Perempuan Bernama Fe

Perempuan Bernama Fe
#Omelan Prilly


__ADS_3

Dunia kampus memang sibuk. Selain aku yg sibuk karena jadwal kelas dan tugas yg tiada henti, hobiku juga tidak bisa aku abaikan. Aku memutuskan untuk magang sebagai jurnalis di media online. Semua jadwal yg padat ini perlahan mengubahku. Aku tidak lagi peduli tentang penampilan, tidur pun kurang dan juga waktu bersama kak Alan sangat sulit.


"Halo Fe, kamu dimana?" tanya kak Alan lewat telfon.


"Halo kak, aku masih di kantor. Malem ini mau kerjain tugas kelompok di tempat Prilly, bisa anterin gak?" jawabku sibuk mengetik dan terburu-buru karena sedang mengejar deadline.


"Entar Niko jemput!" kata kak Alan lalu menutup telfon.


Aku tidak tau kalau kak Alan kesal karena sering kuabaikan akhir-akhir ini. Jangankan waktu untuk pacaran, waktu untuk memanjakan dirimu tidak ada.


Setelah pekerjaanku selesai di kantor, aku memutuskan untuk pulang segera. Ternyata yg menjemputku kak Alan bukan kak Niko.


"Kirain kak Alan gak bisa jemput?" kataku lalu mencium pipi kak Alan setelah masuk ke dalam mobil. Muka cemberutnya tergambar jelas.


"Kalau gak dijemput, mana bisa ketemu lagi!" jawab kak Alan dan membuatku sadar kalau dia sedang kesal.


"Aduh, ngambek yah? Jangan ngambek dong" kataku manja sambil menyandar kepalaku di bahu kak Alan yg sedang menyetir.


"Udah makan?" tanya kak Alan.


"Belum, sebenernya laper" jawabku.


"Yaudah kita mampir makan dulu yah?"

__ADS_1


"Gak usah deh. Kita mampir beli makan terus makan di rumah aja yuk, biar bisa lebih santai duduknya. Udah capek. Entar juga kan mau ke tempat Prilly" jawabku.


Aku dan kak Alan langsung pulang ke rumah dan memesan makanan. Aku buru-buru mandi dan siap-siap lalu duduk di ruang tamu bersama kak Alan.


"Fe, makan dulu" kata kak Alan yg telah menyiapkan makanan.


"Iya kak. Entar aku ke tempat Prilly kemungkinan akan menginap" jawabku lalu menyantap makanan yg sudah disiapkan kak Alan.


"Aku antar! Aku tidur disini malam ini. Besok pagi baru balik" kata kak Alan sambil menyuapiku dengan makanan miliknya.


Aku berangkat ke tempat Prilly diantar kak Alan. Sudah jam 9 malam, semua temanku pasti sudah berkumpul sejak tadi. Kami memang berencana ketemu jam 4 sore. Tapi karena deadline di tempat kerja jadi aku terlambat.


"Sorry yah sorry, telat lagi". Aku menyapa semua temanku yg sedang sibuk dengan tugas sambil menyodorkan makanan yg aku beli di perjalanan.


Prilly memang punya karakter yg tegas. Walau pun sehari-hari terlihat ceria dan cerewet tapi dia tegas dan serius dalam belajar. Kalau teman-teman ku bilang, Prilly seperti pemimpin. Dia pun lebih akrab dengan semua teman cowok dibanding cewek yg lain.


"Maaf yah, tadi pulangnya agak telat" jawabku memohon.


"Fe, lain kali kamu harus serius. Urusan kampus aja banyak, ngapain lagi kamu cari kesibukan di luar? Kamu sudah banyak tertinggal pelajaran, sekarang mau mengabaikan tugas juga. Kalau nilai kamu jelek sementer ini gimana?" kata Prilly yg terus mengomel dan memasang muka kesal.


Kami melanjutkan tugas hingga jam 2 malam. Semua sudah selesai, siap disusun dan dikumpulkan besok pagi. Melihat Prilly yg masih kesal dan terus mengabaikanku membuatku tidak enak. Tidak mungkin menginap dalam suasana seperti ini. Aku memutuskan untuk menelfon kak Alan untuk memintanya menjemputku.


"Fe, kamu gimana? Jadi dijemput?" tanya Yuri yg telah siap pulang.

__ADS_1


"Kak Alan gak angkat telfon nih" jawabku gelisah.


"Ya udah ikut sama aku aja. Lagian jalan kaki sendirian jam segini agak menakutkan" kata Yuri membujukku.


"Eh, jalan kaki? Gak dianterin anak-anak lain?" kataku.


"Ah, gak enak. Nyusahin nanti" jawab Yuri.


Aku memutuskan untuk pulang ke tempat Yuri. Aku tau kalau Yuri pasti tau apa yg aku rasakan tadi jika memang harus menginap di tempat Prilly. Ini juga bisa membuatku lebih mengenal Yuri yg pendiam.


****


"Ri, aku salah banget yah?" tanyaku kepada Yuri sambil berbaring.


"Menurutku, melalukan apa yg kamu suka itu gak salah. Tapi memang jadwal kita lagi padat aja. Pasti kamu susah atur waktunya" jawab Yuri dengan bijak.


Aku terdiam dan berpikir wah Yuri terdengar bijak malam ini. Tidak menyangka orang yg sangat pendiam ini ternyata bisa berpikir luas. Dia terlihat dewasa kali ini.


Aku dan Yuri pun mengobrol hingga kami tertidur. Hatiku sedikit agak tenang karena Yuri.


#bersambung.


Jangan Lupa Like dan Comment yah...

__ADS_1


__ADS_2