
Setelah papa sudah membaik, aku kembali ke rantau. Aku telah memikirkan baik-baik akan mengindurkan diri dari tempat magang.
"Yuri, aku mau mengundurkan diri besok" aku mengirim pesan kepada Yuri.
"Kalau memang sudah siap, ya sudah" balas Yuri.
"Iya, mengingat keadaan papa aku akan lebih sering pulang."
Aku memutuskan untuk mengajukan pengunduran diri dan kembali fokus di kampus. Prilly pun sudah melunak dan cerewet seperti biasanya.
"Fe, tapi kamu berhenti kerja itu karena aku yah?" tanya Prilly.
"Eh bukan kok, bukan. Cuman sadar aja setelah diomelin kamu sama Raka" jawabku menyenggol bahu Prilly.
Prilly tertawa "Oh.. Karena diomelin Raka?" ejeknya.
Aku dan Prilly tertawa. Raka memang bisa membuat semua orang tercekik karena omongannya. Mulai hari ini aku putuskan orang yg paling aku takuti di kampus adalah Raka.
****
Sudah seminggu aku mengundurkan diri dan fokus di kampus. Tanpa sadar waktuku yg kosong karena tidak ada kesibukan selain kampus kuisi dengan kebiasaan bermalas-malasan. Sekedar menonton drama sambil mengemil atau mencari tempat makan yg belum pernah aku coba.
__ADS_1
"Raka, liat Prilly tidak?" aku memanggil Raka yg sementara berjalan menuju parkiran bersama teman-teman yg lain
"Oh gak, Fe" jawab Raka lalu pergi menunduk.
Aku melihat teman-teman yg bersama Raka tertawa setelah pergi. Mungkin aku hanya berburuk sangka tapi aku merasa mereka tertawa karena aku. Melihat respon Raka juga yg cuek membuatku berpikir ada yg salah.
Responku terhadap sekitarku sekarang terlalu peka. Mungkin karena pengalaman-pengalaman sebelumnya dan juga aku yg mulai terbuka. Aku sering risih melihat tingkah temanku yg agak cuek atau mengabaikanku. Semacam ada rasa bersalah tapi aku tidak tau jelas apa yg salah.
Hari-hari seperti ini, aku mulai resah. Banyak yang berpikir aku menyukai Raka. Mereka menganggap aku berhenti kerja karena Raka dan juga menganggap aku memanfaatkan Raka untuk mengantar jemput ku di kampus. Mungkin karena aku minta tolong diantar ke bandara malam itu. Gosip miring lagi lagi ada tapi aku tidak bisa menjelaskan kepada orang-orang.
"Ri, aku nginap di tempat mu yah?" aku mengirim pesan ke Yuri. Berharap bisa menceritakan kegelisahanku kepada Yuri.
"Ok" balasnya.
"Fe, ini sayur ayam buat apa?" tanya Yuri melihat barang bawaanku.
"Buat masaklah. Perlengkapan dapur segini lengkapnya sayang kalo cuman masak indomie" jawabku lalu aku langsung menuju dapur.
"Ri, bantuin potongin wortel dan kolnya yah?" lanjutku.
"Contohin dulu potongnya gimana" jawab Yuri.
__ADS_1
Aku syok lalu tertawa mendengar Yuri yg tidak tau cara memotong sayuran.
"Ya ampun Yuri, potong sayuran aja gak bisa umur sudah segini tuanya." aku langsung mengambil sayur dan pisau lalu mulai memotong sayur.
Yuri melanjutkan memotong sayur dan aku kembali sibuk dengan ayam yg akan aku masak. Yuri memotong dengan lambat sehingga pas setelah ayamnya masak, dia baru selesai. Aku langsung memasak sayurnya dan setelah semua siap kami makan berdua.
"Fe, kamu gelisah yah liat respon anak-anak ke kamu?" tanya Yuri yg membaringkan badannya setelah membereskan makanan kami. Ternyata dia juga sama, tidur setelah makan.
"Iya Ri, gak enak aja ada kesalahpahaman gitu" jawabku putus asa.
"Kamu mending diemin aja. Cuek aja kali. Gak butuh mereka juga" jawab Yuri santai. Sesuai pikiranku Yuri memang berpikir dewasa.
"Gak tau nih, aku selalu berpikiran aneh tau gak. Seolah ada mata jahat menatapku terus. Risih kalau ada masalah sama orang. Raka juga pasti gitu, makanya dia cuek sekarang." aku ikut berbaring bersama Yuri dan bercerita menghadap langit-langit kamar.
Curhatanku berlanjut hingga larut malam, dan Yuri senantiasa merespon dengan bijak semua pemikiranku.
Tiba-tiba hp ku bergetar tanda pesan masuk. Kulihat ternyata itu kak Alan, kami memang mulai renggang sejak aku mulai magang.
"Fe, kita putus saja yah" kubaca isi chatnya yg menyakitkan. Kenapa harus disaat seperti ini. Aku pun memutuskan untuk tidak membalas pesannya.
#bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like dan comment yah...