
Hari demi hari telah terlewati namun sampai saat ini Gani belum juga menemukan siapa dalang dari semua pelaku penculikan Arin waktu itu.
Hubungan Gani dan Arin semakin hari semakin membaik walaupun mereka berdua saling berjauhan saat berada di sekolahan maupun di luar sekolah. itu semua demi mencari tahu siapa pelaku tersebut.
Tidak ada yang mencurigakan sama sekali yang membuat Gani kebingungan. "Bagaimana apakah ada seseorang yang kamu curigai?" Tanya Gani kepada Aldo teman Gani yang berada di kota.
Aldo adalah seorang Polisi yang diminta oleh Gani untuk pergi ke desa. yang bertugas sebagai pengawas dan menyelidiki siapa dalang dari penculikan Arin tersebut.
"Ya ada, aku mencurigai dua orang perempuan satu seorang guru dan satu lagi seorang murid," jawab Aldo.
"Siapa yang kamu maksud?"
Aldo menyerahkan handphonenya kepada Gani dan memperlihatkan sosok dua wanita yang sangat Gani kenali.
Gani dibuat tercengang saat melihat di foto tersebut adalah Bu Rini, dan juga Adel. "Apa mereka orang nya?" Tanya Gani yang benar-benar memastikan, jika Aldo tidak salah orang.
"Iya benar merekalah yang selama ini kita cari. mereka juga yang menyewa komplotan preman untuk menculik Arin waktu itu," jelas Aldo kepada Gani.
Dengan berat hati Gani menyerahkan semua urusan tersebut kepada Aldo biarlah pihak yang berwajib yang mengurus semuanya. "Aku serahkan semuanya kepada mu," jawab Gani.
Gani menghubungi kedua orang tua Adel, dan tak lupa memanggil Bu Rini, untuk segera ke kantor.
Jika Gani, memang benar-benar ingin melaporkan Bu Rini ke kantor polisi, maka Adel hanya bisa di skors. Karena Adel masih dibawah umur.
Bu Rini yang merasa sangat bahagia saat ada seorang murid yang mengatakan bahwa dirinya sedang ditunggu oleh Pak Gani di kantor. "Pasti Pak Gani, mau meminta maaf sudah menolak ku waktu itu. Dan Pak Gani juga akan menyatakan cinta nya, setelah memilih untuk berpisah dengan Arin," batin Bu Rini, yang tersenyum-senyum sendirian sambil berjalan ke arah menuju ruangan kantor.
Saat Bu Rini masuk, dan saat itu pula semua mata tertuju padanya. Disana bukan saja para guru-guru, melainkan orang tua Adel, orang tua Arin, dan Dua orang polisi, yang menatap tajam kearah Bu Rini.
Disana juga ada Adel, yang terlihat sangat ketakutan dan badan gemetar.
__ADS_1
Terlintas seketika dalam pikiran Bu Rini, ketika dia dan Adel, berencana menculik Arin, agar bisa memberi perhitungan karena merebut Gani dari mereka berdua.
"Ada apa ini? Kenapa kalian menatap saya seperti itu?" Tanya Bu Rini, kepada semua orang yang berada disana.
Tiba-tiba tanpa dugaan semua orang Lisa mendekat kearah Bu Rini dan "Plakkkkkk.. plakkkk. Ini hukuman karena berani-beraninya menculik anak saya! Kamu pikir, dengan menculik Arin, anda bisa menang dan membuat apa yang anda inginkan bisa tercapai," ucap Lisa, yang sangat geram dengan sikap Bu Rini, yang sangat keterlaluan.
Adi menghampiri Lisa, dan melerai pertengkarannya. Agar berhenti dan jangan main hakim sendiri. "Sudah sayang, biarkan polisi yang bertindak! Jangan pernah kotori tanganmu demi wanita yang tidak memiliki perasaan," ucap Adi, yang menatap tajam kearah Bu Rini, dan kembali menatap wajah Adel.
"Aku kesal sama dia Mas, dia seorang wanita dan seorang guru! Bagaimana bisa berpikir seperti itu? Seharusnya dia memberi pelajaran baik, bukan malah memberikan contoh yang buruk kepada anak-anak. Jangan kau pikir dengan kejadian seperti ini bisa membuat Pak Gani menyukaimu Bu Guru!" Ucap Lisa, yang mulai tersulut emosi.
