Perjalanan Cinta Kembar Empat

Perjalanan Cinta Kembar Empat
Bahagia Ara


__ADS_3

Gani sedikit terkejut, saat mendengar penjelasan dari Arin bahwa dia adalah kembar empat.


"Wahhh hebat sekali," ucap Gani.


"Hebat apa nya pak,?" jawab Arin.


"Hebat, bahwa kalian adalah kembar empat," dan ini sangat langka sekali, susah untuk mendapatkan yang ada seperti kalian ini, ucap Gani.


Tiba-tiba handphone Aidan berbunyi, dan si penelepon mengatakan, bahwa ada sedikit kejadian yang tidak mengenakan di bengkel motor.


Aidan cepat-cepat mengakhiri telepon tersebut, dan berpamitan kepada kakak dan adik nya, untuk pulang terlebih dahulu.


"Ada apa dek,?" ucap Adrian.


"Itu mas, ada sedikit masalah di bengkel," aku di pinta papah untuk segera men cek ke lokasi.aku titip Arin sama Keira ya mas, ucap Aidan.


"Iya, biar aku yang jaga mereka," nih sekalian bawa motor nya.!


"Lah terus kita pulang nya bagaimana.?"


"Tenang dek, kita bisa satu motor bonceng tiga," jawab Adrian kepada Arin.


Gani yang mendengar perdebatan mereka memberi tawaran, berninat untuk mengantarkan Arin sampai ke rumah dengan selamat.


Sedangkan Aidan yang merasa panik, cepat-cepat pergi meninggalkan mereka yang masih sedikit berdebat.


Dan akhirnya Arin menyetujui tawaran dari pak guru tersebut.


Sedangkan Keira sudah merasa sangat bahagia, sebab ini lah yang dia inginkan bisa berduaan bersama Adrian dan pulangnya juga bisa bersama Adrian lagi.


"Kak Adrian temanin aku ke sana yuk,!" ajak Keira kepada Adrian.


"Dek, mas tinggal sebentar tidak apa-apa kan,?" mas maun temanin Keira kesana dulu, ucap Adrian.


Iya tidak apa-apa, temanin saja Keira dulu.!"


Setelah kepergian Adrian dan Keira.


Arin di ajak Gani untuk pergi dimana anak nya yang sedang bermain.


Terlihat jelas di mata Arin, jika sosok putri kecil pak Gani sangat terlihat bahagia walaupun hanya sekedar permainan biasa saja.


"Bapak berduaan saja.?"


"Iya, tapi sekarang bertiga."


Arin yang mendengar jawaban dari Gani, merasa sedikit malu.


Sebab mereka seperti sepasang kekasih yang sedang menjaga anak mereka.


'OMG, apa gue mimpi ya, sekarang bisa sedekat ini dengan pak Gani, terus nanti pulang di anter lagi,' berasa seperti sudah menikah, batin Arin.


"Sayang coba sini dulu,!" ucap Gani kepada anak nya.


"Iya ayah, ada apa,?" ucap Ara dengan suara khas celoteh anak kecil.


"Kenalin dulu ini," ucapan Gani terpotong saat Ara menjawab terlebih dahulu.


"Ini ibu baru Ara ya,?"


Arin dan Gani sama-sama di buat bingung dengan jawaban dari Ara.


Entah kenapa Arin dan Gani, tiba-tiba menjadi kelu dan mulut mereka menjadi tidak bisa menjelaskan.


"A-Ara sayang, dengerin dulu penjelasan ayah ya,!"


"Yeyyyyyyy ibu baru, ibu baru," ucap Ara tertawa sambil lompat-lompat.

__ADS_1


Sedangkan Arin, sangat merasa bingung.


Entah ini mimpi atau nyata, namun hati nya tiba-tiba sangat bahagia.


'Huhhhh aku berharap semua nya tidak akan cepat berlalu,' batin Arin.


"Heiii adik manis, coba deh lihat kakak,!" ucap Arin.


"Ko kakak sih, kan mama Ara.!"


Muka Ara yang tadi nya terlihat bahagia, namun tiba-tiba kembali terlihat murung karena keinginan nya selalu di tolak.


"Turuti saja Arin,!" ucap Gani, yang merasa tidak enak hati.


"Iya sayang, ayo kita main lagi sama momy.!"


