
Mama dan adikku yg pertama menemani papa menggunakan pesawat agar cepat sampai di kota M. Disana aku meminta tolong kepada teman-temanku Yuri, Prilly, Raka dan lainnya untuk membantu mama. Sedangkan aku dan adikku yg bungsu memutuskan untuk menggunakan mobil agar bisa digunakan selama di kota M.
Ini pertama kali aku menyetir jauh sendirian. Biasanya aku hanya duduk manis dan kak Alan yg menyetir hingga sampai di tujuan. Sekarang aku harus mengandalkan diriku sendiri. Sesekali Yuri menelfon untuk mengetahui keadaanku sekaligus melaporkan perkembangan kondisi papaku.
****
Papa mendapatkan perawatan yg dibutuhkan dan mama senantiasa menemani papa. Aku menjaga adik-adikku di rumah menyiapkan makanan buat mereka lalu kembali ke rumah sakit membantu mama. Papa masih menolak untuk cuci darah karena masih takut.
Aku dan beberapa saudara sepupu dari keluarga besar mama terus menghasut papa agar mau melakukan cuci darah sampai akhirnya papa luluh dan mau menjalani cuci darah.
Setiap hari aku dan mama fokus menjaga papa. Saat malam, aku harus pulang menemani adik-adikku di rumah lalu mama tetap menemani papa. Kuliahku aku tinggalkan sementara melihat mama sendirian harus membantu papa yg sekujur tubuhnya kaku untuk bergerak. Mama pun meninggalkan pekerjaan bahkan tidak pernah pulang ke kota asal kami.
Teman-temanku bergantian menjenguk papa. Begitu pula kak Fian yg pernah datang menjenguk papa. Hubungan ku memang masih sebatas teman dengannya tapi aku hanya fokus untuk kesehatan papa. Saat kak Fian datang pun sempat membuat kaget teman-temanku yg kebetulan menjenguk papa. Hubungan dekatku dengan kak Fian yg lama aku sembunyikan pun sudah bocor. Semua orang sudah tau.
****
"Fe, Adi dimana?" kata papa dengan suara yg kurang jelas.
"Pa, om Adi tidak datang" jawabku lembut.
Seketika papa menangis sambil bergumam yg aku pun tidak jelas apa. Sudah 2 bulan papa dirawat tapi saudaranya belum pernah datang. Papa mungkin merasa kesepian dan rindu dengan mereka.
"Selamat pagi om, Fe"
Tiba-tiba suara yg familiar datang dari depan pintu. Dan itu adalah kak Alan yg beberapa bulan ini sidah tidak pernah aku dengar kabarnya. Kak Alan masuk bersama kak Niko dan kak Romi.
"Kak Alan, mari masuk" kataku.
"Alan" kata papa yg langsung mengenali kak Alan.
"Om, bagaimana om? Maaf Alan baru datang liat om" kata kak Alan dengan lembut.
Papa hanya bisa merespon dengan tangis sambil berusaha mendekap kak Alan. Kak Alan langsung mengerti maksud papa dan memeluk papa.
"Kak, kebetulan sekali. Aku harus mencari kebetuhan papa di supermarket. Bisa tolong jaga papa dulu?" kataku dengan tidak tau malu.
__ADS_1
"Oh iya Fe. Biar Niko dan Romi bantu kamu. Aku disini jagain om Adam" jawab kak Alan.
Aku, kak Niko dan kak Romi pun pergi mencari semua permintaan papa yg akhir-akhir ini memang sedikit aneh. Mulai dari mie ayam, keju, baju baru dan lain-lain yg tiba-tiba diingini oleh papa.
"Kak, kalian tau kondisi papa dari siapa?" tanyaku kepada kak Niko dan kak Romi.
"Jadi kemarin itu aku sama Alan ke rumah sakit jenguk teman kampus. Eh, gak sengaja ketemu sama mama mu. Mama mu cerita kalau papamu sakit. Mau langsung liat papamu tapi udah malam. Ya sudah hari ini kita datang soalnya besok itu Romi sama Alan sudah harus berangkat keluar negeri" jawab kak Niko.
"Buat apa?" tanyaku.
"Kami mau lanjut S2 di luar negeri bareng. Tuntutan dari ayahnya Alan juga sih" jawab kak Romi.
"S2? Emang udah lulus sarjana?" tanyaku.
"Ya ampun Fe, kamu ini beneran udah gak peduli sama Alan yah? Alan sudah lulus 2 bulan yg lalu kali. Pas kalian putus itu Alan langsung balap mau cepet lulus. Fokus belajar mati-matian" jawab kak Niko.
