
**Hai para pembaca...
Sudah lama yah cerita perjalanan hidup Fe tidak merilis episode baru.
Untuk itu Penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para pembaca.
Yuk, ikutin lagi cerita Fe. Mohon like, koment dan share yah**.....
****
#Papa
"Fe, papa sekarang lagi ditangani dokter." kata mama lalu menangis.
Aku kaget mendengar perkataan mama. Tidak bisa lagi kutahan akhirnya air mataku menetes bersamaan dengan datangnya Yuri, Prilly, Raka dan yg lainnya.
Yuri dan yang lainnya yg kaget melihatku menangis pun panik dan heran. Mereka mendekatiku sambil menenangkan aku yg masih menangis.
"Fe, kamu kenapa?" tanya Yuri.
"Bisa tolong urusin rumah sakit gak? Aku mau pulang" jawabku lalu melanjutkan tangisanku
"Fe, tenang dulu yah." kata Raka.
Aku mencoba menenangkan diriku agar bisa menjelaskan situasiku kepada teman-temanku. Mereka terlihat sangat khawatir apalagi Yuri.
"Aku mau pulang. Papa ku sakit dan dalam serius sekarang" aku mencoba menjelaskan kepada mereka.
__ADS_1
"Fe, tapi kamu masih belum pulih" kata Prilly.
"Aku udah baikan kok. Bantuin yah. Aku beneran mau pulang". Jawabku memohon.
"Iya, tapi kamu janji jangan sampai terlalu capek." kata Raka
Aku mengiyakan perkataan Raka yang sepertinya mengerti perasaanku. Dia memang dewasa dan bisa mengambil keputusan dengan bijaksana. Pantas saja mereka selalu menjadi pemimpin bagi kami dan juga selalu bisa diandalkan.
****
Aku berlari menelusuri rumah sakit dengan terburu-buru mencari ruangan tempat papaku dirawat. Sampai saat aku melihat mama berdiri di depan ruangan yg sepertinya memang sedamg menungguku.
"Mamaaaa... " aku memanggil mama
"Fe...." mama menyambutku dengan pelukan.
"Papa gimana ma?" tanyaku dengan khawatir.
"Jadi gimana ma?" tanyaku.
"Rumah sakit ini belum tersedia alat untuk cuci darah. Jadi harus dipindahkan ke rumah sakit di kota yg lebih besar. Nanti kita diskusikan lagi yah. Kamu lihat papa dulu" kata mama.
Aku dan mama masuk ke ruangan rawat papa. Aku melihat papa yg terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Papa masih tertidur pulas dengan tangan diinfus.
Belum lama sejak aku masuk ke kamar rawat papa, om Adi datang dengan muka panik. Melihat papa yg masih terbaring lemah om Adi tidak bisa menahan air matanya. Kakaknya sedang tidak berdaya, dan dia hanya bisa menangis.
Aku, mama dan om Adi mendiskusikan bagaimana papa akan dirujuk ke rumah sakit di kota tempat ku kuliah. Selain karena fasilitas perawatan lebih lengkap, akan lebih mudah juga untukku menjaga papa. Om Adi telah setuju tapi karena pekerjaannya dia tidak bisa ikut bersama kami.
__ADS_1
Mama sudah mengurus semua berkas yg harus disiapkan begitu pula dengan dengan pakaian dan segala macam kebutuhan papa dan adik-adikku telah disiapkan. Om Adi ikut membantu kami setelah pekerjaannya selesai dan terus menemani papa yg dalam keadaan emosional.
Tante Lia yg tau keadaan papa langsung datang menjenguk papa ditemani oleh kakek Tino. Dengan muka sedih melihat papa, tante Lia mulai menginterogasi mama tentang keadaan papa. Aku tau akan bagaimana tante Lia ke mama. Dia akan membuat seolah-olah apa yg terjadi dengan papa adalah kesalahan mama. Sama seperti saat tante Tia meninggal dulu.
"Suami mu sakit parah begini tapi kamu tidak bilang. Kamu anggap saya ini apa? Adam itu adik saya, saya berhak tau keadaanya" bentak tante Lia.
"Bukan begitu kak. Kemarin saya panik dan tidak sempat menghubungi kalian. Fe baru datang karena sakit jadi saya juga baru sempat menghubungi kak Lia" jawab mama.
"Kamu anggap adik saya beban? Kamu tau anakmu sakit tapi kamu suruh dia pulang bantuin kamu" ucap tante Lia.
"Kak, kalau kakak kesini hanya untuk marah-marah, mending kakak pulang!" bentak om Adi.
Papa yg sadar dan mendengar semua perkataan tante Lia mulai menangis dan memanggil mama dengan suara yg lemah dan tidak jelas. Aku memegang tangan mama lalu aku tuntun ke papa. Papa bergumam sambil memegang tangan mama seolah berkata agar mama tabah. Melihat itu, tante Lia mulai diam.
"Besok papa dirujuk ke rumah sakit di kota M. Kami akan berangkat siang" kataku.
"Kenapa harus di kota lain? Kami semua tinggal disini, akan lebih mudah melihat papa mu" kata tante Lia.
"Papa butuh cuci darah, dan disini belum tersedia alat cuci darah. Jadi saran dokter papa harus dipindahkan ke rumah sakit yg lebih lengkap." jawabku.
"Dokter akan selalu berkata seperti itu. Obat tradisional akan lebih mempan dari obat dokter. Papa mu cuci darah hanya buang waktu dan uang. Banyak orang yg cuci darah tapi penyakitnya tambah parah" kata tante Lia.
"Kak, apa pun yg terjadi saya akan terus berjuang untuk suami saya. Seberapa lama pun itu, semahal apa pun itu. Saya istrinya, saya akan bawa Adam berobat sampai sembuh!" kata mama dengan suara tegas membuat tante Lia terdiam.
"Sudahlah. Kalau begitu kamu urus sendiri jangan menyusahkan kami" kata tante Lia lalu pergi meninggalkan kami.
"Tidak akan!" kata mama.
__ADS_1
#Bersambung...
Jangan lupa like dan comment yah...