
Hari normal ku akhirnya datang juga. Semua damai. Aku dengan kuliahku, aku dengan kak Alan, aku dengan semua sekitarku. Semua tenang akhir-akhir ini.
Papa sudah membaik setelah rutin terapi. Adik bayi ku juga sudah mulai cerewet sedangkan adikku yg satunya setia menemani dan merawat papa. Aku tidak lagi pulang setiap akhir pekan, sebulan sekali jika sempat itu pun bersama kak Alan.
Hubunganku dan kak Alan juga sedang hangat-hangatnya. Kak Alan bahkan lebih sering di tempatku dari pada pulang. Sesekali teman-temannya ikut dan menjadikan tempatku sebagai tempat nongkrong mereka.
Aku juga sedang tertarik oleh hal baru. Belum lama aku menyukai dunia psikologi dan membuatku belajar lebih dalam tentang itu, sekarang aku tertarik dengan bahasa isyarat.
Aku tidak sengaja bertemu kenalan baru. Saat diajak papa bertemu dengan teman lamanya yg memiliki anak perempuan setahun lebih tua dariku. Namanya Rara, dia cantik dan terlihat elegan. Tapi, sejak lahir dia sudah tidak bisa mendengar, tunarungu. Kami akhirnya berteman baik
"Kamu harus belajar rajin" tulis Rara di notes handphonenya lalu membiarkanku membacanya.
"I.. ya" jawabku dengan pelan sambil menganggukkan kepala.
Caraku berkomunikasi dengannya membuatku tertarik untuk belajar. Dia pun dengan senang hati mengajarku dasar bahasa isyarat. Kami jadi intens bertemu setiap hari.
****
__ADS_1
Sudah waktunya final exam di kampus. Semua serius belajar mati-matian. Aku pun seperti itu, hanya saja kuluangkan waktu pula untuk tetap belajar bahasa isyarat.
Walau sebenarnya aku mendapat kendala dalam menjawab soal exam tapi aku tetap tenang dan mengabaikan. Aku hanya berpikir untuk melihat hasilnya saja nanti. Setidaknya aku mengisi hariku tanpa tertekan dan mempunyai kegiatan baru di luar perkuliahan.
Dan betul, hasilnya memang jatuh. Fokusku yang terbagi membuat nilai ku jatuh dari semester sebelumnya. Tapi tidak ada rasa stres atau kecewa seperti sebelumnya. Dulu aku akan frustasi jika nilai ku jelek. Tapi kali ini aku biasa saja. Bahkan Prilly yg memberiku omelan tiada henti.
"Fe, kamu itu harus belajar lebih giat lagi. Tugas mu juga perhatiin jangan asal selesai!" omelan Prilly dengan gayanya yg gelisah.
"Iya Prilly.... " jawabku menenangkan Prilly.
****
Tempat favorit kami yaitu Cafe Rrtea. Kami sering menghabiskan waktu belajar bahasa isyarat.
"Hai, datang lagi. Mau minum apa?" kata seorang Barista menyambutku.
"Latte aja yg ice " jawabku.
__ADS_1
"Teman-temannya belum datang. Mau tunggu dulu atau aku bikinin sekarang?" tanyanya.
"Sekarang aja gak apa-apa, kalau mereka datang baru order lagi" jawabku.
Barista itu langsung dengan lincah membuatkan pesanan ku yg langsung diberikan.
"Kamu gak merasa sepi berteman sama mereka? Mereka gak bisa dengar gak bisa bicara" tanyanya lagi.
"Gak kok. Lagi pula kalau belajar kan gak ada salahnya. Kali aja bisa kepake nanti" jawabku lalu mencicipi ice latte pesananku.
"Kalau belajar bikin kopi mau tidak?" barista itu mencoba menawariku untuk diajarkan membuat kopi ala barista.
Aku dengan semangat akhirnya belajar dan mulai tertarik dunia barista. Aku kagum dengan berbagai racikan kopi yg bisa dinikmati.
Aku menghabiskan lebih banyak waktu di cafe dan terkadang lupa dengan tugas kampus. Ini membuatku beberapa kali mendapat teguran dari dosen dan tentunya omelan dari Prilly.
#bersambung.
__ADS_1
Jangan Lupa like dan comment yah....