Perjalanan Cinta Kembar Empat

Perjalanan Cinta Kembar Empat
Saling Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

Sampai jam 12 malam, Gani tak bisa tertidur pulas, dan akhirnya Gani menurunkan ego nya untuk menghubungi Arin.


Panggilan pertama tidak di angkat.


ke 2


ke 3


Dan panggilan ke 4 akhirnya panggilan terhubung.


"Siapa nih?" ucap Arin dengan suara khas bangun tidur.


Namun pendengaran Gani terdengar suara yang sangat manja, dan ada suara sedikit men**sah.


"Rin ini saya Gani!" maap jika saya mengganggu tidur mu, ucap Gani.


Deggggggg


Arin langsung tersadar saat mendengar nama Gani, dan Arin membuka mata nya lebar-lebar takut salah dengar.


Namun kenyataannya memang benar, saat ini yang telah menghubungi Arin dalah Gani.


Guru sekolah nya sendiri.


"I-iya Pak, maaf saya ketiduran," jawab Arin yang merasa sangat malu.


"Maafkan saya Rin sudah membuat kamu menunggu kelamaan."


"Tidak apa-apa Pak, saya hanya merasa bersalah saja, dan takut jika Bapak marah."


Namun sambungan terputus membuat Arin menjadi bingung.


'Ehh Pak Gani kehabisan kuota kah?' batin Arin dalam hati.


Namun perkiraan Arin telah salah, Pak Gani merubah sambungan nya menjadi video call.


Dengan malu-malu Arin menerima panggilan video call tersebut, karna Arin belum sempat mencuci muka nya yang baru bangun tidur.


"Bapak kenapa video call sih? kan aku malu Pak," ucap Arin kepada Gani.


Sedangkan di seberang sana Gani merasa sangat bahagia, sebab bisa melihat murid kesayangannya ini.


"Malu kenapa? malu karena penampilan kamu berantakan?" jawab Gani yang bisa menebak apa kata isi hati Arin.


"Kurang lebih begitu Pak," jawab Arin.


Kini di antara mereka saling terdiam, namun mata mereka saling pandang yang terhalang dinding handphone dan udara.


"Kamu terlihat sangat cantik dalam keadaan natural Rin," jawab Gani yang apa ada nya.

__ADS_1


Namun hal itu membuat jantung Arin serasa mau copot, dan muka Arin sudah sangat memerah karena pujian dari Gani.


"Ih Bapak suka sekali deh ngegombal! coba kalo di sekolah dingin banget," ucap Arin tanpa ada rasa canggung lagi.


"Saya memang begitu Rin, tapi jika sudah bersama orang yang saya sayangi sikap saya akan berubah!"


"Ih Bapak, saya ini kan murid! bukan ibu atau pun Ara anak Bapak!"


"Kamu berbeda dengan murid yang lainnya Rin!" ucap Gani.


Terlihat jelas keseriusan di mata Gani, tak ada seperti candaan yang Arin lihat.


"Rin apa hubungan kamu dengan cwo siang tadi?"


"Siapa Pak? kak Dimas atau kak Dion?"


"Kalo boleh ke dua nya!"


"Kak Dimas itu adalah keponakan angkat Papah!" Mamah nya kak Dimas itu dulu angkatan saudara kepada Papah, jadi aku sama kak Dimas sudah seperti sepupu terdekat, karena Papah anak satu-satu nya dari Nenek.


"Kalo Dion?" ucap Gani.


Karena di sini yang jadi masalah nya adalah Dion, laki-laki yang membuat Gani menjadi jungkir balik perasaannya.


Perasaan tidak percaya diri, yang membuat Gani ingin berhenti memperjuangkan Arin.


"Kak Dion adalah kakak dari Desi! kami tidak terlalu dekat, namun kami saling kenal," karena aku sering main ke rumah Desi, jawab Arin.


"Hahahaha Bapak ada-ada saja deh, saya tidak di bolehkan pacaran sama Papah! kata Papah pacaran itu tidak sehat, bikin sekolah tidak fokus kalo lagi berantem.


Hati Gani sedikit merasa tenang, sebab Dion bukan siapa-siapa Arin.


