
Gani meminta saran kepada Adnan, Adrian. Namun tidak dengan Aidan. Karena Aidan sedang menunggu istrinya yang sedang sakit.
"Bagaimana? Apa kalian setuju?" Tanya Gani, kepada saudara kembar Arin.
Gani mengajak kedua saudara Arin untuk bertemu, dan mengatakan saran dari Ibu nya. Saat mereka mendengar bahwa Gani berniat untuk melamar Arin. Adnan dibuat terkejut. "Bapak serius mau menikahi Arin? Bukannya Bapak sudah setuju kepada penculik Arin kemarin," ucap Adnan.
"Kak Adnan, kalo saran aku sih tidak apa-apa kalo Pak Gani mau serius kepada adik kita! Lagian kita sebagai kakak inginnya pasti yang terbaik, apalagi dengan kejadian seperti kemarin aku merasa sedikit khawatir dengan keselamatan Arin," jelas Adrian.
"Ya kalau memang kamu setuju aku ikut setuju saja sih. Memang kita selalu ada buat Arin, namun dengan kejadian kemarin aku juga merasa takut dengan keselamatan Arin."
"Terus bagaimana bisa agar aku menyampaikan semua ini kepada ayah kalian? Yang aku lihat Arin adalah anak kesayangan orang tua kalian," tanya Gani.
"Masalah Ayah biar kami yang mengatur. Namun sebelumnya kami minta Bapak secepatnya mencari tahu siapa dalang dari penculikan Arin kemarin!"Ucap Adnan.
"Betul itu aku juga setuju saran dari kakak Adnan. Bapak cari saja dan selidiki siapa pelaku yang sebenarnya. Masalah hubungan Bapak dengan Arin biar kami yang mengaturnya," ucap Adrian.
Gani merasa sangat lega jika saudara kembar Arin menyetujui hubungannya dengan adik mereka. Namun saat ini yang terpenting Gani harus bisa mencari tahu siapa dalang dari penculikan Arin kemarin. Agar hubungannya bisa secepatnya terjadi.
Namun untuk saat ini Gani dan Arin sepakat untuk saling berjauhan dan tidak sedekat dulu lagi. Karena ini adalah misi penyelidikan, dan rencana dari Adnan dan Adrian.
***
Setelah kejadian hilangnya Arin kemarin kini sikap Adi semakin overprotektif kepada Arin. Pulang dan pergi sekolah sekarang menjadi tugas Adi yang selalu mengawasi.
Bahkan Arin juga dilarang untuk bekerja sementara waktu
"Nenek Arin bosan pulang pergi diantar Papah terus," rengek Arin yang meminta pertolongan kepada neneknya.
"Ikuti saja apa yang diperintahkan oleh papa mu! Itu juga demi keselamatanmu," jawab sang nenek.
Mau tak mau Arin harus menurut. apalagi ini juga demi keselamatan dirinya. Terasa sepi tidak seperti kemarin yang selalu bertegur sapa dengan guru kesayangannya itu.
***
"Bagaimana keadaan Arin? Aku dengar Papah pulang pergi mengantarnya ke sekolah?" Tanya Elsa kepada Aidan.
__ADS_1
"Iya sekarang papah menjadi overprotektif, mungkin efek hilangnya Arin kemarin," jawab Aidan, yang masih sibuk dengan tugas sekolah nya.
"Ya kamu sebagai kakaknya seharusnya juga menjaga dia! Aku tidak ingin jika keberadaanku penghalang keluarga kalian," jawab Elsa.
"Ngomong apa kamu? Arin memang adikku, tapi sekarang tugasku sudah menjadi dua. Karena aku sudah memiliki istri dan sudah berkeluarga, tidak seperti kakak Adnan, dan Kak Adrian."
Elsa sangat bersyukur memiliki suami seperti Aidan yang selalu mengerti perasaan dirinya.
Dulu pertama kali menikah dengan Aidan. Elsa sempat berpikir jika hidupnya tidak akan sebahagia sekarang ini. Namun ternyata pikiran Elsa salah, sikap dingin nya bertolak belakang. Aidan adalah laki-laki penyayang, sabar, serta pengertian, tidak pernah marah, bahkan tidak pernah membentak sedikitpun kepada dirinya.
Namun sampai saat ini walaupun hubungan mereka sudah sangat membaik namun Elsa belum sepenuhnya memberikan hak kepada Aidan.
"Aku berpikir lebih baik aku berhenti saja sekolah," ucap Elsa.
"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Perjalananmu masih panjang, bahkan aku juga sama," jawab Aidan, yang merasa tak setuju dengan pemikiran Elsa.
"Kemarin aku sempat buka aplikasi online, sekolah di rumah bisa ikut ujian, bahkan mendapatkan ijazah sama seperti sekolah pada umumnya."
"Maksud kamu sekolah paket?"
"Iya benar sekali, aku rasa aku perlu sekolah itu. Jadi aku tidak perlu menghabiskan uang setiap bulannya. Bahkan turun setiap hari ke sekolah, aku bisa merawat ibu dan dirimu Aidan. Dan aku bisa mulai menjadi istri sesungguhnya."
"Hei aku bukan pembantumu ya! Itu hanya sebagian baktiku sebagai seorang istri," jawab Elsa.
