
Sebenarnya Gani merasa tak enak hati kepada ke dua Ibu Guru tadi, namun Gani harus tegas dan tidak ingin kekasih kecil nya bersedih.
Jika saja kekasih Gani tidak semuda Arin, mungkin hal ini bisa teratasi dan bisa saling mengerti.
Namun karena Arin masih muda dan tidak terlalu mengerti yang mana benar dan salah, jadi Gani harus banyak untuk mengalah.
Apalagi Gani yakin, semua tadi hanya akal-akalan para Guru perempuan, karena status Duda sangat meresahkan bagi para Guru perempuan.
Apalagi Gani yang memilki tubuh tegap, tinggi, kekar, dada bidang kotak-kotak, dan memiliki brewok, terkesan mengundang nafsu para Guru perempuan.
Hal itu membuat Arin menjadi takut, jika kekasih nya di rebut para Ibu-ibu centil itu.
Arin yang dari tadi melihat dari kejauhan merasa kasihan kepada kekasih ples Guru nya itu.
Sebab karena diri nya, Gani jadi menghindar dengan semua dewan Guru.
Padahal Arin inginnya Gani hanya menjauhi para Ibu-ibu centil itu, bukan semua para Guru.
Saat Gani membuka ruangan pribadi nya, Gani terkejut melihat Arin langsung memeluk tubuh nya.
"Maafkan aku Mas, bukan seperti ini yang aku inginkan," karena aku kamu jadi tidak bisa bersama dengan dewan guru lainnya.
"Apa kamu mendengar nya tadi sayang?" ucap Gani yang memastikan kepada Arin.
"Aku dengar semua nya Mas."
"Tidak apa-apa sayang, aku tidak ingin kekasih ku cemas karena diri ku," aku juga bisa mengatasi semua nya sayang.
"Terimakasih Mas, Mas yang terbaik."
__ADS_1
"Kau juga yang terbaik sayang, jangan tinggalkan Mas, dan jangan hianati cinta Mas."
Sungguh sangat besar cinta Gani kepada Arin, tak perduli bagaimana perasaan para Guru-guru saat Gani menolak untuk makan bersama.
Namun Gani juga yakin, ini semua hanya akal-akalan para Ibu Guru.
Lonceng berbunyi, pertanda semua murid pada harus masuk ke kelas masing-masing.
"Mas aku keluar dulu." ucap Arin.
"Iya sayang hati-hati!" jawab Gani.
Setelah Arin dapat keluar, ternyata teman-temannya sudah pada menunggu di depan kelas.
"Lo dari mana saja Rin? kita cari ke wc juga gak ada?" ucap Desi kepada Arin.
"Iya Rin, kakak lo saja pada lumutan nungguin lo," ucap Indah.
Namun bukannya percaya yang ada mereka pada bingung, sebab Arin bukanlah sosok perempuan yang suka membaca seperti kembarannya Aidan.
Karena tak ingin masalah semakin panjang, apalagi dari kejauhan ada Bu Kiki yang akan menggantikan mata pelajaran Bu Rini.
"Bu Rini izin kepada kepala sekolah, kata nya tiba-tiba gak enak badan."
Terdengar bisik-bisik dari belakang kursi Arin, mereka membicarakan tentang Bu Rini.
'Bukannya Bu Rini tadi sehat-sehat saja deh,' batin Arin dalam hati.
Setelah mata pelajaran Bu Kiki selesai, lonceng berbunyi pertanda jam pulang sudah tiba.
__ADS_1
Arin dan teman-teman nya pada pulang bersama, karena hari ini indah naik motor sendiri dan Desi seperti biasa nya numpang dengan Arin.
Rencana nya mereka tidak langsung pulang, ingin beli rujak di simpang empat desa.
Namun itu hanya modus anak muda saja, padahal mereka mau jalan-jalan sekalian cari angin, siapa tahu ketemu pangeran di pinggir jalan, kata Indah.
Sedangkan Arin sudah mengirim pesan kepada Pak Gani, untuk minta izin pulang ke rumah telat karena ingin membeli rujak.
Dan Pak Gani meberi izin, dan jangan pulang kelamaan, kata Pak Gani di akhir pesan singkat nya.
Saat Pak Gani berjalan di koridor sekolah, Pak Gani tak senghaja berpapasan dengan Bu Nina.
Bu Nina sudah memiliki anak dan suami, jadi Pak Gani tak risau jika membagikan senyum manis nya kepada Bu Nina.
"Selamat siang Pak Gani, maaf ganggu sebentar," ucap Bu Nina kepada Pak Gani.
"Siang juga Bu Nina, oh iya tidak apa-apa bu."
"Ini Pak Gani, ada kiriman surat dari Bu Rini, kata nya buat Pak Gani," ucap Bu Nina.
Gani menjadi bingung dan ingin menolak nya, namun Bu Nina langsung menyodorkan surat tersebut kepada Pak Gani.
Dan mau tak mau Pak Gani menerima surat tersebut dari Bu Nina.
"Terimakasih Bu Nina," ucap Pak Gani.
"Sama-sama Pak Gani," oh iya seperti nya Bu Rini suka kepada Pak Gani, terima saja Pak! Bu Rini orang nya juga baik dan keibuan pasti mau jadi ibu sambung buat anak Bapak.
"Oh iya terimakasih Bu Nina sarannya," kalo begitu saya pamit duluan.
__ADS_1
"Iya Pak Gani hati-hati di jalan!" jawab Bu Nina.