"Kau tidak pernah berada di posisi ku Bu Lisa! Jadi kau gampang berucap seperti itu. Bagaimana jika kau berada di posisi ku? Apakah kau bisa bersikap adil dan dewasa?" Jawab Bu Rini, yang merasa tertantang dengan ucapan Lisa.
"Aku tak se**dohmu Bu Rini, yang bisa menghalalkan cara tanpa berpikir terlebih dahulu!" Jelas Lisa.
"Sudah Bu Rini, Bu Lisa! Biar Pak Gani yang menjelaskan semuanya," ucap Aldo.
Pak Gani juga meminta maaf, ikhlas jika memang dirinya harus dikeluarkan dari sekolah. Karena sikapnya yang tidak terpuji.
Namun berkat kejujuran Pak Gani, pihak sekolah bisa memaklumi masalah percintaan Guru dan Murid tersebut. Asalkan jangan melampaui batas, dan masih dalam hal yang wajar.
"Saya sungguh sangat kecewa dengan sikap kalian. Apakah seperti ini sikap Guru kepada Murid? Seharusnya kalian bisa bersikap dewasa untuk menyelesaikan semua masalah, bukan seperti ini," jelas Pak Gani.
"Pak Gani, aku seperti ini sangat mencintaimu! Jika saja saat itu Pak Gani, menerima cinta ku, dan tidak menolak. Aku tidak bakalan seperti ini Pak," jawab Bu Rini..
"Bu Rini, kenapa seperti itu? Bukankah bu Rini bilang mau membantuku untuk mendapatkan Pak Gani, jika aku mau membantu Ibu, untuk menculik Arin," jelas Adel, yang merasa tidak terima jika kenyataannya dirinya hanya dibohongi dan menjadi alat, agar Pak Gani mau dengan Bu Rini.
"Maafkan saya Adel, saya sangat mencintai Pak Gani. Jadi saya hanya bisa memanfaatkan mu, agar bisa membantu saya untuk memisahkan Arin dengan Pak Gani," jawab Bu Rini, yang menyesal jika begini jadinya.
***
__ADS_1
Setelah sama-sama saling menyatakan cinta, dan menjadi seutuhnya istri Aidan. Kini Elsa, semakin merasa yakin jika tidak ada perempuan lain yang bisa mendapatkan Aidan, selain dirinya.
"Tumben bangun pagi-pagi sekali?" Tanya Aidan kepada Elsa, yang saat ini sedang berada di dapur.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bangun pagi. Soalnya gerah banget," jawab Elsa.
"Mau ikut kerumah Ibu? Aku sudah lama tidak kesana dan bermain bersama saudara ku," tanya Aidan.
"Boleh, tapi setelah aku beres-beres rumah ya. Soalnya aku tidak enak jika rumah dalam keadaan berantakan," jawab Elsa.
"Boleh, asalkan aku diberi jatah lagi," ucap Aidan, yang menaik turunkan Alis nya.
"Aidan, apa kamu tidak merasa puas? Semalaman penuh kamu menggempur ku, dan sekarang kamu mau minta lagi?" Tanya Elsa.
"Ya plisss sekali saja, aku mau lagi," jawab Aidan yang terlihat sedih.
Tanpa menunggu persetujuan dari Elsa. Aidan langsung mengangkat tubuh Elsa dan membawanya langsung kedalam kamar.
"Aidan, lepaskan aku! Aku malu jika dilihat ibu," ucap Elsa, yang bersembunyi di Dada bidang Aidan.
"Jangan malu, kita sudah suami, istri," jawab Aidan, yang langsung melepas semua pakaian mereka tanpa ada tersisa.
Hingga pergumulan panas terjadi, lagi dan lagi. Yang katanya sebentar kini menjadi berjam-jam lamanya.
"Aidan aku lemas sekali," rengek Elsa, yang sudah memelas untuk meminta berhenti.
"Panggil aku sayang! Dan tahanlah sebentar ini sudah mau keluar," jawab Aidan, yang mempercepat ritme nya, hingga tak lama cairan bening dan kental tersebut menyembur penuh kedalam ra*him Elsa.
"Terimakasih sayang," ucap Aidan, yang langsung mencium dan memeluk erat tubuh Elsa, yang sama-sama dalam keadaan tanpa sehelai benang.
__ADS_1