
Aku dan Yuri jalan menuju kantin rumah sakit untuk makan siang. Yuri sengaja datang sendiri hari ini untuk menghiburku. Keadaan papaku tidak ada kemajuan dan papa terus menerus minta pulang.
"Fe, tentang magang di luar negeri ada info baru. Jadi kita berangkatnya per batch. Jadi ada 2 batch per batchnya 5 orang" kata Yuri.
"Jadi, berangkatnya kapan?" tanyaku.
"Batch pertama berangkat akhir bulan depan. Agak ribet gitu sih, katanya kita mesti belajar di kampus gitu 1 bulan pertama terus ke perusahaannya baru deh kerja beneran" jawab Yuri.
"Kampus kita?" tanyaku.
"Ya bukanlah. Ada kampus gitu disana kerjasama perusahaan juga. Mereka juga biasanya ikut dalam proyek perusahaan." jawab Yuri.
"Jadi Fe, kamu gimana? Maunya berangkat sesi pertama atau kedua?" lanjut Yuri.
"Kayaknya yang kedua aja deh. Papaku masih sakit" jawabku.
"Ya udah nanti aku bantuin urus yah. Makan aja yuk" jawab Yuri.
Kami berdua memesan makanan yg kami inginkan lalu makan sambil sesekali mengobrol tentang hal-hal lain. Yuri sudah semakin berubah, dulu hanya bicara bisik-bisik seperlunya. Sekarang dia sudah mulai terbuka dengan orang lain.
****
Aku dan mama memutuskan untuk membawa papa pulang ke tempatku untuk beberapa hari sebelum jadwal cuci darah berikutnya. Papaku sangat rindu dengan adik-adikku yang tidak bisa masuk ke area rumah sakit karena masih dibawah usia.
"Ma, ini beneran papa mau dibawa pulang?" tanyaku kepada mama
"Iya, kan cuma 3 hari. Papa kamu pasti kangen sama adik-adikmu" jawab mama.
Rindu papa kepada adik-adikku memang besar. Sudah hampir 3 bulan tidak bertemu karena aturan rumah sakit yang ketat. Papa terlihat sangat bahagia bahkan bisa bermain dengan adik-adikku sampai lupa waktu walaupun dia masih lemah. Adik-adikku pun bahagia bertemu papa terlebih lagi si bungsu yang memang masih kecil dab sangat dimanja oleh papa. Aku ikut bermain bersama mereka, mama melihat kami dengan tawa lembutnya. Aku ingin waktu seperti ini seterusnya.
Walau cuma 3 hari, kebersamaan dengan papa yang paling kami rindukan terasa amat membahagiakan. Setelah 3 hari berlalu papa harus kembali menjalani perawatan dan cuci darah. Mungkin karena terlalu bersemangat bertemu keluarga, dokter mengatakan harus menunda cuci darahnya sehari karena papa butuh di transfusi sebelumnya. Ini pernah terjadi sebelumnya, dimana kondisi papa tidak memungkinkan untuk cuci darah.
Pihak UTD kami membawa seorang pendonor. Aku meminta bantuan Raka untuk ini. Raka bahkan membawa 10 orang pendonor untuk papa termasuk dia sendiri. Aku bersyukur punya teman seperti mereka disaat seperti ini. Transfusi papa dilakukan dan kondisinya sudah stabil dan bisa melakukan proses cuci darah. Aku tidak akan bisa berhenti berterima kasih kepada Raka.
"Pa, teman-temanku datang jenguk papa. Tapi mereka di luar, tunggu sampai cuci darah papa selesai dan kita kembali ke kamar yah" kataku kepada papa.
Papa merespon tapi sangat tidak jelas seperti bergumam. Makin hari, cara bicara papa semajin tidak jelas. Seperti papa memaksa dirinya agar bisa bicara. Aku bisa mengerti, mungkin papa rindu saudaranya yang tidak kunjung datang.
__ADS_1
Papa dibawah kembali ke kamar perawatan setelah proses cuci darah. Teman-temanku ikut mengantarkan papa. Papa menatap mereka dengan mata berkaca-kaca seperti ingin menangis. Dia hanya diam hingga akhirnya kami sampai ke ruangan perawatan.
"Papa, ini teman-temanku datang liat papa. Jadi papa harus semangat sembuh" kataku kepada papa.
"Iya om. Kami semua datang untuk semangatin om. Semoga cepat sembuh yah om" kata Raka.
"Pa, ini Raka. Raka yang kemarin donor darah buat papa" kataku.
"Teee... Riii.... Ma. Kaa... Sih" papa mengucapkan dengan terbata-bata lalu menangis mencoba meraih Raka. Papa terus menerus menangis dan mencoba berterima kasih entah bebrrapa kali sempat menyebut namaku.
****
Aku mengendarai mobil papa ke rumah sakit. Aku sudah semakin lincah mengendarai mobil bahkan di kota besar seperti ini. Hari ini aku membawa adik-adikku. Kebetulan keluarga mama akan datang lagi hari ini, jadi adikku bisa menunggu bersama anak-anak dari saudara sepupuku di ruang bermain anak.
