
Hari keberangkatan besok pagi. Tapi semangatku sudah terkubur oleh rasa kecewa. Rasa bahagia bercanda dengan mereka kini berubah. Apalagi setelah melihat proposal itu tanpa sengaja aku mendengar seniorku menertawaiku yg hanya mengandalkan akademik.
Setiap mereka yg mendekat akan kutatap dengan sinis, beberapa dari mereka mungkin sekarang menyadarinya. Tapi mereka tetap mendekat seolah ramah kenyataannya mereka menginginkan sesuatu atau hanya menertawaiku dari belakang.
****
Kami telah tiba di lokasi, tenda kami sudah terpasang dan waktunya para anggota perempuan menyiapkan makan malam. Rasa kecewaku yg besar membuatku ingin menjadi brengsek. Aku tidak peduli dengan makananannya seolah ingin dimanja. Tidak ingin menyentuh dapur seolah tuan putri. Dan benar saja, hanya 2 3 orng dari mereka yg merasa kesal. Mungkin yg lainnya tidak ingin membuatku marah.
"Fe, gimana persiapan presentase mu nanti?" tanya Aya yg juga merupakan murid kelas 1 dan juga banyak disukai senior.
"Baik, hanya tinggal latihan sedikit aja" Jawabku ketus tidak suka.
__ADS_1
Aya adalah gadis populer, kuakui dia lebih cantik dariku. Keluarganya juga lumayan berada. Dia sangat suka disanjung beberapa kali kusaksikan sendiri di depanku. Dia tidak akan menolak permintaan orang yg meminta ditraktir. Dari awal kusimpulkan dia orang yang senang cari muka.
Hari presentaseku pun tiba, sangat gugup, tapi ini waktunya membuktikan diri kalau aku juga bisa diandalkan. Presentase karya ini bersamaan dengan perlombaan yg diikuti Aya yaitu baca puisi. Aku sendiri, tidak ada dari mereka yg mendampingi. Lagi pula siapa yg akan memilih mendengar presentase membosankan dibanding perlombaan puisi yg lebih seru.
Rasa kecewaku benar-benar meningkat. Aku secara spontan memulai presentase dengan bahasa inggris yg memang kukuasai sejak SMP. Semua lancar, hanya juri dan orang tak kukenal yg menyaksikan.
Setelah semua selesai aku kembali ke tenda dan ternyata mereka berkumpul. Aya tiba-tiba pingsan sebelum naik ke panggung membacakan puisi. Semua orang panik karena Aya tampak baik-baik saja sebelumnya. Aku tau itu pasti bentuk ketidakpercayaan dirinya dan juga rasa ingin diperhatikan yg tinggi. Aku hanya melihatnya lalu memutuskan untuk pergi berkeliling saja.
****
Stengah perjalan, sekilas kuintip Aya dan kak Ray. Ya Ampun, mereka sedang apa? Mengapa Aya menunduk dan tangan kak Ray seolah meraih sesuatu dan terus bergerak. Pikiran sudah melayang dan berpikir yg menjijikan setelah melihat mereka. Tanp sadar tangan kak Henry memegang tanganku.
__ADS_1
Karena aku yg tidak melawan, tiba-tiba saja tangan yg satunya mendarat dipahaku. Kutepis lalu kuberi tatapan sinis kepadanya. Dia nampaknya sangat jengkel dengan itu tapi aku benar-benar tidak peduli.
****
Sudah seminggu setelah kami pulang, semua sudah berubah. Tatapan ku yg sinis ternyata membuat mereka benci. Terlebih lagi gosip yang disebar oleh kak Henry membuatku marah.
Kak Henry menyebarkan bahwa aku sangat sombong dan juga licik. Selalu ingin diperhatikan oleh laki-laki dan juga bisa disentuh sembarangan laki-laki. Sikapku pun juga semakin sinis dan jijik kepada orang lain.
Setelah semua itu kuputuskan untuk sibuk mempersiapkan diri karena olimpiade akan tiba. Semua gosippun tenggelam dengan sendirinya hari yg sibuk untuk semua orang.
#bersambung
__ADS_1