Perempuan Bernama Fe

Perempuan Bernama Fe
#Tante pergi papa sakit 2


__ADS_3

Sudah berjam-jam kami menunggu berharap keadaan tante akan membaik. Tiba-tiba saja dokter datang terburu-buru dan masuk keruangan ICU. Aku penasaran, apa yg terjadi di dalam.


Aku semakin gelisah, air mataku tiba-tiba mengalir tanpa kutau sebabku menangis. Serasa tidak tenang, seolah ada hal menyedihkan akan mendatangiku.


"Keluarga ibu Tia?"suara salah satu perawat membuatku tersendak.


"Iya, kami" jawab papa dengan tatapan penuh harap.


"Pak, dokter mempersilahkan pihak keluarga masuk keruangan" lanjut perawat itu dengan suara lembut.


Kami sekeluarga masuk ke ruangan ICU dan menghampiri tante. Dokter berdiri disampingnya dengan raut muka tidak bersemangat.


"Pak maafkan kami, kami sudah berusaha. Tapi keadaan ibu Tia terlalu lemah dan akhirnya ibu Tia tidak bisa bertahan lagi. Ibu Tia telah meninggal dunia". Kata dokter mencoba menjelaskan kepada kami.


Tangis diruangan mulai pecah. Papa yg selalu berusaha menyembunyikan air matanya kini tidak sanggup lagi menahannya. Tante yg merawat papa hingga menikah lalu merawatku setelah pindah ke kota ini sekarang sudah tiada.


"Kami turut berduka cita" sambung dokter sambil menuduk bersama perawat disampingnya.


Tangisku pun semakin keras. Sakit rasanya, beginikah rasanya ditinggalkan.


"Sabar yah om, tante, Fe" Sahut Alan mencoba menenangkan ku.


"Kita bawa kakak pulang kerumahku!" Ucap tante Lia dengan tegas.

__ADS_1


****


Pemakaman sudah dilaksanakan. Semua keluarga masih berkumpul dirumah tante Lia. Orang-orang masih berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa. Papa masih tidak banyak bicara dan mama sibuk menerima tamu.


Aku sendiri sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Walau terkadang masih sering menangis, tapi aku harus sembunyikan.


Setelah makan malam, tante Lia mengumpulkan semua keluarga. Semua saudara papa pun sudah berkumpul.


"Kakak udah pergi meninggalkan kita, semua orang bersedih. Tapi, saya rasa ini waktu yg tepat karena semua sedang berkumpul" tante Lia membuka pembicaraan sambil menatap adiknya satu per satu.


"Kakak mau bicarakan apa? " tanya Om Adi, saudara bungsu papa.


"Rumah kakak kosong, bagaimana kalau kita jual lalu bagi hasilnya. Saya takut rumah itu akan semakin tua dan tidak terawat" Jawab tante Lia dengan memasang muka lesuh.


"Kak, saya rasa tidak etis kalau kita bahas itu sekarang. Kakak baru saja dikuburkan. Kita semua masih bersedih" respon mama yg mulai meneteskan air mata.


"Kamu itu cuma menantu, tidak ada hak bersuara disini! " bentak tante Lia ke mama. Sekilas saja papa pergi meninggalkan ruangan lalu disusul om Adi. Aku dan mama juga ikut pergi.


****


Sudah 3 hari tante Meninggal, papa masih tidak banyak bicara tapi setidaknya papa sudah mau makan.


Kami sudah tiba di rumah tante Tia lagi. Tante mencoba mengumpulkan kami lagi. Menurutku dia akan membicarakan hal yg sama lagi.

__ADS_1


"Kita udah berkumpul lagi, disini juga ada paman Tino dan para tetua lain". Tante Lia membuka pembicaraan. Kali ini kami semua duduk bersilah di atas karpet.


Papa bersaudara beserta kakek semuanya membentuk lingkaran. Sedangkan kami menantu dan anak duduk menyebar tak beraturan.


Sebenarnya aku mulai bosan, dan berpikir untuk pergi saja. Aku meminta kak Alan menjemputku.


"Saya sudah tanyakan ke paman semua perihal rumah kak Tia, dan paman juga sependapat" Lanjut tante Lia


"Kenapa harus dijual? Kak, tidak semua dari kita punya rumah. Adi bisa tinggal disana lalu meninggalkan kontrakannya" Sahut papa yg sudah mulai terbawa emosi.


"Kalau itu alasannya, setelah dijual dan uangnya dibagi, Adi bisa membeli rumahnya sendiri" jawab tante Lia


"Kalau memang semuanya setuju, saya yg akan membeli rumah itu" Om Alvin tiba-tibe bersuara. membuat papa tersentak.


Om Alvin dan papa memang sudah lama bertengkar dan tidak saling bicara. Kata mama kejadian ini juga terjadi waktu kakek meninggal. Disitulah bermula pertengkaran papa dan Alvin.


"Saya rasa kita ikuti saja suara terbanyak. Semuanya setuju kecuali Adam. Tidak usah keras kepala dan bertrle-tele". lanjut Alvin dengan muka sombong.


"Kamu sengaja kan. Saya tidak setuju dan saya berhak untuk itu. Saya yg merawat rumah itu selama ini, dan saya mau Adi tinggal disana" Pap mulai berteriak membuat semua tidak tenang.


"Kalau kamu terus memaksa sama saja kamu mengajakku berkelahi" lanjut papa yg langsung melompat ke arah Alvin dengan tinjunya. Alvin lari keluar rumah papa mengejar tapi tiba-tiba papa terjatuh dan mengalami syok.


Alan kebetulan sudah datang dan dengan tanggap mengangkat papa dan membawanya ke dokter.

__ADS_1


Aku benar-benar takut. Tidak kusangka papa akan begini.


#bersambung


__ADS_2