
Setelah selesai makan malam, Adi mengajak keluarga kecil nya untuk bersantai di halaman belakang rumah nya.
Karena tempat itu adalah tempat pavorit keluarga Adi dari dulu.
Kini mereka duduk secara lesehan, Lisa dan Arin membawa cemilan kering dan juga minuman dingin.
"Bagaimana hari ini?" ucap Adi membuka suara nya, untuk bertanya kepada ke empat anak-anak nya.
"Lancar Pah," jawab ke empat anak Adi.
"Adnan, bagaimana hari ini di lapangan?"
"Lancar Pah, penghasilan minggu ini lumayan banyak dari penghasilan minggu lalu," dan aku juga meberikan gajih mereka seperti biasa nya, ini Pah uang pendapatan minggi ini, jawab Adnan sambil memberikan uang penghasilan kepada Adi.
"Papah terima penghasilan kamu, kalo kamu Adrian bagaimana?"
Sekarang ini supermarket yang biasa nya Lisa datangi setiap hari nya, telah berganti di kelola sepenuh nya oleh Adrian, bahkan tidak hanya satu supermarket yang ada di kampung ini saja.
Adi juga membuka satu supermarket lagi di perbatasan kampung, dan itu juga di kelola Adrian.
Sedangkan Lisa, hanya menikmati masa-masa dimana menjadi seorang ibu rumah tangga yang utuh, tanpa harus bekerja lagi.
Terkadang Lisa juga sering jalan-jalan bersama Nury dan juga istri Parjo.
"Ini Pah penghasilan minggu ini! lumayan bertambah dari minggu yang lalu, dan aku juga memberikan gajih mereka seperti minggu yang lalu," jawab Adrian.
"Papah terima, kalo kamu Aidan?"
"Ini penghasilan minggu ini Pah, Alhamdulillah semakin maju dan berkembang pesat," dan aku juga sudah memberikan gajih mereka seperti biasa nya. jawab Aidan anak ketiga Adi dan Lisa.
"Papah terima."
"Arin tidak kan Pah? kan Arin tidak ikut usaha dengan Papah," jawab Arin.
__ADS_1
"Iya-iya, sini anak Papah mendekatlah!'
"Ada apa Pah, apa Papah akan memberikan jatah mingguan buat aku juga?"
"Mana bisa, jangan mau Pah! jualan online dia dalam bualn ini maju dan berkembang pesat sekali, jadi jangan di kasih Pah!" ucap Adrian.
"Papah, Mas Adrian jahat sekali! mana ada seperti itu?"
"Adalah, kan uang kamu banyak! terus kalo di kasih Papah lagi, makin banyak dong."
"Lah kalo papah tidak kasih jatah mingguan Arin, terus nafkah Papah tidak ada lagi dong buat Arin! terus siapa lagi yang kasih nafkah selain Papah?"
"Ada Pah." ucap Arin yang antusias menjawab pertanyan dari Papah nya.
"Siapa Arin?" jawab Lisa, yang langsung bertanya kepada Arin.
"Pak Gani, Guru sekolah Arin," jawab Arin apa adanya tanpa penuh dosa.
Sedangkan Adi, Lisa, dan Ibu Adi hanya bisa geleng-geleng kepala, saat mendengar jawaban dari anak bungsu nya itu.
"Lah kenapa? salah Arin apa coba?" jawab Arin yang masih menjawab tanpa dosa.
"Sekolah dulu yang benar! belum tentu Pak Gani mau sama kamu yang masih kecil ini," ucap Adi kepada Arin dengan nada lembut dan penuh hati-hati.
"Papah ih jahat sekali!" rengek Arin dengan nada manja dengan Adi.
"Lah Papah salah ya?"
"Iya lah, Papah saja saat itu sudah tua dapatin Mamah yang masih muda!" lah masa Pak Gani tidak cocok sama aku yang juga masih muda?
Adi menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, sedangkan Lisa dan ibu Adi, menahan tawa nya agar tidak pecah, karena lelucoan yang di buat oleh Arin.
"Sudah lah Mas percuma juga menjawab, pasti juga kamu akan kalah!" ucap Lisa yang tidak ingin membuat anak dah ayah, jadi semakin beradu mulut.
__ADS_1
***
Di lain tempat seorang laki-laki yang mondar mandir, me lihat handphone nya berulang-ulang kali.
Bingung untuk menghubungi seseorang terlebih dahulu, berasa seperti anak ABG yang baru mengenal arti cinta.
Ya dia adalah Gani.
Gani mencari nomer handphone Arin, di dalam data semua murid.
Setelah Gani mendapat nomer handphone Arin, Gani merasa bingung untuk memulai percakapan apa yang akan dia bahas.
Gani mondar-mandir di dalam kamar nya, sudah seperti setrika rusak saja.
'Apa yang harus aku bicarakan kepada Arin? apakah aku harus menghubungi nya? dan mengatakan ingin bertemu dengannya secara peribadi?' batin Gani yang merasa gelisah memikirkan semua hal itu.
Tanpa senghaja, jari Gani terpencet tombol memanggil kepada Arin.
'Ya ampun bagaimana ini? apa harus aku matikan saja?' oh ya ampun bagaimana ini, batin Gani.
Tiba-tiba di seberang sana terdengar suara perempuan, yang dari tadi membuat hati Gani menjadi seperti ABG labil.
"Hallo ini siapa?" ucap Arin kepada penelepon di seberang sana.
"I-iya Arin ini saya," jawab Gani terdengar sedikit kaku.
"Saya siapa?"
" Saya Pak Gani."
Hayo gaes pengen tahu bagaimana reaksi Arin, saat tahu si penelepon adalah orang yang sangat Arin suka?
Kasih author Like, Komen, Hadiah, Vote ya 😘😘😘 biar author semakin semangat lagi up nya.
__ADS_1