"Kak Cinta, tante Lina... " aku menyapa keluarga mama.
"Eh Fe, kebetulan kami baru nyampe. Ayo kita masuk bareng. Anak-anak biar sama papanya di luar" jawab kak Cinta.
"Iya kak. Ayo masuk" kataku.
Kami berjalan masuk ke ruang perawatan papa. Bawaan mereka banyak, semua makanan request dari papa dibawa. Papa dekat dengan keluarga mama jadi saat mendengar kabar mereka akan datang puluhan makanan pun di peaan oleh papa. Begitu pula aku, yang rindu masakan koki cantik, kak Cinta.
"Eh kalian sudah datang. Sini masuk. Cinta, om mu ini dari tadi nungguin." jawab mama.
"Aduh, om palingan nunggu makanannya kan? Tenang aja, cinta bawain semua kok" jawab kak Cinta dan membuat papa tertawa.
"Cinta, cuman berdua? Suami mu mana?" tanya mama.
"Oh, lagi nungguin anak-anak di depan. Yang laib juga bakalan datang tante, udah di jalan. Sejam lagi mereka sampai. Bakalan ramai ini, semoga tidak diusir satpam yah kita?" kata kak Cinta.
Lagi dan lagi papa menangis. Papa terharu melihat teman-temanku dan keluarga mama terus bergantian menjenguk papa. Bahkan mertua kak Cinta, tante Lina pun ikut.
"Ini udah cuci darah keberapa Fe?" tanya kak Cinta
"yang bentar udah ke 24 kak. Ini udah mau masuk hemodialisa" jawabku.
Tidak lama kemudian perawat datang menjemput papa. Kami pun ikut mengawal papa ke ruang hemodialisa.
__ADS_1
"Tante, tante udah makan belum? Kita makan dulu yuk, biar Fe yang jagain om disini dulu." kata kak Cinta kepada mama.
"Iya ma, mama belum makan loh udah siang. Mama pergi sama kak Cinta dulu yah. Papa biar sama Fe" kataku kepada mama.
Mama ikut bersama kak Cinta untuk mencari makan siang. Aku tau mama pasti belum tidur sejak semalam dan belum makan apa-apa hari ini. Papa pun mengizinkan mama pergi bersama kak Cinta.
"Fe, kue dari Cinta mana? Suapin papa yah?" kata papa.
"Iya pa" aku menyuapi papa dengan hati-hati. Papa tersenyum dan makan dengan lahap.
Aku terlambat sadar kalau papa beicara dengan sangat jelas tadi. Yah, itu sangat jelas seprti papa waktu sehat. Papa juga makan banyak untuk pertama kalinya sejak papa sakit. Aku bahagia terharu lalu memeluk papa. Aku menyandarkan kepalaku ke dada papa, papa meletakan tangannya di atas kepalaku. Setelah beberapa lama aku mengangkat kepalaku dan menatap papa yang senyum. Lalu senyumnya semakin mengecil dan mata papa melirik dari kanan kekiri seperti mencoba memutar matanya. Lalu terpejam.
Ada perasaan aneh di hatiku melihat papa seperti ini. Lalu kupanggil dokter untuk melihat papa. Aku sangat panik tidak tau harus bagaimana. Dokter memeriksa papa, aku mencoba menelfon mama dan kak Cinta terus menerus dan keluarga mama tiba beramai-ramai.
Dokter terlihat panik saat memeriksa keadaan papa dan memanggil beberapa perawat. Kondisi papa pasti tidak baik. Pandanganku buyar, kaki ku lemas. Sepupuku Dila yang baru tiba memapahku duduk di kursi.
"Fe, kamu duduk dulu yah. Biar aku yang telfon mama mu" kata Dila.
Aku hanya terus memandangi papa yang dikerumuni oleh dokter dan perawat. Ini situasi yg gawat tapi aku tidak tau harus apa. Aku bukan mahasiswa kedokteran atau kesehatan yg mengerti situasi ini.
"Maaf, Tuan Adam telah berpulang." kata salah satu dokter yang mendatangiku.
Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa maksud dokter atau aku memang tidak bisa menerima kenyataan. Keluarga mama yang ada mula menangis termasuk Dila yang memelukku. Ini tidak boleh.
Aku mendekati papa dan kucoba melakukan CPR seperti yg biasa ku lihat di film tapi tidak ada respon. Papa terus tertidur, tidak mau mendengarku. Aku menangis terus mencoba membangunkan papa. Aku ingin papa bangun menatap anak gadisnya yg biasa tangguh tapi sekarang menangis.
Di balik pintu suara mama yg biasa lembut terdengar berteriak meronta-ronta. Mama masuk memeluk papa yang sudah tidak ingin bangun lagi. Bahkan adik-adikku menerobos masuk menemui papa. Tapi tetap saja papa tidak mau bangun.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.