
Sudah berbulan-bulan aku dan Nia jarang bersama Aya. Aya selalu dikelilingi banyak teman baru. Walau terkadang Aya meminta kami untuk ditemani hanya saja kurang nyaman untukku.
"Hari ini kalian berdua lagi, mana Aya?" Kak Alan menyapa aku dan Nia yg sudah dari tadi menunggu dijemput.
"Oh Aya ada urusan kak. Ayo anterin aku sama Nia ke rumah" Aku menarik tangan kak Alan dan langsung naik ke mobil.
Kak Alan mulai menyalakan mobil dan kami bertiga pulang kerumah. Sepanjang jalan Nia hanya diam, aku dan kak Alan pun hanya diam sesekali melirik ke arah Nia.
Dirumah makanan sudah disiapkan oleh mama. Kami bertiga akhirnya makan siang bersama mama. Hanya kak Alan yg sesekali mengajak mama bicara itu pun dijawab seadaanya. Mungkin mama juga merasa kalau Nia ada masalah karena dia biasanya paling cerewet tiba-tiba jadi diam.
"Nia, kamu nginap aja yah malam ini. Entar malem kita cari makan di luar aja. Lagi pengen makan di luar soalnya" Aku mencoba mengajak Nia berbicara sambil membereskan piring di meja makan.
"Iya Nia, garing ah kalo cuman aku yg temenin Fe. Dia main handphone terus" Kak Alan mencoba meyakinkan Nia.
"Hem iya nginep. Kita ajak tante juga dong" jawab Nia yg sudah tampak lebih ceria.
__ADS_1
"Aduh Nia, kamu ini gak ngerti banget. Kan kalo makan di luar trus ada calon mertua jadi kikuk" kak Alan sengaja membuat lelucon sambil mengeraskan suaranya agar mama mendengarnya.
"Eh, jadi mama gak boleh ikut nih? mama makan malam sendirian dong" Jawab mama dan semua hanya tertawa.
****
Kami makan malam di restauran yg lumayan jauh dari rumah. Tapi nuansa outdoor yg menenangkan membuat nyaman. Kebetulan juga malam ini tidak terlalu ramai. Kami hanya bertiga karena mama memutuskan untuk melepas kangen bersama papa lewat telpon.
"Nia, abis ini aku rencananya mau mampir beliin mama cake yah" Kami bertiga mulai meninggalkan tempat kami menuju kasir.
"Kak, kamu yg bayar yah? kan kemarin aku udah" aku mencubit kecil perut kak Alan di depan kasir.
Kami meninggalkan restauran lalu menuju ke toko kue. Demi menebus dosa meninggalkan mama dirumah sendirian, aku dan kak Alan memutuskan membeli cake. Dan tentunya beberapa kue untukku mengemil tengah malam yg sudah menjadi kebiasaan.
"Fe, kamu juga tuh ambil yg banyak. Biar makin gendut" kak Alan mencoba mengolokku yg tengah memilih kue.
__ADS_1
"Biarin gendut, yg jelas gak kelaparan" jawabku.
****
Sesampai di rumah, akhirnya Nia mulai bicara. Aku memang sudah agak khawatir dan tentunya rindu Nia yg cerewet.
"Fe, kamu pasti tau kan Aya akhir-akhir ini gimana. Kamu gak kecewa? "
"Nia, kecewa sih enggak tapi jujur aku agak sedikit jijik. Apalagi beberapa kali ngeliat langsung" aku berhenti makan lalu mulai bicara serius bersama Nia.
"Aku kenal dia dari kecil. Aya itu orang yg selalu ingin unggul. Selalu ingin disanjung. Dulu dia memang bersinar, tapi semenjak SMA kamu lebih bersinar. Gak ada yg bisa dia andalkan selain uang dan tubuhnya. Tapi itu membuat aku kecewa sama dia" Nia terlihat sangat sedih mengingat sahabatnya itu.
"Nia, bagaimana dia sekarang kamu gak usah terlalu dipikirin. Biarin aja. Nanti dia juga nyesel kok"
"Kasihan dia. kak Ray juga jadiin dia mainan doang. Sekarang Aya malah dibutakan oleh obsesinya" Nia meratapi nasib sahabatnya.
__ADS_1
#bersambung
Jangan lupa like dan comment.....