
Setelah Arin tersadar dari obat bius yang diberikan oleh si penculik. Arin merasakan kepalanya sangat pusing, bahkan kesadaran Arin masih setengah-setengah.
"Aku ada dimana ini? Kenapa kepala ku sangat pusing sekali," batin Arin, yang masih memiliki setengah kesadaran.
Tiba-tiba pintu terbuka lebar, ada seseorang masuk yang membuat Arin sedikit merasakan ketakutan. Apalagi tidak ada handphone di dalam saku Arin, sehingga sulit untuk menghubungi seseorang. "Apa kau sudah sadar? Jangan coba-coba untuk melarikan diri!" Ucap seseorang yang tidak Arin kenali.
"Siapa kamu? Kenapa aku ada disini?" Ucap Arin, dengan suara lemah nya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku! Nanti kamu akan mengetahui setelah seseorang yang memerintahkan saya untuk menculik kamu," jawab seseorang yang membuat Arin sadar, bahwa saat ini dirinya sedang diculik dan dalam keadaan tidak aman.
Dalam keadaan seperti ini Arin hanya teringat kepada kekasih tua nya itu. "Pak Gani tolong aku, aku takut disini Pak, tolong aku," batin Arin yang berharap jika saat ini Gani mencari keberadaan dirinya.
"Apa salah saya? Kenapa kamu tega diperintah untuk menculik saya?" Tanya Arin, yang membuat si penculik merasa geram dengan pertanyaan dari Arin.
"DIAM KAMU! Jangan membuat saya semakin bertambah pusing," ucap penculik tersebut dan segera pergi meninggalkan Arin.
__ADS_1
***
Setelah membersihkan tubuhnya, Gani dengan cepat pergi ke arah dimana saat ini handphone Gani sedang berbunyi. Saat Gani melihat layar handphone nya, tidak ada nama dari si pemanggil.
Namun nomer itu membuat Gani semakin merasa penasaran, sehingga Gani dengan cepat mengangkat sambungan telepon tersebut. "Halo ini siapa?" Tanya Gani.
"Jauhi Arin! Kalau kamu ingin dirinya selamat," ucap seseorang yang dibalik penelepon tersebut.
Deggg… jantung Gani berdebar sangat cepat. Mendengar seseorang yang mengancam dirinya dan meminta untuk menjauhi orang yang sangat Gani sayang.
"Tinggalkan Arin! Dan jangan pernah memiliki hubungan apa-apa lagi dengan dirinya," ucap seseorang tersebut dan setelah itu langsung mematikan sambungan telepon.
Wajah Gani terlihat sangat pucat, saat mendengar jika kekasih kecil nya itu dalam keadaan bahaya. "Dimana kamu sayang, tolong beri Mas petunjuk," ucap Gani, dan setelah itu Gani mencoba untuk menghubungi orang tua Arin. siapa tau itu hanya ancaman dari orang-orang iseng.
Setelah sambungan telepon terhubung, Gani mendengar jika saat ini dirumah Arin sedang dalam keadaan tidak baik-baik. "Assalamualaikum Pak, maaf saya mau bertanya apakah Arin sedang ada di rumah?" Tanya Gani dengan nada pelan, takutnya orang tua Arin, akan mengira ada apa-apa.
__ADS_1
"Pak Gani, tolong kami. Dari tadi siang Arin belum kembali pulang, kami takut jika terjadi sesuatu kepada anak kami," ucap Adi, yang terdengar sangat cemas.
Deggg, Gani kembali terkejut. Berarti memang benar jika saat ini Arin dalam keadaan bahaya.
"Saya juga sedang mencari Arin Pak, ada tugas sekolah yang lupa saya berikan kepada Arin. Jika sampai saat ini Arin juga belum pulang, marilah kita cari bersama-sama Pak," ucap Gani, yang sudah merasa tidak karuan dengan perasaannya.
"Baik Pak Gani, saya tunggu di rumah," jawab Adi.
Setelah sambungan telepon terputus dengan cepat Gani langsung mengambil kunci motor untuk segera menuju ke rumah Arin.
Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Gani sampai di kediaman rumah Adi Prasetyo, di mana saat itu sudah ada banyak orang yang menunggu kedatangannya di luar rumah.
Gani tidak mungkin mengatakannya jika saat ini Arin sedang diculik. dan penculik tersebut menginginkan dirinya untuk berpisah dengan Arin.
Namun Gani juga merasa tidak tega saat melihat keluarga Arin dengan wajah yang sangat cemas menunggu kedatangan Arin.
__ADS_1