
Di balik pintu suara mama yg biasa lembut terdengar berteriak meronta-ronta. Mama masuk memeluk papa yang sudah tidak ingin bangun lagi. Bahkan adik-adikku menerobos masuk menemui papa. Tapi tetap saja papa tidak mau bangun.
Keluarga yang ada mencoba menenangkan kami padahal mereka pun menangis. Ruangan hemodialisa berubah dengan penuh air mata. Perawat" mulai melepaskan selang-selang di tubuh papa. Aku didekap oleh Yuri yang entah sejak kapan muncul.
Kami memutuskan untuk membawa papa pulang setelah urusan rumah sakit selesai ditangani oleh suami kak Cinta. Keluarga mama ikut bersama kami. Dila membantu kami menghubungi keluarga papa dan beberapa orang terdekat. Yuri memberi kabar kepada Prilly dan yang lainnya sehingga mereka semua berkumpul di rumah sakit.
Papa dimasukan ke dalam ambulance aku, mama, Yuri, Dila dan Cinta ikut bersama ambulance. Keluarga yang lain dan teman-temanku mengikuti ambulance dengan mobil mereka. Suara ambulance terdengar nyaring dan itu membuatku semakin sedih. Kenapa suara ambulance terdengar seperti lagu ballad. Membuatku menangis dan menangis.
Perjalanan dengan ambulance lebih cepat. Kami tiba setelah 4 jam perjalan dengan kecepatan tinggi. Mobil di belakang kami tidak bisa menyusul. Rumahku sudah ramai oleh tetangga yang mendengar kabar tentang papa. Keluarga papa juga sudah menunggu.
Pintu ambulance di buka, aku mendengar tangisan tante Lia dan yang lainnya disela-sela suaraku. Mereka meronta-ronta. Papa diturunkan lalu dibawa ke dlaam rumah. Aku di papah Yuri mengikuti. Mama masih lemas dan tidak berhenti menangis. Rumahku hanya terdengar suara tangisan.
****
Orang-orang sekitar dan kenalan papa datang melayat. Semua mengucapkan belasungkawanya kepada kami. Teman-temanku sibuk membantu melayani mereka. Suara ku sudah mulai serak karena terus menerus menangis. Mama pun begitu.
"Kenapa kamu pulang jadi mayat Adam" kata tante Lia yg menangis.
__ADS_1
"Kamu harusnya dengar kataku. Jangan bawa Adam pergi. Sekarang dia pulang tapi sudah tidak bernyawa" lanjut tante Lia mulai membentak mama.
Mama hanya menangis, sepertinya apa yg dikatakan tante Lia tidak terdengar oleh mama. Mama hanya memangis memandangi papa.
"Semua karena kamu, aku tidak bisa menlihat adikku disaat terakhirnya" kata tante Tia dengan suara tinggi membentak mama.
Aku sungguh tidak bisa menerima perlakuan tante Lia kepada mama di depan papa. Selalu menyalahkan mama yg sebenarnya mama yang paling terpukul di tinggal oleh papa.
"Cukup yah tante. Tante bahkan tidak pernah datang menjenguk papa sekarang berani membentak mama. Mau tante apa? Selalu mama yg disalahkan" kataku membentak tante Lia.
"Kalau tante mau marah-marah, mendingan keluar. Gak tau malu!" lanjutku dengan suara tinggi.
****
Setelah semua proses pemakaman papa selesai, aku dan semua keluarga kembali ke rumah. Tante Lia dan keluarga papa yang lain sudah tidak bicara apa pun lagi setelah kubentak tadi.
Kami semua masih duduk di ruang tamu karena walaupun pemakaman sudah selesai masih banyak yang datang untuk mengucapkan belasungkawa. Termasuk teman-temanku. Mereka datang beramai-ramai mencoba menghiburku. Sesekali ada yg membuat candaan berusaha membuatku tertawa. Tapi percuma, aku sama sekali tidak bisa menyerap apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
Mama ditemani keluarganya, semua membantu menyambut para tamu dan juga beberapa sibuk di dapur. Sementara tante Lia dan keluarga besar papa hanya duduk. Ada yang saling mengobrol ada juga yang duduk sambil memejamkan mata seolah sangat lelah. Aku hanya mengabaikan mereka.
"Fe sayang..... " sebuah suara memanggilku dari arah kanan ku.
"Tante....." aku berdiri lalu menyambut pelukan wanita itu.
"Yang tabah yah sayang!" lanjutnya smbil mengusapkan tangannya lenbut ke rambutku.
Dia adalah ibu dari kak Alan. Tante Susi. Disampingnya ada om Romi, suaminya dan juga kak Fita. Aku kembali meneteskan air mata saat bertemu mereka. Seolah mendapat bahu yang bisa kujadikan sandaran dari rasa sedihku. Mereka pun bisa membuatku lebih tenang.
.
.
.
.
__ADS_1
.