Perempuan Bernama Fe

Perempuan Bernama Fe
#Tertekan


__ADS_3

Presentasi tugas kelompok kami cukup lancar. Tapi suasananya tidak bagus. Prilly masih tidak mengajakku bicara dan aku merasa tidak percaya diri lagi.


Omelan Prilly semalam disaksikan banyak teman lainnya. Aku merasa tatapan mereka beda, seolah menghakimi. Entah ini hanya perasaanku atau memang itu yg terjadi.


"Ri, mereka sepertinya masih marah." kataku kepada Yuri


"Fe, itu perasaan kamu saja." jawab Yuri berusaha menenangkan aku.


Ada rasa bersalah, gelisah dan khawatir menghantuiku. Aku tidak pernah begini sebelumnya. Di sekolah sebelumnya semua yg kulakukan selalu bisa diandalkan. Tapi disini banyak lebih unggul dan juga bisa diandalkan. Prilly benar aku banyak tertinggal. Hanya saja aku hanya ingin melakukan apa yg aku gemari.


****


Aku izin tidak masuk kerja hari ini. Omelan Prilly masih tergiang di telingaku. Untuk mengisi waktu ku, aku beres-beres rumah yg telah lama tidak ku lakukan karena sibuk.


"Fe, yakin gak masuk kerja?" tanya kak Alan yg melihatku membersihkan rumah.


"Udah izin kak. Lagi pula suasana hatiku lagi buruk. Kalau kerja bisa berantakan pasti" jawabku menggerutu.


"Kamu ini selalu berburuk sangka pada diri sendiri" kak Alan mulai mengomel.

__ADS_1


"Emang kamu mikirn apa sih?" lanjutnya.


"Semalam itu Prilly marah karena aku telat. Prilly juga ngomelin aku karena sibuk kerja. Padahal kan penting juga bagiku melakukan apa yg aku sukai." aku mulai menceritakan secara emosional ke kak Alan.


"Tapi Fe, Prilly ada benernya juga. Kamu akhir-akhir ini sibuk. Sudah kayak robot tau nggak?" kata kak Alan.


"Jadi gimana?" aku sudah hampir menangis.


"Fe, Prilly itu perhatian sama kamu jadinya gitu. Dia gak mau kamu tertinggal di kelas." jawab kak Alan lalu mengusap rambutku.


"Ya udah, aku pergi dulu. Mau jalan sama teman kampus" lanjutnya lalu pergi meninggalkan rumahku.


****


"Raka.... Raka.... " aku memanggil teman kelasku Raka.


"Hei Fe, ada apa?" katanya setelah mendengarku memanggilnya.


"Mau ngobrol bentaran boleh?" kataku meminta waktu Raka.

__ADS_1


Raka adalah ketua tingkatku. Dia memimpin semua mahasiswa Arsitektur dalam angkatanku. Dia memang berjiwa pemimpin, tegas dan juga disegani oleh yg lain. Pribadinya juga agak keras, dia menjadi lebih ditakuti karena itu.


"Ka, emang aku kuliah sambil kerja salah yah?" aku mencoba mengajak Raka mengobrol tentang masalahku dan omelan Prilly.


"Oh yang itu. Prilly sudah cerita" jawab Raka.


"Jadi gimana?"


"Fe, Prilly kayak gitu karena perhatian. Sebenarnya sudah lama aku yg mau ngomong sama kamu. Kamu sering tidak masuk kelas, tugas mu juga berantakan. Tapi, kamu cewek, pasti tidak akan suka kalau aku yg ngomong." jawab Raka mencoba menjelaskan.


"Aku cuman mau melakukan apa yg aku suka." Air mataku mulai menetes saat mendengar penjelasan Raka.


"Iya, tapi itu akan merugikan kamu dan kami tidak mau itu. Kita disini sama-sama jauh dari keluarga, belajar. Kalau bukan teman-temanmu yg tolongin kalau kamu kenapa-napa siapa lagi coba? Bukannya mau ngurusin urusan kamu, sok ngatur tapi ini demi kebaikan mu juga." Raka menjelaskan dengan nada tegas.


Aku memikirkan semua perkataan Raka. Memang aku egois karena lupa kewajibanku sebagai pelajar demi hobi ku. Aku juga tidak punya waktu untuk kak Alan semenjak kerja. Padahal dia selalu ada kalau aku butuh.


#bersambung.


Jangan Lupa Like dan Comment yah...

__ADS_1


__ADS_2