Perempuan Bernama Fe

Perempuan Bernama Fe
#Kak Alan


__ADS_3

Sudah beberapa bulan papa terkena stroke. Keadaannya sudah semakin baik. Rumah tante Tia tidak jadi dijual, dan om Adi menempatinya sekarang.


Aku sedang sibuk untuk menjadi unggul di sekolah. Semuanya tampak normal kecuali pandangan beberapa orang terhadapku. Sejak pulang dari perkemahan waktu itu, beberapa senior laki-laki melihatku seolah jijik.


Sudah waktunya jam istirahat, perutku juga sudah mulai lapar. Aku akan bergegas ke kantin setelah membereskan buku-buku ku. Aya dan yang lainnya pun sudah menungguku.


"Fe, kamu ikut kan camping malam minggu nanti?" tanya Aya saat kami menuju kantin sekolah.


"Ikut sih kayaknya. Lagi pula papa sama mama mau keluar kota sabtu nanti" jawabku penuh percaya diri


"Yeay asik. Kita campingnya sama 2 sekolah lain loh. Yah, walau pun udah ketebak orang-orangnya siapa aja" jawab Nia yang diikuti tawanya.


"Kamu itu harusnya pikirin nanti biar gak malu-maluin kita" sambungku sambil mencubit perut samping Nia.


****


Papa dan mama sudah bersiap pergi keluar kota pagi-pagi. Begitu juga aku sudah siap ke sekolah lalu berangkat bersama yg lain ke tempat camping.


"Fe, papa tinggalin duit juga dirumah yah? Kali aja duluan kamu baliknya" tanya papa sambil memberiku uang

__ADS_1


"Iya pa, papa simpan di tempat biasa kan? tapi uang buat ke camping harus ditambah deh kayaknya pa" jawabku sambil menggoda papa dengan mata kasihan.


"Kamu ini, camping atau ke mall sih. Ini!" papa menggoda ku sambil tertawa.


Papa mama berangkat, aku juga bergegas ke minimarket depan rumah untuk belanja perlengkapan dan snack. setelah itu berangkat ke sekolah naik ojek langganan.


"Fe...." teriak Nia dari jauh saat melihatku datang.


Aku pun menghampiri Nia yg disana sudah ada teman-teman yg lain.


"Nia, kamu ini teriaknya kenceng banget" jawabku sambil menyenggol Nia.


Semua bersenang-senang. Kecuali aku yg hanya menatap keluar jendela. Pdahal tempatnya tidak jauh dari sekolah, tapi terasa lama di jalan.


****


Tempat ini memang tenang, jauh dari keramaian. Sepertinya aku akan menyukainya. Aku berjalan sambil memejamkan mata dan tidak sengaja menyenggol senior cowok.


"Eh maaf yah kak. Gak sengaja" sapa ku merasa bersalah. Saat menunduk kulihat kalungnya jatuh.

__ADS_1


"Kak, ini kalungnya jatuh" sambungku sambil mengambil kalung yg jatuh.


"Oh, saya tidak bisa memasangnya dengan baik. Bisa tolong?" tanyanya sambil menatapku.


Dengan sedikit berjinjit aku melingkari lehernya tengan tanganku mencoba memasangkan kalungnya dan kulihat ada kak Alan yg berjalan mendekati kami lalu berhenti saat melihat kami.


Aku melepas tanganku, kalungnya pun sudah terpasang dan senior itu sudah pergi. Waktunya menyapa kak Alan


"Kak, tumben ikut camping. Biasanya juga malas" kataku sambil menyenggol kak Alan yg sedang memasang muka bete.


"Kalau gak ikut kan gak mungkin liat pemandangan indah tadi" jawabnya sedikit melirik ke aku


"Jadi ceritanya cemburu? ih tumben banget" jawabku menggodanya. Ini pertama kalinya kak Alan bersikap seperti itu, biasanya dia cuek. Kadang aku juga berpikir kami benar pacaran atau tidak


"Ah, sudahlah. Gak penting juga. Mending kita makan berdua, biar tau kalo kamu itu punya pacar yaitu aku" Jawabnya sambil menarik tanganku.


Kak Alan begitu keren dengan sikap cueknya. Dia memang populer dengan kenakalannya tapi untuk urusan prestasi dia juga bagus.


#bersambung

__ADS_1


__ADS_2