Jadi saat ini adalah masalah restu dari orang tua Arin, yang akan menjadi perjuangan bagi Gani.


"Rin jika seandainya ada seseorang lebih tua dari kamu, bisa di bilang hampir sama dengan umur Papah kamu! dia menyukai kamu, dan dia akan menunggu kamu sampai lulus sekolah, apa kamu mau menerima nya?"


"Dia itu siapa Pak?" bagi saya umur tidak masalah, dan kata Mamah pun laki-laki yang lebih tua dari kita dia bisa membimbing dan mengerti ke egoisan kita.


"Contoh nya saja Mamah dan Papah Arin," Papah menikahi Mamah saat umur Mamah 19 tahun, dan saat itu umur Papah sudah 35 , dan sampai saat ini mereka masih harmonis Pak, Papah juga pengertian dan tidak pernah marah-marah kepada Mamah.


"Jika dia itu adalah saya bagaimana Rin?" ucap Gani yang the point kepada Arin.


"Ih Bapak bercanda ya?" ucap Arin merasa terkejut jika Guru nya itu juga memiliki perasaan yang sama dengan Arin.


"Saya serius Rin, saya benar-benar menyukai kamu." jawab Gani.


"Bagaimama bisa Bapak menyukai saya? sedangkan saya adalah murid Bapa sendiri?" ucap Arin kepada Gani.


"Entahlah Rin, saya hanya merasa nyaman saat bersama kamu!" bahkan saat kamu bersama Ara, saya melihat jiwa ke ibuan kamu itu ada, sangat berbeda sekali dengan mantan istri saya dulu.

__ADS_1


"Tapi saya pasti tidak di bolehkan pacaran Pak dengan Papah saya!"


"Kita tidak pacaran Rin! saat ini tolong jaga perasaan saya, dan saya juga akan sebaliknya!" urusan Papah kamu, itu akan menjadi urusan saya, kamu hanya jaga hati dan perasaan kamu itu saja.


"Apa Bapak serius?"


"Saya bukan pria muda lagi Rin! jadi buat apa saya berniat hanya untuk main-main," hanya saja saya harus bersabar menunggu kamu sampai lulus sekolah, apa kamu siap Rin?


"Insya Allah siap Pak, saya akan mencoba untuk selalu menjaga hati dan perasaan buat Bapak."


"Terimakasih banyak Rin, tapi?" ucap Gani menggantung, yang membuat Arin semakin menjadi bingung.


"Tapi kenapa Pak?"


"Status saya Duda Rin! saya memiliki satu putri." ucap Gani yang merasa tak enak hati kepada Arin.


"Saya tidak perduli akan hal itu Pak! bukankah dari awal saya juga mengetahui bahwa Bapak seorang Duda!" saya juga menyukai Bapak sejak lama.


Gani tercengang dengan pengakuan Arin saat ini, berarti dia tidak pernah bertepuk tangan.


"Apakah aku tidak salah dengar Rin? sejak kapan kamu menyukai saya?" ucap Gani yang memastikan ucapan dari Arin.


"Sejak pertama kali Bapak masuk dan mengajar di sekolah."


Gani tersenyum di seberang sana, betapa bahagia nya diri nya saat mengetahui gadis yang dia suka, ternyata juga memiliki perasaan sama kepada nya.


"Terimakasih Rin," ucap Gani.


"Terimakasih untuk apa Pak?"


"Terimakasih sudah mau menerima lelaki Duda ini Rin."


"Is Bapak, jangan bicara seperti itu! aku tetap memilih Bapak apa ada nya!" jawab Arin.


"Rin boleh minta sesuatu?" ucap Gani.


"Apa Pak?"


"Jangan panggil saya Bapak lagi! kalo kita hanya berdua saja."


"Terus saya harus manggil apa Pak?" ucap Arin.


"Apa saja asalkan kamu enak."


"Mas?"


"Terdengar lebih baik sayang," jawab Gani yanh tersenyum indah kepada Arin.


'Omo, dia tersenyum,' manis banget, batin Arin.

__ADS_1


Dan malam ini mereka sama-sama tertidur lebih nyenyak, sebab perasaan yang selama ini mereka tahan sudah mereka ungkapkan.


__ADS_2