"Aku tidak pernah mengatakan kamu pembantuku. bahkan jika aku menganggap kamu pembantuku kita tidak mungkin tidur satu kamar! Buat apa aku tidur dengan pembantu. omonganmu semakin ngaco saja."
"Aku serius Aidan, kamu jangan ajakin aku bercanda terus apa," ucap Elsa, yang merasa kesal kepada Aidan.
"Iya aku juga serius, kamunya saja yang dari tadi ngaco," jawab Aidan.
"Aidan aku pengen jadi istri kamu yang sesungguhnya, aku ingin berbakti serta menyerahkan apa yang menjadi hak kamu," ucap Elsa.
"Hak apa maksud kamu Elsa? Jangan membuatku semakin bingung."
Elsa sempat mendengar dari teman-temannya jika di sekolah Aidan, ada yang menyukai suaminya itu. walaupun Aidan masih cuek dan bersikap biasa saja. namun sebagai seorang istri ada rasa takut yang berlebihan jika Aidan direbut oleh wanita lain, sehingga Elsa berpikir keras jika dirinya seharusnya menyerahkan apa yang menjadi hak Aidan.
__ADS_1
Aidan bisakah kita memulainya dari awal? Walaupun kita satu kamar, tapi kita tidak pernah satu kasur. kita bagaikan seperti teman. yang aku katakan bisakah kita menjadi suami istri beneran? Kamu bisa meminta hakmu sebagai suami, aku ikhlas Aidan biar kita sama-sama saling memiliki kamu milik aku, dan aku milik kamu," jawab Elsa yang mulai serius
"Kita masih muda Elsa! Bagaimana bisa kita melakukan itu," jawab Aidan.
"Aidan Apa kau tak mencintaiku? Apa kau masih berpikir hubungan kita ini hanya sebatas tanggung jawab saja?"
"Sejujurnya sudah dua bulan ini perasaan Aidan mulai beda dengan Elsa. Dulu Aidan berpikir bagaimana nasib rumah tangganya namun lama-kelamaan bersama hingga tumbuhlah benih-benih cinta yang masih Aidan rahasiakan. sebagai laki-laki normal tentu saja Aidan sangat menginginkan hal tersebut. mengingat mereka berdua sudah sama-sama sah yang kapan saja bisa Aidan pinta kepada Elsa.
Kini tatapan Aidan mulai serius memandang ke arah Elsa. "Kita menikah sudah setengah tahun, bahkan setiap harinya kita bertemu, tidur satu kamar. Bahkan aku sudah menafkahimu layaknya suami yang beneran. Bagaimana bisa kamu bertanya aku tidak menyukaimu? Jujur Elsa memang beberapa bulan yang lalu perasaan aku biasa saja kepadamu. namun beberapa bulan ini entah kenapa tiba-tiba aku merasa nyaman dan ingin memilikimu seutuhnya. Namun semua itu aku simpan karena aku berpikir bahwa kamu tidak memiliki perasaan kepadaku sebagai laki-laki normal aku sangat menginginkannya, namun kita berdua masih muda apalagi masih sekolah," jelas Aidan.
"Aidan aku sudah siap, bahkan aku sudah berpikir matang-matang untuk berhenti sekolah. lanjutkanlah sekolahmu Aidan biar ini semua menjadi rahasia kita."
"Apa kamu serius Elsa? Apa kamu memang benar-benar ingin memulainya dari awal? Yakinkanlah hatimu agar kamu tidak akan menyesal!"
"Aku akan lebih menyesal jika ada wanita lain yang akan memberikannya kepadamu," jawab Elsa yang menangis langsung memeluk erat tubuh Aidan
"Apa yang kau pikirkan? Apa ada hal sesuatu yang kau sembunyikan?" Tanya Aidan.
"Aku mencintaimu Aidan, aku takut jika kamu menyukai wanita lain selain diriku," jawab Elsa.
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan Elsa! Aku bukanlah tipe yang suka berpaling hati." jawab Aidan, yang juga membalas pelukan erat dari Elsa.
Karena mereka berdua sama-sama sudah saling terbuka, dan mengakui perasaan mereka masing-masing. Dan terjadilah dimana pergumulan panas di dalam ruangan itu.
"Aidan pelan-pelan!" Ucap Elsa, yang merasa ada benda tumpul yang masuk dan mulai menerobos dinding rahimnya.
"Panggil aku sayang!" Jawab Aidan, yang terus-terusan masih memompa dan semakin memperkencang ritme nya.
Elsa memeluk erat leher Aidan, dan berteriak kenikmatan.
Hingga tak lama, benda tumpul tersebut masuk sempurna ke dalam dinding rahim Elsa dengan sempurna.
Aidan kembali memompa, memaju mundurkan junior nya hingga terbenam sempurna.
Suara decakan antara kulit sama kulit bertemu, hingga membuat ruangan kedap suara itu terdengar jelas.
__ADS_1
Dan benar saja, rupanya kekuatan Aidan sama persis seperti Ayah nya, yang tak pernah merasa lelah. Yang selalu meminta lagi dan lagi.
Hingga air kental kenikmatan itu mengalir deras ke dalam rahim Elsa. "Terimakasih sayang, sudah menjadikan aku orang yang pertama menyentuh tubuh mu. Semoga akulah yang akan menjadi pertama dan terakhir dalam hidupmu," jelas Aidan, yang merasa sangat bahagia. menjadi laki-laki yang sangat beruntung di dunia ini.