
Sudah 15 menit aku menunggu kak Alan menjemputku. Hari ini kami berdua akan berlibur tentunya bersama teman-temannya. Aku sudah cukup akrab dengan mereka, apalagi memang kami semua berasal dari SMP yg sama.
"Fe, Ayo" teriak kak Alan dari dalam mobilnya. Sesuai dengan karakternya yg ala-ala jagoan. Setelah aku masuk ke mobilnya, kami pun berangkat tanpa kata-kata.
"Hai Fe, apa kabar nih princesnya Alan?" Sapa kak Romi saat kami menjemputnya dan kak Niko.
"Baik kak, seperti biasa" jawabku dengan senyum.
Kak Romi dan kak Noki masuk ke mobil lalu kami pun berangkat. Entah kemana kami akan pergi, selalu seperti ini. Tidak ada keberanian dalam diriku untuk bertanya, dan lagi pula aku percaya dengan mereka.
"Fe, gimana olimpiadenya?" tanya kak Niko yg mencoba membuka pembahasan.
"Lancar dong kak walaupun sebenarnya agak kurang fokus karena ada ajang lain yg Fe ikutin" jawabku bercerita.
"Widih, gak salah. Ini Fe" kak Romi mencoba merespon dan masuk dalam pembicaraan
"Fokus ja satu dulu Fe, kan di sekolahmu masih banyak murid lain juga" Kak Niko mencoba menasehati.
__ADS_1
"Iya kak tenang aja. Lagi pula aku juga suka kok. Lebih banyak pengalaman" jawabku mencoba meyakinkan.
"Iya, kamu memang paling bisa diandalkan. Bangga saya! " respon kak Romi.
****
Pantai yg cantik dan juga tidak ramai. Sangat bagus untuk menenangkan pikiran. Hanya saja teman-teman kak Alan bisa mengisi tempat ini dengan suara mereka. kak Alan pun sama, tertawa keras saat mereka bercanda.
"Fe, cari makan yuk" ajak kak Alan yang tangannya sudah menggenggam tanganku.
Setelah beberapa suapan mi, hp ku berbunyi. Tidak biasanya mama menelfon saat aku bersama kak Alan. Aku menghentikan suapanku lalu menjawab panggilan mama.
"Ya ma, Fe masih di pantai sama kak Alan. Ada apa yah?" tanyaku penasaran.
"Fe, pulang dulu yah. Tante tiba-tiba drop sekarang lagi di ICU. Dari tadi tante cariin kamu" jawab mama dengan suara lembut tapi terdengar panik.
"Oh iya ma. Fe pulang sekarang yah. Fe langsung ke rumah sakit nyusul mama" Jawabku panik.
__ADS_1
Setelah mengangkat panggilan mama, kami pun langsung bergegas ke rumah sakit. Kak Alan juga terlihat agak panik. Wajar saja, dia sudah dekat dengan tante. Bahkan sering berkunjung kerumah dan mengobrol dengan tante saat aku tidak di rumah.
****
Semua orang terlihat panik di depan ICU. Papa terlihat sangat takut dan gelisah menunggu kakaknya yg sekarang ditangani dokter. Saudara yg lainnya pun sudah tiba. Mama sibuk menenangkan papa. Kak Alan pun ikut menenangkan papa.
"Itu, kakak kenapa? kenapa bisa tiba-tiba drop dan dilarikan ke ICU" tanya tante Lia dengan lirikan mata sinis ke mama
"Tadi setelah makan siang tiba-tiba kakak pingsan. Kami panik jadi langsung membawanya kesini" jawab mama mulai menangis seolah menyesal.
"Aku kan udah sering bilang, kakak itu sudah tua. Jangan dibiarin kerja lagi di rumah. Kamu kan bisa urus rumahmu sendiri. Jangan jadikan kantor sebagai alasan" bentak tante Lia ke mama.
Mama hanya bisa menangis terlihat jelas mama sedang takut. Ditambah lagi dengan tuduhan tante Lia yg kejam ke mama. Mama hanya tak punya tenaga untuk melawan. Kenyataannya memang yg dikatakan tante Lia itu terlalu kejam dan sekedar tuduhan tanpa bukti.
Entah kenapa saudara papa membenci mama. Tapi selalu bersikap manis di depan ku dan papa. Walau mama sering merusaha menyenangkan mereka, itu hanya sesaat. Mereka hanya senang saat mama membawakan mereka hadiah, setelahnya berubah lagi menjadi ketus. Aku tidak suka!
#bersambung
__ADS_1