Gani di buat menjadi melongo oleh tingkah anak dan murid nya itu.


"Hore, hore, main sama momy."


Arin menemani Ara bermain wahana sarang burung.




Terlihat jelas di mata Gani, ketika melihat anak nya tersenyum bahagia.


Entah kenapa, Gani merasa kebahagiaan Ara, adalah kebahagiaan yang tidak pernah Gani temui.


Setelah memasuki wahana satu dan wahan lain-lain nya.


Kini Gani mengajak Arin dan Ara untuk mencari jajanan malam yang masih di tempat pasar malam tersebut.




"Iya sayang."


"Kamu mau apa juga, ambillah nanti saya yang bayar.!"


"Tidak pak, terimakasih."


"Jangan begitu, ambil saja."


Mau tidak mau, Arin mengambil satu sosis bakar.


Setelah semua nya di bayar Gani.


Kini mereka mencari tempat duduk, untuk mulai memakan-makanan yang mereka beli tadi.


"Ehh coba kamu rasaiin pasti enak,!" ucap Arin kepada Ara.


"Enak momy, ayah pasti juga mau momy.!"


Arin merasa bingung, entah menuruti kemauan Ara atau tidak.


"Ayo momy, ayah pasti juga mau.!"


Kini Arin dan Gani saling pandang, mereka sama-sama merasa sangat canggung.


Entah keberanian dari mana, Arin memasukkan sosis bakar tersebut ke dalam mulut Gani menggunakan tangan nya.


"Yeeee hore, hore, ayah di suapin momy," ucap Ara.


"Ara senang,?" jawab Gani.

__ADS_1


"Senang ayah."


Di lain tempat.


Adrian dan Keira, sedang asik berjalan kesana kemari.


Terkadang mereka saling melempar canda dan tawa.


"Dek, lusa kita jalan-jalan yuk,?" ucap Adrian.


"Terus aku izin nya gimana kak,?" jawab Keisa.


Adrian berpikir sebentar, mencari alasan apa agar dia dapat izin untuk jalan-jalan bersama Keira.


Setelah berpikir lama, akhirnya Adrian menemukan solusi nya, yaitu meminta izin kepada Dimas.


Ya Dimas berteman baik dengan Adrian.


Terkadang Dimas juga sering meminta bantuan Adrian untuk menjemput Keira, jika Dimas dan Lukman ada kesibukan lain.


"Nanti aku izin sama kak Dimas saja."


Dan mereka tertawa lagi bersama.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Adrian memutuskan untuk pulang dengan Keira.


Tidak lupa, Adrian menghubungi Arin untuk bertanya dimana posisi Arin sekarang.


"Assalamu Alaikum Rin," ucap Adrian.


"Wa Alaikum salam," iya mas.


"Kamu dimana dek,?" ini mas mau pulang, sudah malam.


"Mas anak pak Gani tidur di pangkuan ku," kita harus mengantarkan dia pulang dulu kerumah nya.


"Baiklah dek, mas segera kesana."


Setelah menunggu empat nenit, akhirnya Adrian dan Keira sampai di tempat, di mana ada Arin dan pak Gani.


"Maap sekali Adrian, saya merepotkan kalian," ucap pak Gani yang merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa pak, saya mengerti."


Saat Gani ingin mengambil alih Ara dari gendongan Arin.


"Biar Ara sama saya saja pak,!" kasihan nanti dia malah terbangun.


Saat di perjalanan, tidak ada yang saling bicara.


Tiba-tiba Gani membuka suara nya kepada Arin.


"Arin, maapkan Ara ya," dia baru bertemu dengan kamu sudah mulai merepotkan kamu.


"Tidak apa-apa pak, maklum lah anak kecil," saya juga senang sama anak kecil pak.


"Dia kurang kasih sayang, dia juga sangat meinginkan sosok seorang ibu."


"Kenapa bapak tidak mencari ibu buat Ara.?"


"Belum ada yang cocok Rin, sebab banyak yang menerima saya sebagai duda, namun tidak dengan anak saya."


"kalo boleh saya tau, tife bapak seperti apa.?"


"Apakah kamu mau belajar, jika sudah saya katakan?"

__ADS_1


"Ishhhh bapak, apa-apan sih," ucap Arin, sedangkan muka nya sudah kemerah-merahan seperti tomat.


__ADS_2