"Kenapa?"
"Ya biar gak mikiran kamu terus lah. Dia itu sering was was takut kamu kenapa-kenapa" lanjut kak Niko.
Sementara itu kak Alan menemani papa yg mempunyai jadwal cuci darah. Terus di samping papa, mengawalnya ke ruang hemodialisa. Kak Alan juga tidak ragu-ragu saat dokter meminta tandatangan pihak keluarga yg rutin dilakukan sebelum memulai proses cuci darah. Terlihat seperti anak dan ayah.
Saat kami kembali dan segera menuju ruangan hemodialisa, aku melihat kak Alan yg duduk disamping papa memperhatikan mesin yg dengan jelas terlihat darah dari tubuh papa diselang-selangnya. Wajah kak Alan terlihat khawatir tapi tetap berusaha tenang.
"Kak, gimana papa?" tanyaku saat menghampiri kak Alan.
"Eh Fe, udah balik. Ini sudah 30 menit berjalan cuci darahnya" jawab kak Alan yg sedikit terkaget.
"Iyaa. Terima kasih sudah bantu jaga papa kak" kataku.
"It's okay Fe. Kamu pasti capek. Istirahat dulu sana. Biar aku yg temenin om disini" kata kak Alan.
Proses cuci darah selama 3 jam pun selesai. Papa dibawa kembali ke kamar perawatan di dampingi kak Alan. Aku, kak Niko, kak Romi dan mama yg sudah menunggu di ruang perawatan menyaksikan bagaimana papa terus menggenggam tangan kak Alan.
"Tante, om, kami balik dulu yah" kata kak Alan.
__ADS_1
"Iya Alan, terima kasih banyak yah" jawab mama.
"Om, baik-baik yah. Semoga lekas sehat kembali. Alan akan sering berdo'a buat om" kata kak Alan lalu memeluk papa yg disambut dengan tangis oleh papa.
Aku mengantarkan mereka sampai ke tempat parkir walau pun telah berulang kali diminta untuk kembali saja ke kamar perawatan. Tanpa kuhiraukan aku terus berjlana mengikuti mereka sampai ke depan mobil.
"Butuh bantuan buat packing gak?" tanya ku tiba-tiba kepada kak Alan.
"Fe..." kata kak Alan lalu terdiam.
"Aku bisa bantu sebelum pulang ke rumah" lanjutku.
Aku pun ikut ke tempat kak Alan dan membantunya mengemas barang yg akab dibawanya ke dalam kopor. Tidak ada perbincangan, kami berdua dalam situasi hening. Setelah beres, kak Alan mengantarku pulang ke rumah.
"Mau nginap? Besok aku bisa antar ke airport" kataku.
Tanpa ada kata satu pun dari mulut kak Alan, dia mengikuti ku masuk ke dalam rumah dan langsung bermain bersama adik-adikku hingga mereka bertiga tertidur. Aku tau ada ribuan kata yg mau kak Alan ucapkan tapi tertahan.
****
Jalan menuju bandara tidak seramai biasanya. Membuat suasana menjadi lebih hening. Aku menyetir mobil dengan kepala yg penuh kata-kata tapi tidak bisa terucap. Aku rasa kak Alan juga seperti itu tapi hanya duduk diam di sampingku.
Kak Romi sudah menunggu saat kami tiba dan akhirnya kak Alan mulai bersuara.
"Fe, kamu benar. Rasa suka tidak bisa dipaksakan atau pun dilarang. Kamu menyukai orang lain itu juga salahku yg telah membuat kamu bosan. Ikuti saja hatimu. Rasa suka kamu ke aku bisa kembali atau tidak, aku tetap akan tunggu kamu. Kata hatimu akan selalu benar" kata kak Alan.
"Alan" kataku sambil menahan air mata rasa bersalahku.
"Sekarang kamu jangan terlalu banyak pikiran lagi. Fokus jaga papa kamu. Apapun itu, aku harap kamu bisa cerita. Setidaknya jangan biarkan aku tidak tau saat terjadi apa-apa. Aku bisa jadi kakakmu jika kamu butuh. Dan yg terpenting, kamu harus jaga diri baik-baik" lanjut kak Alan.
Aku memeluknya sebelum dia masuk lalu menghilang diantara orang-orang. Sudah tidak terlihat lagi dia yg selalu peduli apa pun itu.
#bersambung....
Jangan lupa like dan comment yah....
__ADS_1