Perjalanan Cinta Kembar Empat

Perjalanan Cinta Kembar Empat
Mengukur Tubuh Pak Gani


__ADS_3

Setelah jam istirahat, Arin di panggil oleh adik kelas nya.


"Kak Arin!!!"


"Eh iya Mona, ada apa?"


"Kak tadi di minta sama Pak Gani untuk menemuinya ke dalam ruangan!"


"Oh begitu ya? baiklah terimakasih," jawab Arin.


Setelah itu Arin bergegas untuk menemui Pak Gani yang saat ini berada di dalam ruangannya.


Tok tok tok


"Assalamu Alaikum Pak," ucap Arin kepada Pak Gani yang berada di dalam sana.


"Wa Alaikum Salam," Masuk!


"Bagaimana Rin? mulai mengukurnya?"


"Mengukur Pak?"


"Iya mengukur tubuh saya!"


"Oh ya ampun, iya Pak saya lupa tujuan saya," jawab Arin tersenyum malu.


Sedangkan Gani hanya sedikit tersenyum, namun hal itu sudah membuat hati Arin menjadi dag dig dug.


Arin mulai mengukur tubuh Gani, pandangan mereka dapat bertemu, rasanya hal ini tidak ingin cepat-cepat berlalu.


Sentuhan jemari-jemari tangan mungil Arin, mampu membuat berdesir seluruh tubuh Gani.


Hembusan nafas Arin, mampu melumpuhkan kulit serta saraf Gani.


Hal ini sudah lama tidak Gani rasakan.


Setelah bertahun-tahun lama nya bercerai, Gani tidak pernah lagi berdekatan seperti ini dengan perempuan.


Namun Hal ini dapat Gani rasakan lagi saat bersama murid nya sendiri.


Gani cepat-cepat menyingkirkan pikiran kotor tersebut.

__ADS_1


'Ingat Gani dia adalah murid mu! umur kalian sangatlah jauh!' kalian tidak akan pernah bersatu, dan itu sngat mustahil sekali! batin Gani


Gani masih ragu dengan perasaannya ini, sering kali bayangan wajah mungil perempuan kecil ini terlintas di benak Gani.


Sering juga saat-saat ini Gani bermimpi tentang Arin.


Gani sering kepikiran di sela setiap lamunannya.


Namun hal itu hanya Gani anggap sebagai mengagumi antara Guru kepada Murid saja.


"Maap Pak, boleh saya mengukur pinggang sampai kaki nya?"


"Boleh Arin." jawab Gani.


Arin berjongkok, untuk mengukur pinggang Pak Gani.


Namun hal kotor hampir di pikiran Gani.


Saat Arin berjongkok seperti itu, Gani malah berpikiran kotor.


Seakan-akan dalam pikiran Gani saat ini, Arin sedang menghisap lolipop nya dengan mesra.


"Astagfirullah," ucap Gani refleks.


Sebab Gani beristigfar sambil mengusap dada nya.


"Eh tidak apa-apa Arin," jawab Gani yang merasa sedikit malu.


"Maaf Pak, setelah saya pikir-pikir apakah bapak mau jika baju Bapak dengan Ara, saya buatkan seragam saja! seperti nya cocok deh Pak," ucap Arin kepada Gani.


Sedangkan Gani berpikir sejenak dengan saran yang telah Arin berikan.


"Kalo seragam seperti nya tidak asik Arin, sebab saya tidak memiliki pasangannya!"


"Waduh gimana ya Pak, soalnya sekarang ini lebih ngetren pakaian seperti itu."


"Saya malu dengan pakaian nya Arin!" ucap Gani dengan menatap lekat wajah dan mata Arin.


Arin yang di tatap seperti itu, merasa ada hal yang aneh akan terjadi.


Hal ini seperti di drama yang sering Arin lihat.

__ADS_1


Laki-laki tersebut pelan-pelan mendekat ke arah dimana bibir manis yang menjadi tujuan utama nya.


Lama kelamaan Laki-laki itu mendekat dan mendekat ke arah bibir manis lawannya.


Tanpa senghaja Arin memejamkan mata nya, saat Pak Gani sedang menatap lekat wajah Arin.


Dan Pak Gani memang benar mulai mendekat ke arah wajah Arin.


Arin sudah lama berpejam hingga dari arah luar ada seseorang yang sedang mengganggu mereka berdua.


Tok tok tok


Arin dan Pak Gani menjadi sama-sama malu, karena ada-ada saja yang mengganggu mereka berdua.


"Maap Arin ada daun di kepala kamu," ucap Gani kepada Arin.


"Hah benarkah Pak," jawab Arin.


"Iya ini bukti nya," Gani mengambil daun yang ada di atas kepala Arin.


"E-eh iya maap Pak," ucap Arin yang merasa malu sekali.


"Duduk di sini dulu! saya akan membuka pintu nya."


Gani berjalan ke arah pintu luar, untuk membuka siapa yang sedang me ngetok pintu dari luar.


Ceklekkkkkk


"Iya ada apa Bu Siti, Bu Rini?"


"Maap Pak Gani, kami hanya ingin mengajak Bapak untuk makan siang bersama." ucap Bu Rini.


Sedangkan mata Bu Siti menuju ke dalam ruangan di mana seperti nya ada seseorang yang sedang berada di dalam sana.


"Maaf Bu saya tidak bisa." ucap Pak Gani kepada Bu Rini.


"Maaf Pak Gani, kalo boleh saya tahu siapa ya yang ada di dalam ruangan Bapa?" ucap Bu Siti yang semakin penasaran.


Sebab Pak Gani tidak pernah sembarangan mengizinkan seseorang masuk ke dalam ruangannya jika tidak ada hal yang lebih penting.


"Oh itu dia Arin, Bu Siti," Murid saya.

__ADS_1


"Ada kepentingan apa Pak Gani?" tumben di izinkan masuk ke dalam ruangan Bapak. ucap Bu Rini yang juga ikut penasaran.


Pak Gani merasa saat ini sedang di introgasi, walaupun pertanyaan ini sangat tidak berguna, namun tetap juga Gani merasa sangat kesulitan mencari alasan.


__ADS_2