Aku masih bingung untuk memilih jurusan yang harus aku ambil di Universitas. Tidak ada gambaran apa yg aku ingin lakukan nanti kecuali di jurusan sastra.


"Kak, aku bagusnya pilih jurusan apa yah? atau sama kayak kak Alan aja yah?" Aku mencoba berbicara dengan kak Alan di telepon.


"Fe, yg mau kuliah kan kamu. yg tau ini itu yah kamu. Masa iya mau ikut-ikutan." jawab kak Alan


"Tapi aku beneran bingung kak"


****


Semua murid kelas 3 sedang sibuknya mencari Universitas dan beberapa saling berebut jurusan yg ingin dipilih. Aya dan Nia sudah tau tujuan mereka. Nia memilih Seni di Kota K sedangkan Aya memilih Manajemen Bisnis di kota yg sama dengan kak Alan dan tentu saja kota tujuanku.


Akhirnya aku memutuskan untuk melihat jurusan yg tidak dipilih siapa pun di Sekolah. Aku hanya meyakinkan diri dan memilih jurusan Arsitektur. Semua berkas sudah aku siapkan, hanya menunggu Ujian Sekolah selesai.


"Fe, tadi itu soal ujiannya beneran mau bikin kepalaku meledak tau gak" Nia mengeluh dan mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


"Kan udah dibilangin belajar dari dulu. Kamu mah ngandelin "the power of kepepet" teruus... " jawabku.


"Tau nih Nia, belajar dong" lanjut Aya.


****


Pengumuman menyatakan saya lulus dan diterima dijurusan Arsitektur. Universitasnya beda dengan kak Alan tapi masih di kota yg sama. Tapi mama mulai ragu, melihat jurusan yg kupilih akan menyita waktu banyak dan juga lebih banyak mahasiswa laki-laki.


"Kamu daftar yg sama Alan aja lagi yah Fe?" mama mulai khawatir dengan ku.


"Mama, kan ini udah lulus." jawabku


"Nanti kamu gimana tinggal sendiri, pasti tugansya banyak, makan mu bagaimana Fe?" mama mulai gemetar menatapku.


Aku mengikuti kemauan mama dan dinyatakan lulus juga. Tapi sambil mendaftarkan diri, aku juga perlahan meyakinkan mama untuk tidak khawatir lagi.


Mama mulai menyetujui jurusan Arsitektur setelah diyakinkan olehku dan papa. Kak Alan juga berjanji tetap menjagaku walau kami berada di Universitas yg beda sama seperti di sekolah dulu.


#bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like dan comment yah...


__ADS_2