Perjalanan Cinta Kembar Empat

Perjalanan Cinta Kembar Empat
Isi Surat Dari Bu Rini


__ADS_3

Setelah kepergian Bu Nina, kini Pak Gani berjalan menuju dimana motor matic nya terparkir.


Tidak berniat untuk membuka surat dari Bu Rini, namun rasa penasaran yang terlalu besar mengalahkan ego nya sendiri.


Duduk di atas motor matic nya, dan membuka surat dari Bu Rini.


"Assalamu Alaikum," Pak Gani.


"Maafkan saya atas kelancangan yang berani mengirimkan surat ini kepada Bapak."


"Jujur saya sangat tersiksa menahan perasaan saya kepada Bapak."


"Saya hanya ingin Bapak mengetahui, bahwa saya sangat menyukai Bapak," dan saya ikhlas lahir batin menerima anak Bapak dan menganggap dia seperti anak kandung saya sendiri.


Gani berhenti sejenak membaca surat dari Bu Rini.


Gani mengingat kembali ucapan Bu Rini dan ucapan Arin, yang pernah Gani dengar.


#Flashback On


"Jika saya menerima Bapak dan menyayangi Bapak, maka saya juga harus adil kepada Ara," saya menyukai anak-anak Pak, jika saya tidak bisa meanggap dia sebagai anak saya, maka saya akan menyayangi nya sebagai adik saya.


"Kenapa Rin?" jawab Gani.


"Karena saya masih muda dan belum pernah merasakan memiliki anak!" tapi kalo masalah adik, dari dulu saya ingin sekali memiliki adik, jawab Arin.


#Flashback Off


Kata-kata Bu Rini dan Arin sangat berbeda.


Apalagi Gani pernah melihat secara nyata kebersamaan Arin dengan Ara, saat di pasar malam itu.


Ara sangat dekat sekali dengan Arin, bahkan Ara selalu memanggil Arin dengan sebutan Mommy.


Hal seperti itu lah yang membuat Gani menjadi yakin, bahwa Arin lah yang tepat untuk menjadi ibu sambung buat Ara.


Gani kembali membaca surat dari Bu Rini.


"Pak terimalah cinta saya, walaupun saya mengetahui bahwa Bapak sudah memiliki kekasih."


"Tolong balas perasaan dan cinta saya Pak!" saya tulus.

__ADS_1


Dan itulah pesan surat dari Bu Rini.


Gani sangat tidak mengerti dengan ucapn dari Bu Rini.


Yang tega sekali meminta Pak Gani memilih diri nya dan berpisah dengan kekasih nya.


'Enak saja, dia kira dia itu siapa yang sesuka hati mengatur hidup saya,' guman Pak Gani mengomel sendiri.


Setelah itu Pak Gani pergi dari parkiran motor, untuk segera cepat pulang ke rumah nya.


Rindu sekali dengan prinses kecil nya itu.


Setiap kali Gani pulang ke rumah, pertanyaannya selalu pada Mommy Arin.


Mungkin dalam pikirannya sekarang hanya ada nama Arin dan Arin.


Tidak beda jauh dari Bapak nya.


Dalam pikiran Gani selalu ada nama Arin, kekasih kecil nya itu yang mampu membuat hati Gani berasa jungkir balik.


'Rindu Arin,' batin Gani.


Ara berlari memeluk kedatangan Gani, menggambarkan kebahagiaannya bahwa Ara sungguh sngat bahagian, oleh kedatangan Arin yang secara tiba-tiba.


"Ayahh..........."


Ara berlari memeluk Gani.


"Hei prinses Ayah, senang sekali, kenapa sayang?" ucap Gani kepada Ara.


"Ada Mommy Ayah, Mommya ke sini bawa baju cantik buat Ara." jawab Ara.


"Wah benarkah, Mommy bawa baju cantik juga buat Ayah?" ucap Gani yang saat ini menggendong Ara dan membawa ke arah dimana saat ini Arin berada.


"No Ayah! mana mungkin Mommy bawa baju cantik buat Ayah," jawab Ara dengan nada imuet nya.


"Ah Ayah tidak percaya," coba Ayah tanya kepada Mommy, apakah Ayah juga kebagian baju cantik nya, ucap Gani.


"Hei Mommy, Ayah dapat juga gak baju cantik nya?" ucap Gani kepada Arin.


Sedangkan Arin tersenyum manis, saat mendengar sebutan kata Mommya dari mulut Gani.

__ADS_1


"No Ayah! Ara pergi sama Mommy ya ke acara nya," jawab Arin kepada Gani.


Gani memeluk erat pinggang ramping Arin, dan tangan satu nya lagi masih menggendong Ara dengan erat.


Seperti keluarga kecil yang sangat harmonis.


Inilah yang Gani impikan selama ini.


Saat pulang dari bekerja, di sambut dengan senyuman dan canda tawa anak dan istri.


Gani mencium kening Arin cukup lama.


Yang membuat Arin menjadi tersipu malu.


"Benarkah sayang, mau temani Ara pergi ke acara ulang tahun temannya?" ucap Gani yang memastikan kebenarannya kepada Arin.


"Iya Mas, setelah aku pikir-pikir lebih baik biar aku saja yang pergi bersama Ara."


"Kenapa sayang, kasih Mas alasannya!"


"Aku tidak ingin nanti di sana Mas di lirik sama ibu-ibu genit lagi!" jadi biar aku saja pergi bersama Ara.


"Oh sayang, gemas sekali Mas lihat kamu," oke lah sayang, akan Mas izin kan.


"Terimakasih Ayah," ucap Ara dan Arin bersamaan.


Arin dan Ara mencium pipi Gani dengan sayang.


"Sama-sama kesayangan nya Ayah," jawab Gani.


Tanpa mereka sadari, dari tadi ibu Gani melihat dari kejauhan.


Tangis nya pecah, melihat anak nya yang tersenyum se bahagia ini.


Tidak pernah dia lihat lagi semyum itu selama perpisahan Gani dengan Mantan istri nya dulu.


'Berikan kebahagiaan nya Tuhan!' jika memang anak itu adalah pilihannya, batin ibu Gani.



Ini sebagai contoh ya gaes, kalian bayangkan sendiri saja, saar Ara dan Arin mencium pipi Gani

__ADS_1


__ADS_2