
Semua rencana yang kususun berjalan dengan baik. Aku pindah ketempat yang lebih kecil dan dekat dari kampus, Prilly dan Yuri membantuku mengejar semua pelajaran dan tertinggal, kadang kami juga menghabiskan waktu bersama.
Yuri sudah jauh lebih terbuka kepada aku dan Prilly. Sudah terungkap bahwa Yuri adalah orang humoris, kalau bisa dikatakan dia introvert yang humoris. Aku semakin dekat dengannya, dia selalu ada saat dibutuhkan.
****
Semangatku untuk mengejar pelajaran yang tertinggal sangat besar. Kata-kata penyemangat dari kak Fian juga menjadi motivasi tersendiri. Sesekali kami tetap berkomunikasi seperti dulu. Saling berbagi tentang apa yang terjadi di hari-hari kami. Aku semakin jatuh cinta padanya.
Ponselku berbunyi, ada panggilan dari mama. Semenjak kembali sibuk dengan urusan kuliah aku memang tidak pernah pulang dan bertemu mama. Kami hanya berkomunikasi lewat telepon sesekali.
"Yah, halo. Ma" sapaku.
"Fe, kamu lagi ngapain sayang?" tanya mama.
"Tidak ada ma. Fe hanya istirahat. Mama baik-baik aja kan?"
"Mama baik kok. Eehhmm kamu kira-kira kapan bisa pulang Fe?" suara mama terdengar ragu.
"Akhir bulan ini ada libur ma. Mungkin Fe akan pulang. Memangnya ada apa?" tanyaku penasaran.
"Mama cuma kangen sama kamu nak. Kamu usahakan pulang yah!" kata mama memelas.
" Iya ma. Fe juga kangen sama mama. Fe usahain pulang yah ma" aku meyakinkan mama.
"Ya udah sayang, kamu istirahat lagi. Jangan begadang. Jangan sampai telat makan juga" Kata mama.
"Iya ma. Mama juga yah. Fe sayang mama" jawabku mengakhiri panggilan.
Aku langsung kepikiran mama. Rasanya ini pulang saat ini juga. Seperti ada hal penting yang dirahasiakan mama tapi bahkan aku tidak bisa menebaknya. Mungkin memang aku harus segera pulang.
__ADS_1
****
Aku terlalu bahagia hari ini. Kak Fian mengabariku kalau dia mendapatkan libur beberapa hari dan akan pulang hari ini. Kami sudah berbulan-bulan tidak bertemu dan akhirnya ada kesempatan.
Kupersiapkan diriku dengan baik. Aku terlalu bahagia sampai bingung harus menggunakan baju dan riasan seperti apa bertemu kak Fian. Aku mengeluarkan semua baju dari lemari dan kucoba satu persatu. Harus terlihat sempurna di depan kak Fian.
Aku terburu-buru menuju ke pantai setelah diajak kak Fian bertemu disana. Setelah mendapatkan riasan dan pakian yang aku inginkan aku langsung memesan taxi online agar bisa cepat sampai.
****
Sudah pukul 5 sore dan aku sudah hampir tiba di pantai yg dimaksudkan oleh kak Fian. Akibat terlalu lama berdandan lalu hasilnya sesederhana biasanya, aku terlambat dari waktu yang diberikan kak Fian.
"Halo, kak aku udah mau sampai. Posisi tepatnya dimana?" aku menelfon kak Fian untuk mengabarinya.
"Oh iya Fe, aku berdiri di pinggir jalan kok. Kamu pelan-pelan liat aja" jawabnya.
"Oh iya iya.. Aku udah liat". Kataku.
"Kak Fian.. " aku berteriak agar kak Fian melihat ke arahku.
"Fe.." jawab kak Fian dengan senyum manisnya.
"Maaf kak, nunggu lama yah?"
"Tidak. Ya udah ayo kita kesana. Keluargaku udah nunggu" kata kak Fian.
Aku syok mendengar kalau keluarganya ada disana. Rasanya gugup, aku berpikir keras bagaimana aku harus bersikao di depan keluarga orang yang aku suka ini.
"Oh ini yah yang ditunggu. Ayo kemari. Aku tantenya Fian" seorang wanita yang terlihat masih muda itu menyapa ku dengan hangat.
__ADS_1
"Selamat sore, aku Fe. Temannya kak Fian" aku memperkenalkan diriku kepada semua keluarganya.
Semuanya menyambutku dengan ramah. Kak Fian memperkenalkanku pada semua keluarganya, mama, papa dan keluarga lainnya. Aku hanya bisa tersenyum karena terlalu gugup.
"Fian, ajak Fe duduk disini" mama dari kak Fian mempersilahkan kami duduk di kursi yang terpisah dari tempat mereka. Hanya ada 2 kursi dan 1 meja bundar dilengkapi payung warna pelangi. Kami pun duduk berdua.
Kami memulai percakapan ringan yang sesekali diselingi tawa. Mulai dari membahas masalah kampus, pekerjaan kak Fian, keluarga dan banyak lagi. Aku rindu seperti ini dengan kak Fian. Ini yang membuatku tertarik dengannya, dia selalu mendengarkan semua keluh kesahku lalu menyemangatiku.
"Kemungkinan juga bakalan nikah tahun depan" Deg. Aku kaget dengan perkataan kak Fian.
"Keluargaku sudah mendesak aku agar segera menikah. Apalagi nenek." lanjut kak Fian dengan santai.
"Sudah waktunya kak. Apalagi tinggal jauh dari keluarga biar ada yang urus" kataku sedikit pelan.
"Iya juga sih Fe, tapi belum taulah mau bagaimana." kata kak Fian.
"Kamu bagaimana Fe?" tanya kak Fian.
"Bagaimana apanya?" aku mengalihkan pandanganku sembarang sambil meneguk minuman yg sedari tadi di depanku. Aku terlalu gugup dan bingung dengan pembahasan ini.
"Iya dalam waktu dekat ini kamu mau bagaimana. Kuliahmu sudah mau selesaikan?" lanjut kak Fian.
"Ya aku sehabis magang nanti usaha biar bisa ujian secepatnya" jawabku yakin.
"Baguslah kalau begitu. Tahun depan sudah harus lulus yah"
Obrolan kami berlanjut tapi pikiran ku teralihkan oleh kata-kata kak Fian tadi. Hasratku untuk cepat lulus jadi makin besar.
Tidak terasa matahari sudah mulai tenggelam. Suasana sunset ini menjadi saksi kami yang melewati waktu bersama. Hatiku terlalu bahagia saat ini. Aku mengirimkan sejuta senyuman kepada matahari itu.
__ADS_1
...........